
Mas Arlo berdiri dan terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya. Aku jauh lebih terkejut melihat siapa sosok yang berdiri didepanku ini.
“Steve” aku dan mas Arlo berbarengan menyebutkan namanya.
“Sorry honey, harusnya bukan sekarang kejutannya, tapi gara-gara pria beristri ini jadi rusak semua rencanaku huh.” Dengan mendengus kesal Steve duduk disebelahku.
“Arlo, sampai kapan kamu akan mengganggu calon istriku? Bukankah sudah beberapa kali kamu ditolak.” Dengan sarkasnya Steve berucap tanpa mau menatap mas Arlo. Dia hanya memain-mainkan rambutku, yang aku ikat seperti ekor kuda.
“Dia hanya kekasihmu, belum resmi menjadi istrimu, dan dia masih memiliki kesempatan untuk bersamaku. Kamu takut dia akan lebih memilih aku kan jika aku terus mendekatinya?” Jawaban mas Arlo tak kalah pedasnya.
Mereka berdua masih terus berdebat yang membuat telingaku pengang, bahkan pasangan bule yang tadi berada diruangan itu pun memilih untuk pergi, entah kemana.
Aku mendengar namaku di panggil untuk segera masuk ke dalam pesawat, aku segera mengambil tas ranselku dan berdiri untuk meninggalkan mereka yang masih asik berdebat.
“Sayang” “Honey” mereka berdua sama-sama memanggil dan memegang tanganku. Steve tangan kiriku dan mas Arlo tangan kananku.
Dengan jengah aku menarik tanganku untuk lepas dari genggaman tangan mereka. “Berhentilah memanggilku dengan kata ‘sayang’, karena sekalipun aku mencintaimu mungkin, aku gak akan pernah mau bersamamu dan mengorbankan orang lain. Biarkan aku mengejar masa depanku.” Aku menghadap mas Arlo dan berkata penuh dengan kemarahan.
“Dan kamu, kamu berhutang banyak penjelasan padaku. Dan sekarang biarkan aku masuk ke dalam pesawat sebelum aku kehilangan hadiahku.” Aku menunjuk dihadapan Steve dengan amarah yang sama dengan mas Arlo. Aku beranjak meninggalkan mereka yang nampak terkejut dengan kata-kataku yang penuh dengan amarah.
Aku sudah keluar dari pintu ruang tunggu VIP, dan aku baru mendengar suara mereka memanggilku, nampaknya mereka baru tersadar dari keterkejutannya. Aku setengah berlari untuk menghindari mereka. Hingga sampai didepan pintu masuk pesawat aku disambut oleh seorang pramugari yang cantik dan ramah, aku menunjukkan tiketku, dengan terengah-engah karena berlari menghindari mereka. Pramugari itu membimbingku ke kursi kelas utama.
“Maaf bu Rheyna Aurora, seharusnya tadi ibu dijemput oleh kru kami, tetapi kru kami melaporkan bahwa ibu sedang melakukan perbincangan serius dengan suami ibu, sehingga kami memutuskan untuk memanggil ibu melalui pengeras suara agar tidak mengganggu percakapan ibu.” Pramugari itu meminta maaf dan menangkupkan tangannya didepan dada.
“Ow iya mbak gak pa pa terima kasih.” Jawabku ramah.
Pada penerbangan dengan kelas utama/first class, penumpang akan di manjakan sejak saat mulai datang di bandara biasanya, diantar ke ruang tunggu penumpang khusus, kemudian di antarkan untuk masuk kedalam pesawat. Semua pelayanan yang diberikan tentunya dengan pelayanan kelas utama.
“Jika membutuhkan sesuatu, bisa menghubungi saya Gita.” Dengan senyum ramah memperkenalkan diri.
“Baik mbak Gita, terima kasih.” Aku menjawab dan membalas senyum pramugari tersebut. Menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi yang terasa sangat berbeda. Kursi ini terasa lebih nyaman dibandingkan kursi kelas lainnya hahaha.
Aku mengeluarkan ipad dari dalam tas ranselku dan menyalakannya. Aku mengaktifkan tombol airplane, dan membuka aplikasi untukku menggambar, karena penerbangan ini memakan waktu yang cukup lama jadi aku berencana menggambar untuk mengusir kebosanan.
Aku duduk di ujung dekat dengan jendela pesawat, aku suka duduk di dekat jendela karena aku bisa melihat awan dan langit.
“Honey please maafin aku.” Steve duduk di kursi sebelahku dengan nafas yang terengah-engah.
__ADS_1
“Steve? Kok bisa disini?” Aku terkejut dengan kehadiran Steve.
Belum sempat Steve menjawab, pramugari yang bernama Gita yang melayaniku tadi menghampiri Steve.
“Mr. Aaron, welcome, how may I help you?” Tanya pramugari itu sangat ramah.
“Tidak Gita, pergilah aku akan memanggilmu jika membutuhkan sesuatu.” Steve menjawab pramugari itu tanpa menatap ke arahnya, pandangannya masih fokus ke arahku.
“Okey Aaron.” Jawab Gita dengan nada kesalnya, dan pergi meninggalkan kami.
“Kamu mengenalnya Steve? Oh maaf, Mr. Aaron maksud saya.” Aku bertanya dengan wajah penuh selidik, dan tangan yang ku lipat didepan dada.
“Aku akan menjelaskan semuanya Rhey. Tolong dengarkan penjelasanku dulu.” Wajahnya nampak sedang khawatir.
Tak berselang lama, mas Arlo ikut masuk ke dalam kabin pesawat, hanya saja duduknya berjarak 2 kursi dari tempatku dan Steve, dan dia lebih dekat dengan Steve, dari pada denganku yang di ujung jendela.
Aku hanya menatap mas Arlo sesaat, kemudian membuang mukaku tanda aku sedang marah, dan tak ingin berbicara apapun padanya.
“Jelaskan yang ingin kamu jelaskan.” Aku berkata tanpa melihat pada Steve, pandanganku hanya lurus ke arah layar di depanku.
“Jadi benar semua ini ulahmu?” Aku membulatkan mataku.
“Maafkan aku Rhey, aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Tapi aku bersumpah aku tak pernah membohongimu Rhey.”
“Kamu sadar gak sih Steve, kamu ini pria beristri, dan aku sudah sering bilang kalau aku gak mau berhubungan dengan pria beristri Steve. Kamu sama aja kayak dia.” Aku menahan amarahku hingga menitikkan air mata.
“Aku akan membuktikan ucapanmu benar atau tidak Rhey.” Steve mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang lewat video call.
“Hai honey, tumben video call?” Suara seorang wanita di sambungan telepon itu.
“I miss you so much mom.” Panggilan ini mengagetkanku.
“Me too honey. Hei kamu di pesawat? Mau kemana?” Dengan logat bule yang sedang berucap menggunakan bahasa.
“Mom, kalau aku pulang membawakanmu calon istriku, apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan langsung menikahkanmu sayang.”
__ADS_1
“Benarkah mom?”
“Kamu akan membawa calon istrimu kesini? Kenapa tak pernah memberitahuku kalau sudah memiliki kekasih?”
“Aku baru berhasil membujuknya mom.”
“Lihatlah mom, calon menantumu sedang marah padaku.” Steve mengarahkan ponselnya menghadap padaku, dan aku otomatis menoleh.
“Oh Sayang, manis sekali menantuku. Apa yang kamu perbuat hingga dia marah padamu?”
“Dia berpikir aku sudah memiliki istri mom, jelaskan padanya mom, dia wanita satu-satunya yang aku cintai mom.” Aku malu dibuatnya.
“Apa jadi hanya dia yang kamu cintai, dan aku tak kamu cintai anak nakal?”
“Mom, dia wanita yang aku cintai setelah dirimu tentunya.” Ngeles terus kayak bajaj nih orang.
“Berikan ponselmu padanya, aku yang akan merayunya untukmu.” Steve memberikan ponselnya padaku, walaupun aku menolak tapi Steve tetap menghadapkan ponselnya di hadapanku.
“Hai gadis manis, siapa namamu sayang?”
“Sa-ya Rheyna tante.” Wanita ini mirip dengan wanita yang aku lihat di ponsel Steve waktu itu, hanya saja wanita ini memiliki beberapa kerutan di wajahnya.
“Okey sampai bertemu disini sayang. Yakin dan percayalah anak nakal itu belum pernah menikah, karena baru ini dia membawa seorang wanita menemuiku dan papa nya.” Dengan senyuman yang sangat cantik di usia nya, membuatku ikut tersenyum dan mengangguk.
“Steve berbohong tante, tidak seperti yang Steve bilang.” Aku sedikit menyangkal, tetapi Steve memalingkan ponselnya kembali menghadapnya.
“Mom aku tutup dulu ya, karena pesawat akan segera take off.”
“Okey honey, take care.” Sambungan voice call pun berakhir.
Bersambung..
...Nah mulai terungkap sedikit-sedikit nih 🤭...
^^^Hayo siapa yang masih setia sama Author dan Steve? Eh Steve dan Rheyna maksudnya 🤪^^^
...Kasi Steve vote ya gaes, like, komen dan gift nya juga boleh 😘...
__ADS_1