Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
bekerja dengan juragan.


__ADS_3

Aris tak meninggalkan ayu sedikitpun, bahkan sekarang Eko mencari orang lain untuk mencari rekan agar lebih membantu dalam pekerjaan.


akhirnya sekarang Ambi, kakak dari Ambar menjadi rekan dari Eko, dan Ambi tipe Pria yang jujur dan punya harga diri tinggi.


itulah yang menjadikan Eko dan Aris percaya, hari ini Eko datang membawa semua laporan dari hasil sawah dan warung milik Aris yang di kelola oleh beberapa warga desa.


"loh mas Eko, masuk saja mas, tuan Aris di dalam," kata ayu mempersilahkan.


"aduh kok bos tidur sih, ini gimana orang pembukuan dan uangnya," kata Eko frustasi.


"sini aku bantu mas Eko, mas yang hitung uangnya, dan biar saya yang melakukan pembukuan, kasihan tuan sepertinya kelelahan karena merawat dan menunggui Mbah," kata Ayu.


"kamu memang pantas jadi ibu bos ayu,sudah cantik dan pintar melakukan apapun," puji Eko


"jangan bercanda ah mas, karena tak pantas sekali jika saya bersanding dengan tuan, terlebih tuan bak bintang terang di langit, sedang aku hanya ikan di kubangan lumpur kotor," kata Ayu tersenyum mendengar ucapan Eko.


Aris pun sebenarnya sudah bangun, tapi dia ingin melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan.


"tapi ikan itu perlahan menjadi manusi yang membuat bintang di langit itu jatuh karena kecantikan dan kebaikannya, bahkan sopan santunnya begitu kuat menarik bintang itu hingga jatuh ke bumi" batin Aris.


Ayu selesai setelah satu jam, sedang Eko masih bingung karena uang yang datang receh.


"uh..." kata Aris meregangkan badannya.


"bos bangun, ini bos laporan keuangannya, ya Allah aku jadi merepotkan gadis cantik ini," kata Eko.


Aris pun menghampiri mereka berdua, Aris duduk di sebelah Ayu, dan melihat hasil pembukuan yang selalu bagus terlebih tulisannya begitu rapi.


"pasti bukan Eko, dan kenapa uangnya kamu bawa itu recehan Semuanya," kata Aris.


"terus bagaimana dong bos, namanya juga warung pinggir jalan loh bos, terus pom mini juga loh bos," kata Eko pasrah


"gak papa tuan, ini juga uang loh dan masih bisa di gunakan, uang kecil seperti ini juga berharga loh untuk rakyat kecil," kata Ayu.


mereka pun tertawa, setelah selesai, Aris memanggil orang bank untuk mengambil uang di rumah sakit, karena Aris adalah nasabah ekslusif do beberapa bank.


setelah itu dokter visit dan menyatakan jika pak Mun sudah di izinkan pulang.

__ADS_1


sore itu Ambi membawa mobil untuk menjemput mereka bertiga, sesampainya di rumah pak Mun.


ternyata rumah itu nampak lebih bagus karena sudah di bangun oleh Aris dalam waktu beberapa hari.


saat masuk ayu tak mengira jika rumahnya yang sederhana berubah jadi begitu bagus.


"tuan ini untuk Mbah dan saya?" tanya ayu tak percaya.


"iya Ayu, pak Mun tak boleh menolak karena seharusnya sudah dari dulu seperti ini, sekarang pak Mun bisa istirahat. dan serahkan semua pada cucu mu pak, karena sekarang dia adalah tangan kanan ku," kata Aris.


"baik tuan," jawab pak Mun


mereka pun makan bersama, karena Eko dan Ambar, serta keluarga mereka datang untuk menjenguk pak Mun.


bahkan semua makanan juga tersedia, ayu tak mengira hidupnya akan berubah sedrastis ini.


terlebih akhirnya sang kakek mau menerima semua bantuan dari Aris yang sudah di jaganya dari kecil.


setelah selesai, mereka pun pulang untuk beristirahat agar besok mulai bekerja.


keesokan harinya, ayu sudah siap pergi untuk bekerja di rumah Aris, sedang pak Mun sedang memberi makan bebek dan ayam.


"iya nak," jawab pak Mun.


Ayu juga berangkat dengan sepeda baru yang di belikan oleh Aris, pasalnya sepedanya yang lalu sudah tak berbentuk karena menabrak pohon.


Ayu sampai di rumah Aris pukul enam pagi, pria itu pasti sedang joging, jadi ayu langsung membersihkan rumah.


dan mulai mencuci baju dengan mesin cuci karena perintah Aris, Ayu juga memasak untuk sarapan dan bekal Aris.


mereka akan berangkat untuk meninjau beberapa kebun buah di kota tetangga.


ayu menjemur baju setelah selesai, Aris baru sampai dan sudah melihat rumahnya bersih dan tercium aroma sangat enak.


"Ayu, ayo sarapan dengan ku," panggil Aris


"tuan saja, saya sudah sarapan tadi bersama mbah, oh ya kopinya ada di meja juga, apa tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Ayu dengan lembut.

__ADS_1


Aris tidak menjawab karena fokus pada nasi gorengnya, setelah itu Ayu masuk dan melihat pria itu sangat lahap.


ayu mengambilkan air putih, "pelan-pelan tuan, nanti keselek loh,"


"habis enak banget masakan mu, kami ambil tablet di meja ruang tengah, itu untuk mu sebagai alat yang membantu mu dalam bekerja, semua jadwal ku juga ada disana, dan jika bisa tolong atur ya, aku ingin Semuanya tertata," kata Aris.


"aduh tuan, anda ini juragan kok rasa pemilik perusahaan besar ya," kata Ayu tertawa


"ya harus bagaimana, orang aku banyak usaha, jadi harus di atur biar pas kunjungan tak bentrok dengan panen," kata Aris


"baiklah tuan," jawab ayu.


setelah sarapan,Aris bergegas naik ke lantai atas untuk bersiap, hari ini mereka ke kebun buah di daerah kota tetangga.


dan akan melihat tambak patin yang di pegang oleh saudara mas Eko yang juga berada di kota yang sama dengan kebun.


saat sampai di kebun, ternyata pohon Pete sudah siap panen dan beberapa pohon mangga juga.


sedang di kebun salak yang tak jauh, juga sudah tiga kali panen, dan karena perawatan yang baik hingga kebun itu sangat produktif.


"terima kasih pak iman, anda benar-benar hebat dalam menjaga kebun saya," kata Aris.


"saya yang harusnya berterima kasih kepada tuan, karena mempercayai saya bisa merawat kebun ini hingga membuat keuangan keluarga kami membaik," kata pria itu dengan sangat bahagia


"sama-sama pak,tapi tolong jangan membuatku kecewa dengan kebohongan atau penghianatan, karena tak mungkin anda ingin melihat sosok kejam ku bukan," kata Aris mengingatkan.


"tentu tuan, saya selalu mengingat itu, dan saya selalu menerapkan apa yang anda katakan, mulai dari membagi hasil panen dan membantu orang yang tak mampu," kata pak iman.


"Alhamdulillah ya pak, ayo Ayu kita ke tempat tambak patin," ajak Aris.


"baik tuan, dan permisi pak iman," pamit Ayu dengan senyuman.


tapi saat akan pergi, tak sengaja kaki Ayu terpeleset, dan reflek Aris memeluk tubuh gadis itu.


"hati-hati Ayu ..."


Ayu tak menjawab, wajahnya malu karena detak jantungnya begitu cepat, terlebih Ayu merasa otot tangan Aris yang begitu kuat.

__ADS_1


"terima kasih tuan," kata Ayu gemetar karena merasa canggung.


__ADS_2