
Setelah berbelanja di satu toko, dan waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Steve mengajak kami untuk makan di sebuah restoran Jepang, yang menyediakan ramen yang membuat aku bisa menghabiskan 2 mangkuk dalam sekali makan, apa lagi saat hamil seperti ini.
Saat aku berjalan di sebelah Steve dan mbak Sari berjalan di belakangku, membantu membawa tasku, kami dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilku.
“Hai Rheyna..” Sapa orang itu padaku, saat aku sedang menunjuk ke arah sebuah toko baju, pada Steve, sontak kami sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
“Eh mbak Lila, apa kabar?” Yang menyapaku ternyata mbak Lila, istri mas Arlo.
“Baik Rhey, kamu apa kabar? Wah udah hamil aja nih? Berapa bulan?” Tanyanya dengan nada menyelidik dan menyindir.
“Alhamdulillah mbak, tujuh bulan mbak.” Aku menjawab dengan tersenyum.
“Ini suami kamu?” Tanya mbak Lila seraya memandang Steve dengan pandangan yang aneh, aku hanya mengangguk saja. “Gak dikenalin ke aku Rhey?”
“Owh iya mbak maaf sampai lupa, ini Steve suami saya mbak.” “Sayang ini mbak Lila istri mas Arlo.” Aku memberitahu Steve, dan Steve hanya mengangguk dan tersenyum saja.
“Pak Arlo tidak ikut bu?” Steve mencoba mencari tahu apa ada mas Arlo disekitar kami.
“Ikut kok, tadi lagi ke toilet. Paling bentar lagi kesini. Pak Steve kenal suami saya?” Tanya mbak Lila menyelidik.
“Sempat jadi rekan bisnis saja.” Jawab Steve singkat. “Baby katanya udah lapar, yuk makan dulu sayang.” Steve mengingatkanku untuk menghentikan percakapan yang berisi basa-basi dengan istri mas Arlo, dan tak lupa dia membelai perutku, menunjukkan bahwa dia sangat menyayangi ku.
“Owh iya sayang aku sampai lupa.” Aku tersenyum pada Steve. “Mbak maaf kami duluan ya.” Aku berpamitan ada mbak Lila karena aku pun malas bertemu dengan mas Arlo.
Aku dan Steve berlalu menuju restoran Jepang yang aku inginkan. Kami duduk dan memesan beberapa menu.
“Baby, itu istri Arlo kamu kenal udah lama?” Tanya Steve padaku.
“Kenapa sayang? Kamu naksir?” Tanyaku langsung menuduh.
“Aku? Naksir sama dia? Aduh baby aku masih bisa bedain perempuan baik-baik sama yang gampangan.” Sambil menggeleng-geleng Steve seperti tak percaya akan tuduhan yang aku lontarkan.
__ADS_1
“Maksudnya gampangan gimana sayang? Emang kamu kenal mbak Lila?” Tanyaku penasaran.
“Mangkanya jawab dulu baby, kamu kenal dia udah lama apa belum?”
“Ya sejak nikah sama yang dulu sih. Ada apa sayang?”
“Kalau aku gak salah ingat, ada temanku ya rekan bisnis juga sih, cuma sedikit dekat dulu. Dia pernah nunjukkan aku foto dia sama seorang wanita lagi dihotel gitulah, kata temanku waktu itu wanita itu simpanannya, karena dia sudah beristri, dan wanita itu akan menikah dengan seorang pengusaha gitu lah. Bahkan saat wanita itu hamil, kata temanku itu kemungkinan besar adalah anaknya, hanya saja wanita itu gak minta tanggung jawab ke temanku, jadi ya temanku santai saja. Saat itu dia bilang, selama wanita ini bersuami semua akan aman, sekalipun wanita itu hamil berkali-kali.” Steve menceriatakan padaku dan juga didengarkan oleh mbak Sari yang duduk di hadapanku. Aku langsung melotot terkejut mendengar cerita Steve.
“Ha? Yang benar aja sayang, kamu gak lagi ngarang cerita kan?”
“Ngapain ngarang cerita coba, aku juga baru ingat tadi waktu kalian ngobrol.” Jawab Steve santai.
“Terus? Sampai sekarang temenmu itu masih hubungan sama wanita itu?” Aku menjadi semakin penasaran.
“Gak tau kabarnya lagi sih, soalnya 2 tahun lalu aku udah gak ada urusan bisnis sama dia, bisnis barengnya dah selesai.” Jawab Steve santai sambil meminum ocha yang sudah disajikan beberapa saat lalu.
“Ya udah deh biarin aja, kok jadi aku yang kepo, gak ada urusannya sama aku ini.” Aku tak ambil pusing dengan urusan mas Arlo dan mbak Lila.
“Iya mending makan aja yang banyak dari pada ngurusin orang ya, biar anak papi sehat ya nak.” Steve membelai-belai perutku hingga aku kegelian dan tertawa.
Aku dan Steve mengangkat kepala kami dan menatap orang itu dengan terkejut. “Ada yang bisa di bantu pak Arlo?” Tanya Steve berusaha sesantai mungkin,sedangkan aku sudah memalingkan pandanganku pada mbak Sari.
“Apa kabar Rhey?” Tanyanya padaku, aku hanya diam dan berpura-pura tak mendengar, aku bahkan berbicara pada mbak Sari, “Kok lama ya mbak ramennya, aku sudah lapar nih.” Aku sungguh tak menghiraukan kehadiran mas Arlo.
“Saya tanyakan dulu ya non.” Aku mengangguk pada mbak Sari, kemudian mengeluarkan ponselku dan memainkannya, membuka apapun yang entah aku pun tak memahaminya, aku hanya tak ingin berbincang2 dengannya.
“Rhey?” Sekali lagi mas Arlo mencoba untuk membuat aku menatapnya, sayangnya itu tak berhasil.
“Baby?” Panggil Steve yang langsung aku potong, “Sayang aku laper banget, Junior juga udah nendang-nendang nih.” Aku kembali menarik tangan Steve dan meletakkannya di atas perutku, supaya dia merasakan pergerakan bayi didalam kandunganku.
“Wah iya bener dia udah laper ya nak, bentar ya.”
__ADS_1
“Maaf pak Arlo, sepertinya istri sayang sedang tidak ingin di ganggu, bisa tolong bapak tinggalkan kami?” Steve menjaga kesopanannya karena kami sedang di tempat umum, dan Steve tidak suka mencari keributan.
“Biarkan aku berbicara dengannya dulu.” Paksa mas Arlo.
“Tolong jangan memaksa pak, jangan mencari keributan di tempat ramai seperti ini.” Jawab Steve yang sedang meredam amarahnya.
“Apa urusanmu?” Jawab mas Arlo membentak Steve.
“Urusan saya karena kamu mau berbicara dengan istri saya, yang bahkan dia sendiri menolak untuk berbicara.” Jawab Steve mulai emosi.
“Anak siapa yang kamu kandung Rhey?” Tanyanya yang seperti mencurigaiku.
“Pertanyaan macam apa ini? Kamu gak sopan banget ngomong sama istri ku.” Steve sudah tidak sabar lagi mendengar kata-kata mas Arlo.
“Anak siapa itu Rheyna Aurora?” Tanya lagi padaku, yang tak aku hiraukan.
“Anak ku, karena dia adalah istriku.” Jawab Steve.
“Kita lihat saja nanti, biar waktu yang membuktikan.” Jawab mas Arlo, kemudian pergi meninggalkan kami.
“Mbak tolong bilang kepelayan, makannya dibungkus aja ya.” Steve memberi instruksi pada mbak Sari dan jawab anggukan dengan mbak Sari.
“Gak usah mbak, aku mau makan disini aja. Boleh kan sayang?” Aku mencegah mbak Sari.
“Kamu gak pa pa? Gak lebih baik kita pindah tempat? Keluar dari mall ini gitu.” Steve meyakinkan aku untuk meninggalkan tempat ini.
“Gak mau, aku mau makan disini aja. Aku juga belum belanja yang lainnya.” Tolak ku lagi.
“Ya udah kalau memang itu yang kamu mau sayang.”
Dari kejauhan aku tahu bahwa ada yang sedang memperhatikanku, jika aku keluar dari tempat ini, maka dia akan merasa aku terpengaruh dengan kata-katanya..
__ADS_1
Bersambung..
Maaf ya reader di episode sebelumnya ada typo, mau nulis papi jadi papa. Maapkan author yang mulai mengantuk karena kekurangan kopi, boleh bagi kopinya ya hehehehe….