
“Masa aku bohongan sayang” jawabnya sambil menyingkirkan rambut yang tergerai di pundakku, aku kembali membaca kata demi kata yang tertulis di lembar kertas itu, tetapi dikejutkan dengan kecupan lembut di leherku dan disusul dengan bisikan “aku mencintaimu” di telingaku.
Seketika aku menegang, ada gelenyar aneh di dadaku, aku terdiam sejenak dan terpaku dengan kata-kata itu. Namun tak lama aku tersadar dengan posisiku dan berdiri untuk berpindah tempat duduk,
“Kemarin mbak Sari bikin kelepon cake enak low mas, mau nyoba?” tawarku mengalihkan gugupku
“Pengalihan nih? Kok gugup gitu” katanya dengan tersenyum menggodaku
“Lagi ada citan berkeliaran siang bolong” jawabku acuh “mau gak?” Tanyaku kembali
“Boleh deh, tapi suapin ya” dengan badan kekarnya sepertinya kurang cocok dia memintaku untuk menyuapinya hahaha
“Emang situ bayi?” Tanyaku sinis, dan berjalan menuju kulkas untuk mengambilkan sepotong kelepon cake
“Mau dong jadi bayimu” mulai ngacoh deh nih laki orang
“Nih makan dulu, aku mau ke mbak Sari dulu sebentar” menyodorkan lepek yang berisi cake dan berlalu pergi ke kamar mbak Sari
“Mbak Sari” panggilku girang seraya mengangkat map yang berisi AKTA CERAI ku
“Apa itu non?” Tanya mbak Sari melihat map yang masih aku pegang
“Ini mbak” aku membuka map dan mendekatkan ke depan mbak Sari “aku udah resmi berpisah dari laki-laki yang tak menganggapku ada itu mbak” lanjutku seperti terbebas dari belenggu
“Alhadulillah non, berbahagialah non yakin dan percaya didean akan ada masa depan yang lebih cerah, jangan mengulang kesalahan yang sama, bahagiakan diri non dulu baru nanti sekeliling non akan ikut bahagia, kecuali yang gak suka non bahagia” nampak jelas terlihat raut wajah mbak Sari yang ikut berseri dengan surat keputusan di tanganku
Ponsel mbak Sari berdenting tanda ada pesan masuk, diliriknya pesan itu tanpa dibuka kemudian pandangannya beralih padaku,
“Non saya mau minta ijin kebawah sebentar boleh?” Sambil meletakkan setrika yang ia pegang
“Mau ngapain mbak?” Selidikku
“Beli pembalut mbak, kehabisan tinggal yang saya pakai ini aja”
__ADS_1
“Pakai punya saya aja mau mbak?” Tawarku
“Pakai merek yang itu iritasi saya non” mbak Sari memberikan alasan “sebentar saja non, cuma beli di minimarket bawah situ aja kok” sambung mbak Sari
“Iya mbak gak pa pa, saya nitip youghurt yang biasanya ya mbak yg rasa strowberry”
“Siap non” mbak Sari bergegas menyambar dompet dan sweaternya
Aku kembali keruang TV dan duduk di sofa single sambil memangku laptop jadulku semasa kuliah. Mas Arlo sedang sibuk dengan ponselnya. Aku mencari-cari referensi untuk menggambar agar saat mengikuti lomba itu persiapanku sudah matang
“Non, den saya pamit kebawah sebentar” pamit mbak Sari
“Sari saya titip belikan pak Aman rokok sekalian ya” panggil mas Arlo membuat mbak Sari berhenti
“Ini uangnya, sama tolong belikan saya batagor disamping apartemen ini ya” berdiri menghampiri mbak Sari dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan
“Pak Aman nya ada dimana ya den? Terus rokoknya yang apa?” Tanya mbak Sari
“Pak Aman ada di parkiran bawah, coba kamu cari dan tanyakan dia mau rokok yang apa”
‘Duh bakal lama nih mbak Sari, nih orang ngapain sih pake nitip-nitip segala’ aku berbicara dalam hatiku. Tak ingin hanya berduaan dengannya di apartemen ini, takut terjadi hal-hal yang di inginkan eh! Maksudnya hal-hal yang tak di inginkan hahaha
“Nyari apa sih?” Tanyanya yang sudah berdiri di belakang sofa yang aku duduki
“Kepo banget deh” jawabku acuh tak memalingkan pandanganku pada layar berukuran 14 inch itu
“Ih jutek banget sih” sambil membungkukkan badannya mendekati samping kepalaku dari belakang
“Ngapan sih deket-deket” aku yang terkejut dan memiringkan badanku menjauhinya
“Mau lihat apa yang kamu cari disitu” jawabnya santai dengan pandangan yang masih tertuju pada layar laptopku
“Aduh jauhan dikit dong mas” sedikit mendorong lengan mas Arlo
__ADS_1
“Nih dah jauhan banyak nih” jawabnya sambil mundur dua langkah dibelakang sofa
“Nah gitu kan enak” jawabku sambil membenarkan posisi dudukku kembali, menaikkan kedua kakiku dan duduk bersila di atas sofa.
Saat sedang kembali berkonsentrasi tiba-tiba dia memelukku dari belakang,
“Mas lepasin, nanti” ucaapnku terpotong
“Ssstttttt” dia berbisik di telingaku dengan jari telunjuk tangan kirinya dia letakkan di depan bibirku yang membuat aku terdiam seketika
“Kalau yang mau kamu bilang nanti ada yang lihat, tenang sayang, Sari kan sudah aku suruh beli sedikit lama tadi” jawaban yang membuat aku terkejut, dengan tangannya yang membelai pipiku
“Jadiii….” Aku menolehkan kepalaku hendak marah, namun…
Cup cup cup
Tiga kecupan masing-masing di dahi, pipi dan berakhir dibibir. Aku sudah ingin mendorongnya, namun kedua tanganku di genggamnya hanya dengan satu tangan, aku mengatupkan bibirku dan menutupnya rapat-rapat, karena tak ingin semua ini berlanjut seperti yang lalu. Dia memutar tubuhnya ke arah depanku dengan tetap menempelkan bibirnya. Matanya menatapku intens seperti sedang mengatakan apa yang dia rasa. Aku menatapnya dengan marah, tetapi itu seakan tak mengusiknya.
Menutup laptopku dengan tangan kanannya, dan meletakkannya pada meja kecil disebelah sofa, sedangkan tangan kirinya masih menggenggam kedua pergelangan tanganku. Aku menggelengkan kepalaku bermaksud mengatakan ‘jangan dilanjutkan’ dan dia hanya menautkan kedua alisnya dan kemudian mengangkat-angkat kedua alisnya seperti mengatakan ‘mau apa?’.
Aku hendak menurunkan kakiku dari atas sofa namun kakinya malah di tempelkan pada depan sofa dan kakiku terkunci tak bisa bergerak. Mengangkat tanganku ke atas dan mendorongku bersandar pada sofa. Bibirnya mendorong bibirku sehingga aku menengadah. Tangan kanannya bermain pada leherku yang membuat aku semakin membulatkan mataku, dan dia semakin tersenyum dengan tatapan marahku, sedetik kemudian dia menggigit bibirku membuat aku membuka mulut untuk berteriak namun ini adalah kesalahan yang justru memberikan akses untuk dia mngabsen disana.
Aku tak sanggup menahan godaan ini, aku manusia biasa, sekuat tenaga aku melepaskan diri, tetapi semakin aku berusaha semakin aku terjebak.
Ku tatap matanya mulai tertutup menikmatinya, dan mataku seperti terhipnotis untuk mengikuti matanya dan menutup mataku. Kembali membiarkan semua terjadi entah sampai mana akan berakhir.
Dia menghentikan cumbuannya, beralih mengecup keningku dan mengatakan “Pikirkanlah semua hal yang dapat membuatmu bahagia”, kemudian beralih mengecup kedua mataku bergantian dan mengatakan “Jangan menangisi sesuatu yang tak berharga”, dan berakhir di kedua pipiku “kau tau senyum manismu itu yang membuatku jatuh cinta” dia tersenyum dan menarik lembut tanganku untuk duduk disofa panjang bersebelahan dengannya.
“Ceritakan padaku apa rencanamu kedepan?” Dengan tangan kiri yang di letakkan pada pundakku, dan tangan kanan yang membelai pipiku, membuatku sedikit canggung.
Bersambung……
...Terima kasih untuk dukungannya teman-teman semua,...
__ADS_1
...Lope Yu Pul deh ...