Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Terulang Kembali


__ADS_3

Ketika aku sampai di kantor mas Arlo dan memarkirkan mobilku dengan perasaan was-was karena takut Bagas masih berada di kantor. Aku turun dari mobil dan mengedarkan pandanganku ke sekitar yang ternyata sudah sangat sepi, padahal ini baru 35 menit berlalu dari jam pulang kantor ini.


Saat aku berjalan menuju lobby tiba-tiba aku di kaget dengan suara orang memanggilku,


“Non Rheyna” kata suara lelaki itu


Aku membalikkan badanku “ Eh pak Aman, saya kira siapa pak hehehe” kataku sambil tersenyum


“Pak Bagas nya sudah pulang kok non” kata pak Aman kemudian, yang hanya aku jawab dengan ber’hehehe’ ria


“Non mau ketemu pak Arlo kan? Mari saya antar non, biar gak di tanya-tanya sama satpam”


“Owh iya ayo pak” kataku sambil mendekap map yang berisi berkas-berkasku


Kami berjalan ke arah lift,


“Sepi banget pak, semua sudah pulang ya? Kok mas Arlo belum pulang pak?” Tanyaku pada pak Aman


“Iya non sudah pulang semua, tinggal satpam jaga sama cleaning service saja yang belum. Kalau pak Arlo biasanya kalau lembur gini ada berkas-berkas yag perlu dipelajari lagi jadi pak Arlo butuh waktu untuk lebih memahami” kata pak Aman menjelaskan sampai kami masuk ke dalam lift dan pak Aman menekan tombol lantai tempat mas Arlo


“Owh gitu, emang sering lembur ya pak?” Tanyaku kembali


“Ya biasanya sih sebulan 2kali lah non” kata pak Aman


Ting..


Lift sudah sampai dilantai yang dituju, pak Aman mempersilahkan aku keluar dari lift, berjalan ke arah satu ruangan di ujung yang terlihat masih terang.


Tok tok tok…


“Iya masuk” jawab orang yang berada di dalam


“Permisi pak, ini ada non Rheyna” kata pak Aman saat sudah membuka pintu


“Ow masuk sini Rhey, kamu sudah bawa semua berkasnya kan?” Tanya nya to the point


“Sudah ini mas” aku menjawab sambil menyodorkan berkas dari arah depan pintu


“Ok, duduk situ dulu Rhey, bentar ya aku selesaikan kirim email dulu” katanya tanpa melihatku dan masih fokus ke arah komputer didepannya


“Pak saya permisi dulu” kata pak Aman hendak undur diri

__ADS_1


“Pak Aman, kunci mobilnya tinggal disitu aja nanti biar saya pulang sendiri gak pa pa, pak Aman pulang dulu aja” katanya pada pak Aman


“Baik pak” jawab pak Aman sambil meletakkan kunci mobil pada meja ruang tamu di dekat sofa yang aku duduki, kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan kantor mas Arlo


“Kamu sudah sholat maghrib Rhey?” Tanyanya masih tetap dengan tanpa melihatku


“Belum mas, kan tadi masih di jalan waktu maghrib” kataku mengingatkan


“Sholat dulu sana, ada mukenah juga kok disana” tunjuknya pada satu pintu yang tak jauh dari tempatnya duduk


“Nanti aja mas sholat dirumah” kataku menolak


“Sholat kok ditunda-tunda Rhey, nanti rejekinya ditunda juga low” kata mas Arlo mengingatkan


“Eh iya deh aku sholat sekarang” kataku beranjak berdiri, meninggalkan berkas dan tasku di atas meja tamu dan berjalan menuju pintu yang di tunjukkan mas Arlo


Aku membuka pintu itu, ada tempat tidur yang tak terlalu besar, ada lemari dan beberapa jas serta sepatu yang tertata rapih disana, didepan tempat tidur ada sajadah yang sudah di gelar, dan ada satu pintu lagi yang saat aku buka ternyata kamar mandi. Aku melepas flat shoes ku di depan pintu masuk kamar itu, kemudian ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu aku menunaikan sholat 3 rakaat ku.


Setelah selesai sholat aku kembali melipat mukenah dan menaruhnya kembali dia atas tempat tidur, dan membiarkan sajadah itu tetap terbuka seperti semula. Aku memakai sepatuku kembali dan sedikit merapihkan rambutku, kemudian aku keluar dari ruangan itu.


Mas Arlo menatapku ketika aku membuka pintu kamar itu,


“Sudah selesai sholatnya?” Tanyanya sambil tersenyum dan hanya aku jawab dengan anggukan kepala


“Iya mas” jawabku ragu-ragu


“Tunggu sebentar aku ambilkan kursi dulu biar kamu gak capek” katanya sambil berdiri dan berjalan ke arah seberang mejanya, mengangkat satu kursi untuk aku duduki disebelahnya


“Nah sini duduk sini, biar aku jelaskan” katanya sambil menepuk kursi yang berada di sebelahnya


Dengan ragu-ragu aku berjalan mendekat,


“Aduh kok takut-takut gitu sih, aku gak gigit juga” katanya sedikit menarik tanganku untuk duduk karena aku terlihat ragu-ragu


“Ini berkasnya kamu baca dulu, kalau ada yang kamu gak tau tanyakan ke aku” katanya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas untuk aku baca


Aku mulai membaca satu persatu, lembar demi lembar aku baca,


“Mas, aku gak punya bukti perselingkuhannya, bagaimana kalau dia menolak?” Tanyaku ragu


“Tenang aja, aku sudah siapkan semua buktinya kok” jawabnya enteng

__ADS_1


“Ha? Kok bisa?” Aku terkejut karena mas Arlo lebih siap bukti-bukti dibanding aku


“Bisa dong, kalau kamu sudah paham kami bisa tanda tangan di tempat yang sudah aku kasi tanda itu”


“Iya mas, boleh pinjam pena nya mas?” Tanyaku karena tak siap pena dari rumah


“Nih, hutang ya” jawabnya sambil cengengesan


“Dih pelit banget, cuma tinta juga” jawabku sewot, tetapi candaannya membuat aku tak lagi tegang dan kaku kayak kanebo kering


Aku mulai menandatangani beberapa lembar yang bertanda untuk aku tandatangani,


“Coba dichek mas, apa ada yang kelewatan aku tanda tangani?” Aku menyerahkan berkas itu padanya, dia terima dan mulai memeriksanya,


“Okey good udah lengkap semua, besok pagi biar di proses pak Siregar” katanya sambil menutup berkas-berkas tadi


“Kalau gitu aku pulang dulu ya mas, terima kasih suah di bantu” kataku berpamitan


Tak ada jawaban dari mas Arlo, dia hanya memandangku yang membuat jantungku kembali berdetak kencang. Dia mememutar kursiku kesamping agar bisa berhadapan dengannya, mendekatkan wajahnya padaku,


“Mas…..” aku berusaha menghindarinya dengan memundurkan kepalaku,


“Sssttttt…” katanya sambil menempelkan telunjuknya di bibirku, menyuruhku untuk diam sejenak


“Tetaplah disini sebentar saja, aku selalu merindukanmu” ucapnya lagi


Melepaskan jarinya dari bibirku, mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, jantungku semakin berdetak kencang, cup sekali lagi dia menciumku dengan lembut, membelai pipiku membuat aku kembali terbuai olehnya, memejamkan mataku menikmati setiap rasa yang kembali hadir.


Dia menarik tanganku untuk lebih mendekat ke arahnya. Aku mengalungkan tanganku di lehernya, dengan posisi aku didepannya setengah membungkuk karena dia yang duduk. Dia menarik pinggangku dan mendudukanku di pangkuannya, dengan posisi kakiku berada disamping kirinya. Dengan ciuman yang semakin menggebu, aku meraskan ada sesuatu yang mengeras di dekat pahaku, seperti meronta ingin dikeluarkan tetapi aku pura-pura tak tahu dan meneruskan cumbuan kami.


Krukk kruukk


Suara perutku membuat kami menghentikan cumbuan itu, dan kemudian aku tertawa terbahak-bahak karena kini perutku yang tak tahu malu itu memberontak minta diisi makanan, dia pun ikut tertawa terbahak,


“Yuk kita makan, kamu mau makan apa?” Tanyanya sambil membelai tanganku mesra


“Ikan bakar yuk?” Kataku untuk mengusir rasa maluku, dan hendak beranjak dari pangkuannya, tetapi dia menahannya


“Give me one kiss” katanya sambil menunjuk pipinya,


Aku memajukan badanku mendekat ke wajahnya untuk mencium pipinya, saat bibirku hendak menyentuh pipinya, tiba-tiba dia menolehkan wajahnya menghadap aku, sehingga yang tercium bukan pipinya tetapi bibirnya,

__ADS_1


“I Love you” katanya kemudian sambil tersenyum, membuat aku kembali malu


Bersambung…….


__ADS_2