Aku Lelah,Cintai Aku

Aku Lelah,Cintai Aku
Bahagia Kembali


__ADS_3

“Baby mandi yuk, terus ke rumah sakit.” Steve kembali masuk kekamar, dengan raut wajah yang tak aku pahami.


“Aku kenapa sayang? Kenapa harus kerumah sakit? Parahkah sakitku?” Aku memburu Steve dengan beberapa pertanyaan.


“Jangan khawatir sayang, hanya pengechekan biasa saja. Kenapa harus dirumah sakit? Ya karena dokter Bram gak bisa bawa alat untuk pemeriksaannya kesini. Yuk, kuat ke kamar mandi? Atau mau aku gendong aja?”


“Kuat kok, ya udah aku mandi dulu kalau gitu.” Aku segera ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk kerumah sakit.


Setelah aku selesai mandi, kini giliran Steve yang mandi, sedangkan aku sedikit merias diri, menggunakan bedak dan pelembab bibir saja, hal yang tidak merepotkan untukku.


Steve sudah selesai bersiap-siap, ia menggunakan celana jeans dan juga polo shirt saja, sedangkan aku menggunakan celana jeans dan kaos saja, aku mengelabang rambutku dan kemudian mengikatnya.


“Malu gak sayang kalau aku seperti ini?” Aku bertanya pada Steve serta menunjuk pada ujung rambut hingga kakiku.


“Kenapa harus malu?”


“Ya karena aku tidak secantik mantan pramugarimu itu.” Aku tiba-tiba teringat akan Gita, pramugari yang sempat bertemu denganku saat perjalananku ke Jerman.


“Babyyyy.. kamu berbeda, aku tak mencintai dia tapi aku mencintaimu. Apapun adanya kamu, aku mencintaimu tanpa tapi..”


“Sekarang aja ngomongnya gini, ntar kalo dah lama nikahnya malah ninggalin aku.” Aku tiba-tiba merasa insecure dengan diriku sendiri.


“Hanya Tuhan yang berhak memisahkan kita, tidak dengan manusia.” Dengan sabar Steve terus meyakinkanku. “Yuk berangkat, nanti sekalian makan di jalan aja ya? Kamu mau makan apa sayang?” Steve menarik tanganku untuk berdiri dan menggandengku untuk keluar dari kamar.


“Mbak Sari” Steve memanggil mbak Sari yang berada di dapur sedang membersihkan ikan yang baru dibelinya tadi dipasar.


“Ya tuan?” Berjalan menghampiri kami yang berada d ruang tamu.


“Mbak kami pergi dulu ya, gak usah di masakin mbak karena kami makan diluar aja, mbak masak buat mbak Sari sendiri aja.” Steve menjelaskan pada mbak Sari dan aku diam saja karena mulai kembali mual.


Aku cepat-cepat membuka kamarku lagi dan melesat menuju kamar mandi dan kembali muntah-muntah.


“Kenapa baby?” Steve yang meyusulku kekamar mandi membelai punggungku.


“Kenapa mbak Sari bau amis banget ya sayang?” Aku membasuh mulutku dan sedikit berkumur.


“Owh, mungkin mbak Sari lagi cuci ikan sayang kan dia habis belanja tadi.” Steve mengusap air yang ada di sudut bibirku dengan tisue yang dia ambil.


“Hiiii tapi baunya nyengat banget sayang.”


“Ya udah nanti aku bilang mbak Sari suruh bersihkan bau ikannya, supaya kalau kita pulang sudah gak bau lagi ya.” Steve masih dengan sabarnya menggandengku keluar kamar.


“Kamu tunggu di mobil ya sayang, biar aku yang bilang sama mbak Sari.” Aku mengambil remote mobil dan meninggalkan Steve didalam rumah.


Tak berselang lama Steve keluar dan langsung menuju mobil, yang disusul mbak Sari untuk membukakan pagar rumah kami.


“Sehat-sehat ya non.” Mbak Sari tersenyum ke arahku, aku mengangguk dan tersenyum pada mbak Sari.

__ADS_1


“Kami tinggal ya mbak.” Steve kembali berpamitan pada mbak Sari.


Sekarang masih pukul 10 pagi dan jalanan masih padat.


“Mau makan apa sayang?”


“Aku pengen bubur ayam, yang ada telur setengah matengnya itu low sayang, hhheeemm enak kayak nya.” Aku mebayangkan bubur hangat dengan telur setengah matang membuat perutku terasa lapar.


“Bubur ayam ya? Eemmm oke deh meluncur.” Dengan senyuman Steve memacu mobil sedikit lebih cepat, kearah sebuah restoran yang menyajikan berbagai menu bubur.


Steve tertegun ketika aku mampu menghabiskan 2 mangkuk bubur, sedangkan Steve hanya mampu 1 mangkuk saja.


“Mau nambah lagi baby?” Tanya Steve ketika dia melihat mangkuk bubur ke 2 ku sudah habis tak bersisa.


“Ndak sayang, aku udah kenyang.” Sambil engelus perutku yang terasa penuh dan kenyang.


“Ya udah aku bayar dulu ya.” Sambil membelai pipiku Steve beranjak menuju kasir.


Setelah selesai membayar, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit. Perut kenyang, musik klasik, dan udara sejuk adalah perpaduan yang pas untuk memejamkan mata. Tanpa sadar aku sudah tertidur.


“Sayang ayo bangun.” Steve membelai pipiku untuk membangunkanku.


“Eemmm ya sayang.” Posisiku sudah tak lagi duduk tegak, tetapi sandaran kursiku sudah pada posisi tertidur.


“Ayo, kita sudah di tunggu dokter baby.” Steve mengambil ponsel yang ia letakkan di bawah AC mobil. Aku menjawab dengan anggukan kepalaku, dan menegakkan dudukku.


Kami berjalan masuk kedalam rumah sakit, Steve selalu setia menggenggam tanganku, dan sesekali dia akan memelukku dan tersenyum padaku.


“Dokter Bram, kami sudah sampai.” Steve menghubungi dokter Bram, untuk menginfokan bahwa kami sudah sampai.


“.. .. .. ..”


“Baik, terima kasih dokter.” Steve mengakhiri sambungan telepon dengan dokter Bram.


“Sebentar ya sayang, nunggu di panggil aja kok.” Steve duduk disampingku.


Selang 15 menit, ada seorang ibu hamil keluar dari ruang dokter obgyn, aku teringat saat aku mengandung Vano, jadwal kontrol ada hal yang paling aku sukai kala itu, karena takjub ada makhluk yang tumbuh di rahimku, dan membuat aku jatuh cinta meskipun aku belum pernah mengenalnya.


“Jangan bersedih, akan ada saat nya kamu kembali merasakannya.” Steve menghapus air mata yang tanpa aku sadari sudah mengalir dipipiku.


“Nyonya Rheyna Aurora.” Suara suster memanggil namaku.


“Ayo baby, sudah waktunya kamu yang masuk nih.” Steve berdiri dan membimbingku untuk jalan dan masuk kepintu tempat ibu hamil tadi keluar.


“Sayanggg.. kok kita kesini?” Pertanyaanku hanya dijawab dengan senyuman oleh Steve.


“Selamat siang dokter.” Steve menyapa dokter wanita yang terlihat sangat cantik itu.

__ADS_1


“Selamat siang pak, bu. Silahkan.” Dokter itu mempersilahkan kami untuk duduk terlebih dahulu. “Gimana-gimana? Apa yang bisa saya bantu.” Dokter cantik itu bertanya sambil tersenyum.


‘Ngapain nih dokter senyum-senyum sama suamiku? Minta dipakein kaca mata kuda kali ya.’ Aku menggerutu dalam hatiku karena melihat sikap dokter itu pada Steve.


“Istri saya dirujuk kesini oleh dokter Bram, kata dokter Bram beliau sudah memberi tahukan dokter perihal kondisi istri saya.” Steve menjelaskan pada dokter tersebut, sedangkan aku hanya memperhatikan gerak gerik dokter cantik itu.


“Baik, ibu Rheyna silahkan berbaring disana ya. Tolong di bantu ya sus bu Rheyna nya.” Menunjuk pada sebuah tempat tidur pasien, yang disebelahnya terdapat alat USG.


Aku merebahkan tubuhku pada tempat tidur yang beralaskan perlak berwarna cokelat tersebut.


“Haid terakhir kapan ya bu?” Dokter itu sudah berada di depan alat USG dan sedang mengetikkan sesuatu.


“Sekitar enam minggu yang lalu, tanggal tujuh bulan kemarin.”


“Oke, sekarang bisaaa tolong kaosnya diangkat sampai dibawah dada ya bu, dan pengait celananya dibuka.” Aku mengikuti arahan dari dokter kemudian dokter mengoleskan gel untuk kemudian memulai pemeriksaan.


Dokter itu tersenyum, kemudian memanggil Steve.


“Pak silahkan kemari.” Panggil dokter itu pada Steve.


Steve berjalan menghampiri kami, kemudian menatap layar dimonitor.


“Ini kantungnya pak, usianya sekitar empat sampai lima minggu jika dilihat dari ukurannya.” Aku yang mendengar dokter itu menjelaskan pada Steve jadi terkejut.


“Dokter ada apa? Sayang aku kenapa?” Aku meminta penjelasan pada mereka.


“Selamat bu, ibu sedang mengandung.” Dokter yang bernama Siska itu memberitahuku.


“Sayanggg?” Aku mencoba bertanya pada Steve apakah benar yang dokter katakan. Steve mengangguk dan menitikkan air mata kebahagiaan. Setelah suster membersihkan gel dari perutku, aku mengaitkan kembali celanaku dan menurunkan kaosku. Steve yang berdiri di ujung tempat tidur langsung menghampiriku dan memelukku erat, menciumi seluruh wajahku.


“Thank you baby, i love you so much.” Steve tersenyum penuh dengan kebahagiaan.


Setelah pemeriksaan selesai, dokter meresepkan beberapa vitamin untukku, dan Steve langsung menebus vitamin-vitamin itu. Dan kami keluar dari rumah sakit setelah vitamin selesai ditebus.


“Baby, mau makan apa lagi sayang?”


“Aku pengen nonton boleh?”


“Oke kita nonton ya.” Steve melajukan mobil dengan santai, terlihat senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.


“Aku mau ice cream sama popcorn caramel boleh sayang?” Tanyaku saat kami memasuki lobby mall.


“Boleh dong, makan ice cream dulu aja ya baru nonton sambil makan popcorn caramel.” Steve turun dari mobil dan membukakan pintu untukku, kemudian menyerahkan kunci mobil pada petugas valey.


“Kok gak parkir dalam aja sayang?” Tanya ku pada Steve.


“Biar kamu gak capek jalan dari parkiran sayang.” Jawabnya sambil mencubit pipiku.

__ADS_1


Bersambung..


Jangan lupa mampir dikarya baruku ya, “Cleaning Service Cintaku”


__ADS_2