Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Mendadak


__ADS_3

3 Tahun Kemudian


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, aku disibukan dengan mengurus ke 3 buah hatiku, dan Steve tetap setia mendampingiku, membantuku mengurus ke 3 anak kami sepulangnya dari bekerja.


“Baby?” Steve memanggilku yang sedang berganti pakaian.


“Ya sayang, sebentar ya.” Aku menjawab Steve dan bergegas mengganti pakaianku.


“Sini deh, kita ngobrol-ngobrol bentar ya sebelum tidur.” Kami memang sering berbicara saat akan tidur malam hari, menceritakan semua aktivitas selama seharian ini.


“Kan biasanya juga gitu sayang.” Jawabku dengan berjalan menuju tempat tidur kami.


“Hehehe” Steve hanya sediki tertawa menimpali ucapanku.


“Sayang, kamu sakit? Kok pucet gitu?” Aku menatap wajah Steve yang terlihat memucat itu.


“Gak kok baby.” Steve menyangkal ucapanku.


“Tapi wajah kamu terlihat pucat Steve.” Aku tetap bersihkukuh dengan pendapatku, dan Steve tau jika aku sudah memnggilnya ‘Steve’ itu pasti karena aku sedang marah, atau tidak suka dengan apa yang sedang terjadi.


“Iya, iya jangan ngabek dong baby. Aku cuma lagi sakit kepala aja, nanti juga hilang sakitnya.” Steve memberikan alasan kepadaku.


“Sudah minum obat?” Steve hanya mengangguk dan tersenyum saja.


“Ya udah, kamu istirahat aja deh kalau gitu. Ngobrolnya besok aja tunggu kamu sehat dulu.”


“Aku gak pa pa sayang, kita ngobrol bentar ya.”


“Ya udah, tapi kamu sambil tiduran aja biar gak pusing.” Aku duduk di atas kasur dan menyandarkan punggungku.


“Aku tiduran disini boleh?” Steve menepuk-nepuk pahaku, dan aku mengangguk. Aku meluruskan kakiku, agar Steve dapat tidur dengan nyaman diatas kakiku.


“Apa yang mau diobrolin sih sayang?” Aku mengusap rambut Steve dan dia tersenyum sambil memejamkan matanya.


“Baby, kamu mau gak kalau kita kembali tinggal di Indonesia?”


“Ha? Indonesia?” Dan Steve mengangguk pasti dengan mata yang masih menutup. “Kenapa tiba-tiba pengen kembali ke Indonesia sayang?” Aku menatap curiga pada Steve.

__ADS_1


“Bukan tiba-tiba sih baby. Kan aku dulu pernah bilang kalau sudah saatnya kita pasti kembali ke Indonesia, dan menurutku sekaranglah waktu yang tepat. Lagian anak-anak sudah mulai besar juga.” Steve memberikan alasannya padaku.


“Tapi sayang, Junior tahun ini sudah mulai masuk sekolah. Bagaimana dengan mommy dan daddy?” Rencana Steve terlalu mendadakk untukku.


“Kita daftarkan Junior sekolah di Indonesia aja, nanti biar pak Sono yang aku suruh buat cari refrensi sekolah internasional yang dekat dengan rumah. Soal mommy sama daddy gampang itu, mereka pasti akan menyerahkan semua keputusannya di menantu kesayangannya ini.” Steve memandangku dan menoel hidungku.


“Apa ada alasan lain selain itu sayang?” Aku mencoba mencari jawaban dengan keputusan mendadak Steve.


“Alasan lainnya sih sebenernya aku baru aja memindahkan kantor pusatku di Indonesia dan itu di Surabaya baby. Aku pikir kamu pasti akan lebih bahagia jika bisa sering-sering berkunjung ke makam mama dan papa, serta Vano.”


“Oh no sayang, kenapa kamu baik banget kayak gini sih?” Aku mencubit gemas pipi Steve yang sama sekali tidak gembul.


“Karena aku sangat mencintaimu, dan yang terpenting untukku adalah kebahagiaanmu dan anak-anak.”


“I Love you so much papi.” Aku menunduk dan mengecup kening suamiku yang sangat mencintaiku.


“Love you more mami. Jadi gimana? Mau kembali ke Indonesia?” Tanyanya memastikan kembali. Aku menjawab dengan anggukan kepalaku dengan pasti.


“Oke, biar nanti aku suruh para pegawai untuk menyiapkan keperluan kita ya. Sekarang ayo kita istirahat dulu, aku mulai mengantuk sepertinya.” Steve membenarkan posisi tidurnya, dan aku ikut merebahkan tubuhku disisinya.


***


Aku jadi deg-deg an, pasalnya sudah 6 tahun aku tinggal disini, dan hanya 1x saja aku kembali ke Indonesia, itu pun sebelum twin lahir. Aku sudah merasa nyaman ditemani mommy dan daddy.


Saat selesai makan malam, kami duduk santai di ruang bermain anak-anak, sambil memperhatikan ke 3 anakku yang sedang bermain.


Mommy menghampiriku dan duduk di sofa disebelahku.


“Sudah siap kembali tinggal di Indonesia sayang?” Tanya mommy padaku.


“Entahlah mom, rasanya aneh harus jauh dari mommy dan daddy.” Jawabku dengan wajah yang sedih.


“Hei kenapa bersedih?” Tanya mommy sambil menggeser duduknya agar lebih dekat denganku, dan kemudian memelukku.


“Sayang, berkunjunglah kemari kapan pun kamu ingin. Atau kami yang akan berkunjung ke Indonesia. Jangan bersedih lagi ya.”


“Tapi, kenapa ya mom Steve kok mendadak minta pindah ke Indonesia?” Aku mencoba mencari jawaban dari mommy.

__ADS_1


“Apapun alasannya, percayalah sayang kalau Steve sangat mencintaimu dan anak-anak. Apapun yang dia lakukan, semua untuk kebahagiaan kalian.” Aku hanya mengangguk-angguk saja.


“Lagi pada ngapain nih? Hayo ngomongin aku ya?” Steve baru masuk keruang bermain anak-anak, tadi dia pamit ke ruang kerjanya sebentar.


“Ih gak lah. Sayang kamu kok pucat lagi?” Aku mengamati wajah Steve yang kembali terlihat pucat.


“Masa sih?” Steve mengusap-usap wajahnya, dan duduk disampingku, sedangkan mommy memilih bermain dengan anak-anak.


“Kamu pasti kecapean ngurusin kepindahan kita ke Indonesia ya. Jangan terlalu dipaksakan sayang, kita masih bisa tunda kepindahan kita kan.”


“Sudah beres semua kok sayang, lusa kita tinggal berangkat aja. Sesampainya disana kita bisa langsung daftarkan Junior sekolah.” Steve memelukku dan meyakinkanku bahwa dia baik-baik saja.


“Ya udah deh, pokoknya aku gak mau kalau sampai kamu sakit ya sayang.”


“Kalau aku sakit kan ada kamu yang rawat dan manjain aku. Hehehehe.” Steve nyengir dengan gombalannya.


“Aduh kok jadi manja kayak anak-anak gini ya?” Aku mencolek perut Steve.


“Kan gak pa pa baby manja sama istriku tercinta ini.” Mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepalaku.


“Papiii. Why you always kiss mami?” Tiba-tiba Junior berlari ke arahku dan Steve.


“Karena papi sangat mencintai mami kalian.” Steve membawa Junior dalam pangkuannya.


“Junior juga mencintai mami.” Jawabnya pasti, dan berpindah kepangkuanku.


“Junior bukan mencintai mami, tetapi menyayangi mami, karena Junior anak mami sama seperti Rafa dan Lea.” Steve mencoba memberikan pengertian pada Junior.


Junior memang anak yang pencemburu, dia selalu cemberut jika melihat Steve mencium atau memelukku, dan Steve selalu senang menggodanya jika sampai Junior marah, setelahnya mereka pasti akan bergulat dan tertawa bersama. Hal-hal seperti itulah yang membuat aku sangat bahagia.


Bersambung..


Hai Hai Hai, hayo pada penasaran sama Arlo ya? Hehehehe


Lagi di umpetin sama author ms Arlo nya hahaha..


Belum ya, nanti ada saatnya Arlo akan keluar kok, sabar ya tungguin Arlo nya…

__ADS_1


Maaf ya ceritanya sedikit dicepetin, soalnya biar readers tercinta gak bosen dong..


__ADS_2