
Gilang yang mana telah dipindahkan kedalam kota tempat diadakannya ujian terakhir, mendapati dirinya kalau dia sendirian tampa Rey, Reza ataupun Bella, akan tetapi pada saat itu dengan pengalaman berdarah dan beratnya didalam tentara dirinya dapat mengambil keputusan dengan kepala dingin. “Trringgs...” saat itu juga Gilang langsung melihat apakah dia masih bisa menggunakan sistem toko, dan saat dia tahu kalau para calon pendaki dibiarkan untuk menggunakan sistem toko Gilang langsung mengunakan seluruh poin miliknya yang tersisa dari ujian pertahanan kastil yang sebelumnya.
“Ping... Ping... Trringss...” Gilang lalu langsung membeli sebuah crosbow tingkat biasa dan juga beberapa anak panahnya, dengan skill bidikan LV 1 dan juga skill Mata elang LV 1 miliknya Gilang memutuskan untuk bertempur dari jarak jauh sebagai seorang pemanah. Disaat itu Gilang kemudian langsung bergerak ditengah perkotaan itu, para zombie yang mana mengeluarkan bau busuk kematian berkeliaran disekitar kota itu dan membuat Gilang kesulitan untuk bergerak, namun Gilang langsung memikirkan sebuah cara untuk mengalihkan perhatian dari para zombie tersebut.
Gilang yang mana sedang bersembunyi di sekitar bangunan yang rusak tersebut “Taask..” mengambil sebuah batu yang ada dibawahnya, dan dengan batu itu “Fusshkk...” dia langsung melemparkannya kesekitaran gedung dengan kaca yang masih utuh, lemparannya sangat tepat dan bagus karena skill bidikan yang dia punya, “Trraanggs...” suara kaca pecah tersebut kemudian terdengar kesekitar area tersebut dan membuat para zombie mulai bergerak mendekatinya. Dan disaat para zombie mulai bergerak perlahan-lahan kearah suara kacar pecah itu, Gilang langsung mengambil jalan memutar dan melewati para zombie tersebut, namun dirinya tidak beruntung karena “Grroaar...” secara tidak sengaja dia bertemu dengan 3 sosok zombie yang mana juga sedang berjalan kearah kaca pecah tersebut.
“Skill bidikan LV 1” kemudian Gilang langsung bersikap tenang dan mengarahkan crosbow miliknya kearah salah satu zombie tersebut.
“Groaarr... Roaar...” pada saat itu juga salah satu dari zombie itu langsung marah besar, dan berusaha untuk berlari menyerang Gilang, namun karena hal itu “Funggs...” dengan cepat “Crrast...” Gilang menembak zombie itu dan anak panahnya tepat mengenai leher dari zombie tersebut dan menebus kepunuknya. “Kieeek...” parasite mayat yang ada didalam tubuh zombie itu kemudian langsung tewas “Dusskk...” dan tubuh zombie itu kemudian jatuh tak beradaya karena tidak adanya yang mengendalikannya, “Srrak... Crraak...” lalu sebelum kedua zombie yang lainnya menyerang Gilang langsung berusaha untuk mengisi kembali crosbow miliknya.
Namun “Grroaar...” kedua zombie yang tersisa itu langsung menyerang kearah Gilang, seperti belajar akan kesalahan rekan mereka, keduanya menyerang secara bersamaan untuk dapat membuat Gilang kebingungan, akan tetapi “Fusshkk...” dengan mudahnya Gilang menghindari serangan dari kedua zombie tersebut dan saat itu juga “Fusnggs...” Gilang langsung mengambil salah satu anak panahnya dari kantungnya dan dengan menggunakan anak panahnya tersebut “Crrastt...” Gilang menusuk salah satu zombie tersebut menggunakan panahnya seperti menggunakan pisau dan tampa menggunakan crosbow yang dia miliki.
“Sekarang tersisa satu lagi” kata Gilang, “Srrak... Crrak..” pada saat itu dirinya dengan cepat mengisi kembali peluru dari crosbow yang dia punya.
Akan tetapi pada saat itu zombie yang mana tersisa terlihat marah besar “Grooaar... Roaarr...” dan kemudian dia menjerit sekuat-kuatnya disana, mendengarkan suara dari zombie itu para zombie yang lainnya langsung mulai berdatangan mendengarkan suara dari rekan mereka, mengetahui apa yang direncanakan oleh zombie itu dengan cepat “Dusshkk...” Gilang menendang zombie itu. “Krraak...” dengan tendangannya yang kuat Gilang mematahkan rahang dari zombie itu dan membuatnya tidak bisa lagi bersuara, “Trraak...” kemudian dengan crosbow miliknya Gilang membidik zombie yang sudah tidak berdaya tersebut “Tranggs...” dan dengan cepat “Crrastt...” dia mengalahkan zombie tersebut.
__ADS_1
“Hmmm... para zombie itu mulai berdatangan, lebih baik aku mencari tempat untuk bersembunyi” pikir Gilang.
Disaat itu dirinya menemukan sebuah gedung empat lantai yang mana tidak dijaga oleh zombie, dan disana “Fussst...” dia dengan cepat langsung memasuki gedung tersebut, dan didalam gedung itu dia menemukan kalau terlihat adanya sebuah bekas pertarungan antara para zombie dan para calon pendaki menara. Di sana Gilang melihat kalau salah satu dari calon pendaki menara tersebut telah kehilangan nyawanya, karena dia dapat membedakan sebuah mayat segar dengan mayat zombie yang mana sudah membusuk parah, dan dengan keberaniannya Gilang kemudian langsung naik menuju kearah lantai dua.
“Srringgs...” sebuah besi dingin dan juga tajam tiba-tiba saja langsung diarahkan kearah leher Gilang, dan pada saat itu Gilang hanya dia saja karena dia mengetahui orang yang mana menodongkan pedangnya kearah lehernya sedang terluka dari suara nafasnya yang mana tersendat-sendat.
“Kau tidak apa-apa..?? kalau kau terluka kebetulan aku memiliki sebuah obat ajaib warna merah dan juga kuning” kata Gilang dengan wajah datar.
“Siapa kau paman, kenapa kau bisa ada disini...??” tanya seorang pria dengan badan besar dan juga kulit coklat kehitaman, dia terlihat terluka dikakinya dan sedang menahan rasa sakit dikakinya tersebut.
“Aku cuman orang biasa yang mana secara kebetulan kemari, dan juga melihat adanya mayat dibawah aku langsung bisa tahu kalau ada orang lainnya yang berada disini, jadi mari kita berbicara baik-baik dan saling menurunkan senjata kita” kata Gilang, “Trrukss...” dia langsung menjatuhkan crosbow miliknya didepan pria tersebut.
“Baiklah kalau begitu” kata Gilang, dia langsung mengambil kedua botol obat tersebut dan memberikannya pada pria tersebut.
“Terimakasih.... tunggu disini sebentar aku akan segera kembali” kata pria berbadan besar tersebut.
__ADS_1
“Haaah... sudah lama sekali semenjak aku tidak melihat mata itu, itu adalah mata dari seorang yang siap berkorban untuk orang yang dia sayangi” pikir Gilang.
Gilang yang mana melihat kearah pria berbadan besar tersebut mulai mengingat kembali pada dirinya dimasa lalu, dia adalah seorang tentara yang mana mau maju langsung kemedan perang demi dapat membuat bangga keluarganya, akan tetapi karena sebuah insiden yang membuatnya bersalah dirinya malah tidak dapat lagi bisa melihat anak dan istrinya.
“Aku harap mereka tidak apa-apa....” pikir Gilang yang mengingat kembali akan putranya dan juga istrinya.
Lalu beberapa menit kemudian pria besar tersebut langsung keluar dengan tiga orang calon pendaki lainnya, mereka adalah dua wanita dan satu orang pria lainnya dengan kulit yang sama seperti dirinya, dan dari tinggi badan dan juga wajah mereka Gilang dapat menebak kalau ketiganya masih berada diumur sekitaran 15 -17 tahunan.
“Terimakasih banyak tuan, karena anda aku bisa mengobati adik-adikku” kata pria berbadan besar tersebut.
“Yah tidak apa-apa, kau bisa memanggilku dengan namaku Gilang” kata Gilang.
“Baiklah tuan Gilang sekali lagi aku Aldo mengucapkan terimakasih kepada dirimu, dan aku bersumpah akan membalas semua kebaikanmu” kata Aldo, dia menundukkan kepalanya dan juga memandang Gilang dengan sangat hormat.
“Kahaha... bocah jangan sembarangan berkata seperti itu, lebih baik kalian ikut denganku saja, kita sama-sama selesaikan misi ini dan bebaskan diri kita” kata Gilang.
__ADS_1
Mendengarkan perkataan Gilang itu Aldo dan para suadaranya sama sekali tidak menolak tawarannya, dan mereka lalu mulai mengikuti Gilang sampai pada saatnya mereka bertemu dengan Reza lagi.
Bersambung.....