Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
jangan bertingkah


__ADS_3

"memangnya kamu belum melupakan masa lalu Aris? kenapa masih tak suka dengan anak-anak yang KKN," tanya pak mun.


"itu seperti menjadi pukulan telak dan membuatku makin membenci wanita, tapi kenapa dulu pak mun juga menyembunyikan ayu dariku?" tanya Aris berbalik.


"bukan menyembunyikan, hanya saja Ayu memang sekolah yang memiliki asrama, dan saat lulus baru pulang, tapi ternyata setiap malam dia sering menangis saat ingat kecelakaan orang tuanya," kata pak Mun.


"terus kalau dengan Agus, saya penasaran karena semua orang juga keheranan saat tau Agus ingin melamar ayu yang menjadi daftar menantu incaran para orang tua, termasuk saya jujur saja ini," kata pak haji.


"karena orang tua Agus dulu sahabat baik menantuku, dan mereka saling bantu dan mereka mengatakan ada ikatan pertunangan, tapi saat tau harta ayah ayu habis, mereka pun ingin mengusirnya tapi sayang putra mereka sudah terlalu cinta pada ayu," jawab pak Mun.


"padahal dulu saya mau jodohkan dengan Priyono, eh keduluan," kata pak haji.


"maaf sudah menjadi hak milik, gak boleh di lirik lagi," kata Aris yang kesal mendengar ucapan para bapak-bapak itu.


"bercanda juragan, itu kan semuanya dulu, saya makin kagum sat tau ayu bukan gadis lemah, meski dia itu begitu lemah lembut dan baik," puji pak haji.


"kalau mau cari jodoh untuk Priyono itu ada adeknya Sugik, meski terlihat begitu kasar, tapi dia sebenarnya gadis penakut dan baik, hanya saja tumbuh di keluarga yang menuntut kemandirian, membuatnya tumbuh seperti ini," jawab Aris.


"sekarang sudah saya biarkan mas, orang semua gadis baik dan Sholehah sudah di ambil semua, terakhir Diani putri pak indik, ya Allah... ternyata sudah mau nikah sana mas Sugik juga," kata pak haji tertawa.


Aris juga heran, di saat para pria yang begitu mudah emosi, suka kasar, baku hantam hingga tak segan merencanakan pembunuhan.


tapi kenapa mereka malah dapat istri yang baik, lemah lembut dan mengerti agama.


"jodoh sudah di atur pak, gak mungkin ketuker," jawab pak Mun.


sedang di dalam rumah, Bu haji sedang mengendong bayi mungil itu, seandainya ayu menantunya pasti sudah punya cucu sekarang.


tapi apalah daya, pri dan Ayu memang bukan jodohnya, "ayu kamu punya kenalan seorang gadis yang seperti dirimu tidak? kebetulan ibu masih cari jodoh untuk pri," kata Bu Hajjah.


"ini saya punya satu, adek saya Bu, Feli," kata Ayu saat Feli membawakan minum.


"apa mbak," tanya gadis itu bingung.


"gak ada, menurut mu pak lurah itu gimana?" tanya Bu Hajjah yang penasaran terlebih Feli terlihat seperti gadis baik, sopan dan tau adab, bahkan sekarang dia mulai menutup auratnya.


"pak lurah Priyo?" tanya Feli memastikan.


"iya nduk," jawab Bu Hajjah.


"ganteng kok Bu, terus suaranya saat adzan merdu, dan lagi senyumnya," kata Feli yang kemudian malu.


ayu pun menepuk bahu Feli, "kenapa kamu?" tanya ayu.


"gak papa, sudah aku ke belakang dulu, permisi ibu dan mbak ayu," kata Feli yang langsung kabur.


"lah itu gadis kenapa, maaf ya Bu," kata Ayu yang tak biasa melihat Feli seperti itu.


"gak papa, dia lucu ya, masak mbahas pri saja sampai malu begitu," kata Bu Hajjah.


keduanya pun saling pandang, sedang Feli di dapur sedang memeluk Bu Edi.

__ADS_1


wanita itu tak tau kenapa Feli suka sekali memeluk orang, "kenapa lagi mbak Feli?" tanya Bu Edi bingung.


"gak ada Bu, Feli hanya seneng," jawab gadis itu.


"hayo seneng kenapa? punya gebetan baru ya?" tanya Bu Edi.


"tidak kok, sudah Feli di suruh bantu apa?" tanya gadis itu


"itu tolong antar ke tempat KKN anak-anak kuliahan itu ya,dan ingat jangan lama-lama," kata Bu Syamsir


"siap ibu," jawab Feli yang langsung pergi keluar rumah.


dia juga menunduk sopan saat berjalan melewati Aris, pak Mun, dan pak haji.


"itu siapa, bukannya yang selalu dengan nak ayu?" tanya pak haji.


"iya itu adeknya Sugik pak, namanya Feli, sekarang lagi belajar berjilbab karena dia malu kalau jalan sama ayu, katanya masak mbak berjilbab aku metal, terus kok dia tak suka saat ada pria yang menatapnya mesum," kata Aris.


"cantik ya mas," kata pak haji.


"Alhamdulillah, Jawa Sulawesi pak," kata Aris.


"produk campuran berarti," kata pak Mun yang membuat semua tertawa.


tak lama pak Syamsir datang dan terlihat langsung bisa berbaur dengan semua orang.


bahkan pak haji saja sudah seperti teman lama, "sepertinya bantuan ku sampai disini ya dek," lirih Aris.


Feli menuju ke rumah keluarga Priyono, lebih tepatnya rumah bekas bebek pria itu.


"waalaikum salam, iya siapa?" tanya Andi yang keluar.


"maaf ini ada kiriman dari keluarga juragan Aris, kebetulan putri beliau sedang mengadakan acara Cepot pusar," kata Feli dengan sopan


"tidak mampir dulu dek Feli?" tawar Priyono yang mengenali suara gadis itu.


"mas pri, tidak mas, saya harus bantu yang lain, kalau begitu saya permisi, mari...." pamit Feli yang bergegas pergi.


"gadis yang cantik, sudah punya pacar belum ya," kata seorang mahasiswa.


"kalian berani menganggunya, aku pastikan ada tiga pria yang akan membuat kalian menyesal, bahkan kalian mungkin bisa tak bernafas lagi," kata Priyono.


"kamu mengerti pak lurah," jawab semuanya.


"alah sudah jangan main sama gadis kampung, di kota lebih banyak orang yang lebih cantik dari dia," kata Dara.


mereka pun melanjutkan pembahasan apa yang akan mereka lakukan besok, terlebih ada beberapa proyek yang akan mereka buat menjadi kenang-kenangan di desa.


malam hari para tamu undangan berdatangan, acara pun di mulai dengan khidmat.


setelah itu berkat pun di bagikan, semua orang tak kaget jika kenduri di tempat juragan Aris pasti sangat banyak.

__ADS_1


mulai dari isi berkat, kue bahkan selalu ada sembako yang di sertakan


semua orang yang membantu juga mendapatkan salam tempel, bahkan isi amplop itu tak tanggung.


Priyono sedang berbincang dengan semua orang, saat dia menghampiri Sugik tapi pria itu tak ada.


"maaf bang Aris, mana bang Sugik kok tidak kelihatan?" tanya Feli.


"dia sedang pergi sepertinya menjemput Diani, memang kenapa?" tanya Aris.


"yah... padahal mau minta tolong untuk di antar ke rumah para janda, untuk membagikan berkat yang masih ada," terang Feli sedih.


"bagaimana jika aku yang mengantar mu?" tanya priyono mengajukan diri.


"tapi nanti merepotkan mas lagi," kata Feli


"tidak dek, sudah ayo aku antar tapi kita pulang dulu untuk menaruh berkat ini dulu ya," kata Priyono.


Feli pun mengangguk dan segera mengambil rengkek kain yang biasa dia gunakan untuk membagikan makanan.


ada sekitar sepuluh berkat ternyata, Feli sudah naik ke motor matic milik Priyono dan mereka pun berangkat.


"sepertinya setelah penikahan Sugik, Feli akan menyusul," kata Eko melihatnya.


"doakan saja, karena jodoh tak ada yang tau," jawab Aris


Sugik pulang dan ternyata sang ayah sedang mengajar mengaji, Feli turun dan menunggu di samping sepeda.


"itu kenapa Feli kok di suruh menunggu di ana, suruh masuk atuh mas," kata pak haji.


"gak papa yah, kami mau mengantarkan beberapa berkat untuk para janda," pamit Priyono.


"nanti ajak mampir sebentar ya, sepertinya ibu mu tadi membuat sesuatu untuknya," kata pak haji yang di angguki Priyono.


Feli pun tersenyum saat melihat Priyono datang, terlihat keduanya tetap menjaga jarak meski di atas sepeda motor.


keduanya berkeliling membagikan berkat, dan Feli memberikan sedikit rejeki pada mereka.


"sudah selesai dek?" tanya Priyono.


"sudah mas, sekarang kita pulang?" tanya Feli.


"iya, tapi mampir dulu ke rumah bentar ya, karena ada sesuatu yang ingin mas ambil," ajak Priyono.


"inggeh mas," jawab Feli.


Priyono pun mengendarai sepeda motornya menuju ke rumah, ternyata Bu Hajjah sudah menunggu mereka.


Feli langsung di tarik masuk, wanita itu memberikan sesuatu pad Feli, sedang Priyono mengambil jaket miliknya dan memberikannya pada Feli.


"kenapa?" tanya Feli.

__ADS_1


"pakai, angin malam gak bagus, itu jaket bersih terus sudah lama gak kepakai karena kekecilan," kata Priyono.


Feli pun memakainya, setelah berbincang sebentar mereka pun pamit dan Priyono akan memastikan Feli aman saat pulang.


__ADS_2