
Aris tersenyum, sekarang dia melihat istrinya menunjukkan sisi lain dari sikapnya.
"Sekarang kamu mengingatkan aku tentang ibuku, kamu jahat ayu!!" teriak Nita.
"jika aku jahat, kamu apa pelacur yang menawarkan dirinya, hei tak kurang banyak orang di luar sana yang bisa memberimu uang tapi tidak dengan suamiku, kau ingat aku gadis lemah Nita, kau ingat aku tak bisa melawan, aku bahkan tak segan mengacungkan pisau padamu jika kamu berani menggoda suamiku," kata Ayu tegas.
"ha-ha-ha, kamu itu memang gadis lemah," ejek Nita yang mulai kehilangan dirinya.
ayu langsung mencakar wajah Nita di depan semua orang, "itu baru cakaran, sekali lagi aku tau kamu menggoda suamiku, tak suwek raimu," marah ayu.
Aris langsung merangkul istrinya, tapi Ayu malah mengikuti perut suaminya.
"sayang kamu juga, mau di buat cacat, huh," kata Ambar.
Nita kaget melihat darah mengalir dari Pipinya, dia tak mengira jika ayu yang selama ini yang selalu tersenyum bisa sekasar ini
"aku di besarkan oleh kakek ku dengan melindungi semua milikku, kamu hanya seekor lalat yang mau jadi kupu-kupu, tapi kamu tak akan bisa, karena tempat mu di sampah bukan bunga," kata Ayu.
Sugik dan Eko diam, pasalnya dia baru kali ini melihat sosok Ayu yang begitu tegas.
"apa kamu tau, aku melakukan ini juga bukan keinginan ku," kata Nita.
Ambar dan semuanya kaget melihat luka yang di berikan oleh ayu, saat Nita mengangkat wajahnya.
"aku baru tau jika kakekku memiliki hutang di rentenir, dan dia terus memintaku untuk melunasi hutang-hutang itu, jika tidak aku akan kehilangan rumah ku," kata Nita.
"tapi bukan seperti itu caranya untuk mencari uang, seandainya kamu bilang padaku dengan baik-baik, aku akan membantu mu," jawab ayu dingin.
"sudahlah, seharusnya aku lebih memilih teman lagi, dan aku tak segan menghabisi siapapun orang yang ingin merebut suamiku, termasuk jika itu teman atau saudaraku," jawab Ayu.
"baiklah sayang, aku mengerti, lagi pula aku tak tertarik dengan wanita seperti ini, karena bagiku hanya kamu istri tercinta ku, jadi sekarang kita pulang," ajak Aris.
"baiklah, dan mas Sugik bawa dia berobat, kasihan jika dia harus hidup dengan wajah cacat," kata Ayu.
"baik Bu bos," jawab Sugik.
pria itu langsung menarik lengan Nita dan membawanya pergi, sedang ayu pulang bersama suaminya.
Aris tau jika sekarang ayu pasti sedih, pasalnya teman masa kecilnya bisa melakukan hal seburuk itu.
__ADS_1
itupun di ungkapkan tanpa rasa malu, bahkan di depan Eko dan Sugik.
"susah sayang jangan sedih," kata Aris.
tak terduga, ayu malah memukul punggung suaminya cukup keras, hingga membuat arus terbatuk-batuk.
"sayang, ini kdrt," kata Aris.
"habis mas menyebalkan, sudah sekarang pulang saja, jangan membuatku kesal terus," kata Ayu.
"iya iya maaf," kata Aris.
mereka sampai di rumah, dan Aris akan mencari seseorang untuk menjaga istrinya dan dia butuh wanita yang kuat.
dia akan menghubungi pak Mun untuk bertanya siapa yang pantas menjadi pelindung ayu.
"mas ayo masuk, ini sangat panas," panggil ayu pada suaminya itu.
"oke Bu juragan," jawab Aris yang menutup pagar rumahnya.
ya pagar itu di pasang beberapa Minggu yang lalu, karena Aris ingin istrinya lebih aman saja.
"tidak kok mas, aku sedang berpikir saja, bagaimana bisa Nita yang punya harga diri tinggi tiba-tiba mau jadi pelacur mu, hei tuan jawablah," kata ayu.
"aku tampan, banyak yang suka terutama uang," kata Aris sombong.
tapi tak terduga itu malah membuat ayu menangis, dan membuat Aris kebingungan.
"sayang jangan menangis, kamu kenapa?" tanya Aris khawatir.
"mas begitu tenang seperti ini, aku takut jika suatu saat aku akan mas buang saat ada yang lebih cantik," kata ayu.
"aduh aduh sayang, kamu ini kepikiran kejauhan banget, aku tidak akan bisa melakukan itu, terlebih bagaimana bisa aku meninggalkan wanita sehebat ini, terlebih setelah kita menikah, semua harta milikku, aku sudah ganti atas namamu, jadi jika aku selingkuh atau melakukan kesalahan, aku harus angkat kaki dari rumah ini tanpa membawa apapun," kata Aris.
"tapi apa mas akan melakukan itu?" tanya ayu sedih.
"tidak sayang, tidak akan karena hanya kamu yang bisa menyentuh diriku, karena jika orang lain yang menyentuhku, kamu tau sendiri itu bukan, bagaimana reaksiku," kata Aris.
ayu mengangguk, dia dan Aris punya masalah yang sama, tak bisa bersentuhan dengan orang lain.
__ADS_1
Ayu dan Aris pun tertawa berdua, keduanya pun melanjutkan makan es krim yang meleleh di mulut.
sedang Sugik mtlihat Nita di obati, "itu baru sebuah cakaran, sekali kau berani menyentuh pria beristri itu, mungkin kepala sudah lepas dari tubuh mu," kata Sugik dingin.
"apa?" kaget perawat yang mengobati Nita.
Sugik kaget karena perawat itu langsung berubah sikap, "dasar wanita tak tau malu," katanya sebelum pergi.
"lihat, tak pernah ada tempat untuk wanita seperti itu," kata Sugik lagi.
"sudahlah terima kasih sudah membawaku berobat," kata Nita yang sudah terlalu malu.
pasalnya dia tau konsekuensinya, tapi dia tak mengira jika ayu bisa melawan.
"aku tak yakin jika Ayu adalah bisa membunuhku, jadi kamu tak perlu menakuti ku," kata Nita yang berjalan keluar.
"bukan ayu yang akan membunuhmu, tapi kami, aku dan Eko tak akan membiarkan Bu juragan terluka, dan ada satu hal yang orang tak tau, kau bahkan bisa kehilangan nyawa mu sekarang," kata Sugik yang berdiri di depan pintu ruang UGD.
sebuah mobil truk menyambar tubuh Nita dan membuat wanita itu mari seketika di tempat.
"sudah ku katakan," kata Sugik yang menyalakan rokoknya.
para warga pun langsung berusaha menolong Nita, tapi luka wanita itu terlalu parah, dan saat di lihat ternyata truk itu kosong tanpa pengemudi.
"hei bagaimana bisa truk tak ada pengemudinya!" tanya seorang bapak.
"maaf kami baru menggantikan ban, jadi kami tak tau jika mobil truk kami lepas kendali.
Sugik pun pergi dari tempat itu, "tuan bagaimana dengan wanita itu," tanya perawat yang kebal dengan Sugik karena tadi mereka sempat berbincang.
"bisa rahasiakan jika aku pulang, karena itu akan jadi urusan kepolisian," kata Sugik tersenyum pada wanita itu.
"kalau begitu bagaimana jika besok jemput aku jam empat untuk mentraktirku makan mie ayam," tanya perawat itu.
"tentu, aku akan menunggu mu, asal kamu bukan istri orang," kata Sugik.
"tenang, aku masih sendiri, baiklah aku tunggu," jawab perawat itu.
Sugik pun memberikan kode dan kemudian pergi. sedang perawat itu tak mengira jika pria yang membuatnya tertarik itu bisa setuju dengan ajakannya.
__ADS_1