Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
pesan Raka


__ADS_3

Yadi kaget melihat pria yang paling dia hindari, bahkan pria itu bisa membuatnya kehilangan ilmunya jika bersentuhan lama-lama.


Raka sudah berhasil menghanguskan sebagian ilmu pria itu. tanpa pria itu sadari.


"juragan Raka disini?" kagetnya langsung menghempaskan tangan Raka.


"waduh kenapa kaget begitu, padahal saya cuma mau nyapa, kebetulan saya dan istri adalah sahabat baik dari mas Aris," jawab Raka yang tersenyum.


"bapak kalau tak mau mati cepet pergi, atau karena mas Raka sudah mulai membaca mantra pelebur Sukmo," kata Wulan yang melewati mereka begitu saja.


"kalau begitu saya pamit," kata pak Yadi yang ketakutan.


bahkan putrinya saja heran melihat reaksi dari ayahnya itu, padahal Aris tadi sudah bisa di bawah kendalinya.


"sayang kenapa kamu bilang, ilmu pria itu membahayakan, nanti ada korban lagi, tapi kalau di lihat dari auranya gak lama lagi sih," kata Raka.


"itu sudah tau," kata Wulan yang masuk kedalam rumah.


"sudah di bilang jangan bengong, tukang bunuh orang kok gak ngerti," kata Raka yang langsung masuk kedalam rumah.


ayu dan Wulan sedang berbincang dengan adik, Raka duduk di karpet sambil menaruh rokoknya.


"mas Raka, jika mau merokok di luar," kata Wulan pada suaminya itu.


"kamu ini gimana sih sayang, orang mas gak merokok, kamu juga lihat siapa yang dari tadi menghisap rokok itu," kata Raka.


Ayu yang tak paham pun hanya melihat saja, "oh ya, kemarin aku buat beberapa cemilan, di coba ya,"


"wah ibu juragan baik banget, tolong kopi pahit sekalian ya," kata Raka


"ih tak tau malu," kata Wulan.


"gak papa mbak, terima kasih kalian mau datang untuk membantu ku, aku hampir saja tergoda olehnya," kata Aris.


"sudahlah juragan, kamu tentu tau jika di desa ini masih begitu kental hal seperti itu, jadi baik-baik jaga diri saja, terlebih istrimu sedang hamil," kata Raka.


"baiklah mas," jawab Aris.


setelah sholat Magrib, Raka dan Wulan pun berpamitan untuk pulang karena Adri terus mengomel mencari keduanya.


tak lupa ayu juga memberikan beberapa kotak berisi makanan beku, awalnya wulan menolak tapi Raka menerima toh ini juga membuat Ayu senang.

__ADS_1


Aris sudah selesai cuci piring membantu istrinya, "mas mau di buatin sesuatu?" tanya ayu.


"tidak usah dek, buat singkong goreng saja biar nanti tak antarkan ke pos kamling biar di buat cemilan," kata Aris.


"sudah ada sayang, semuanya tinggal goreng, tapi mas nanti jangan malam-malam ya pulangnya, ayu takut,"


"iya sayang, maaf ya sering meninggalkan dirimu," jawab Aris.


keduanya pun akhirnya menonton tv, tapi di tempat Sugik dan pak Mun, Keduanya kaget melihat sosok yang sedang berdiri di depan rumah.


"mau apa kemari...."


"mas Sugik, akhirnya aku bertemu dengan mu," kata wanita itu langsung memeluk Sugik.


"Feli... jangan begini ini kampung bukan kota," tegur Sugik sambil melepaskan pelukan gadis itu.


"aku tau, tapi aku bela-belain kabur demi bisa bertemu dengan mas, karena ayah begitu jahat," kata Feli.


"sudah Sugik ajak masuk dulu, tak baik berbincang di luar rumah seperti ini," kata pak Mun.


"halo Mbah," sapa gadis muda itu.


Feli adalah adik dari Sugik yang tinggal di luar kota, tapi dia tak menyangka jika adiknya itu bisa sampai disini.


salam perjalanan, suasana desa cukup ramai, karena ada beberapa orang yang akan mengadakan pesta pernikahan dan sunatan.


sesampainya di pos kamling, Aris langsung menaruh bawaannya, "wah... juragan bawa makanan, terima kasih loh juragan, ya Allah... tau saja yang lagi ronda ini butuh asupan makanan," kata Tejo yang langsung melihat semua kotak yang di bawa Aris.


"ya tau dong, itu juga ada kopi panas, besok wadahnya antar pulang ya, nanti Bu juragan marah kalau hilang," pesan Aris.


"loh juragan mau pulang, duduk disini dulu, kita mau bahas sesuatu nih juragan," kata hansip Huda yang menahan pria itu


"mau bilang apa yo, kok kayaknya serius sekali," kata Aris tertawa melihat keenam orang di pos kamling itu.


"juragan tau gak, kalau sekarang Menik lukanya makin buruk, terlebih kata ibu-ibu yang pernah melihatnya, sekarang lukanya menjadi borok," kata Tejo.


"hadeh... aku tak peduli itu, lagi pula kalian ini sedang makan kok ngomongin begituan," tegur Aris.


"ih... juragan di kasih tau kok malah gini, asal juragan tau ini semua karena dia ingin mendapatkan juragan, jadi sekarang hati-hati," kata hansip Huda.


"iya, sudah itu saja, saya pamit ya," kata Aris yang mau pergi.

__ADS_1


."tunggu juragan, rokoknya belum ada," kata hansip Muji yang dari tadi diam.


"kamu ini dari tadi diam dan makan kok sekali ngomong pas ya," puji hansip Huda.


"ya sekalian atuh juragan, masak ya ada gorengan, kopi, tapi rokok gawe obong-obong cocot gak ada," katanya dengan tersenyum.


"iya iya maaf, tadi aku lupa gak beli, ini aku kasih uang dua ratus, kalian bagi yang adil awas saja, oh ya beberapa hari lagi ada idul Adha, nanti kalian bantu jaga keamanan di rumah ya, panggil yang lain juga," pesan Aris.


"siap bos juragan," jawab ketiga hansip itu.


mereka pun sangat senang, terlebih Aris memang begitu baik pada semua orang.


bahkan pria itu tak pernah tebang pilih untuk berbuat baik pada orang desa.


tapi sekali dia tak suka dengan orang itu, maka sudah di pastikan akan kesulitan karena hampir seluruh sawah yang ada di desa itu milik Aris.


Aris mengendarai motornya dan sampai di rumah, dia masuk dan melihat ayu masih bangun.


"ada apa sayang, kok belum tidur?" tanya Aris.


"mau makan telur ceplok dan kecap, tapi harus mas Aris yang buatkan," jawab Ayu.


"kamu ngidam lagi, baiklah, mau berapa banyak telurnya?" tanya Aris tersenyum.


"mau tiga telur bebek ya, gak usah pakai nasi," jawab Ayu.


"baik nyonya, saya akan buatkan," kata Aris.


Aris langsung mengambil telur bebek dan memecahkan kedalam mangkok.


dia memastikan jika tak ada kuning yang pecah, kemudian dia memanaskan teflon dan mulai memasak.


setelah memasak cukup lama, dia pun mengangkatnya, dan menaburi telur ceplok itu dengan kecap.


"ini nyonya, maaf bentuknya gak estetik," kata Aris.


"tidak masalah kok, ini sudah cukup," jawab Ayu yang mulai merasakan telur ceplok buatan suaminya.


Ayu terus menggerakkan kepalanya karena rasanya begitu enak, Aris pun tersenyum melihat tingkah istrinya, padahal itu hanya telur biasa.


"sayang besok aku pingin makan banyak, kira-kira siapa yang punya ya, aku mau membelinya," kata Aris yang kepikiran.

__ADS_1


"setahuku di desa ini cuma Mak Isah yang punya, coba besok kita kesana ya mas," kata ayu yang tak ingin membuat suaminya kecewa.


setelah makan Keduanya pun memutuskan untuk istirahat, karena besok ada hari baru untuk mereka.


__ADS_2