Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
lamaran Sugik


__ADS_3

"ada apa ini? kenapa kalian berpegangan tangan seperti ini?" marah pak indik.


"saya ingin melamar putri anda, besok orang tua saya akan datang untuk melamarnya, jadi saya datang memberi tahu terlebih dahulu," kata Sugik.


"apa?" lirih Diani.


"kalian ternyata sudah berpacaran di belakang bapak," tanya pak indik dingin.


"tidak pak, tidak seperti itu, aku tak pernah mengenal mas Sugik, pertama melihatnya pun itu bersama bapak," suara Diani yang mulai ketakutan.


"itu memang benar pak, tapi aku percaya jika gadis yang di besarkan oleh ayah seperti anda, pasti dia akan menjadi istri yang baik, terlebih orang tua ku menyukai Diani," kata Sugik tanpa takut sedikitpun.


"kalau begitu besok pagi minta orang tua mu datang, dan Diani masuk!!" kata pak indik.


gadis itu pun masuk dan terlihat mengusap air matanya yang jatuh, "pak tolong jangan marah, saya tau ini mendadak, tapi saya tak ingin merusak anak gadis seseorang, saya tau jika anda pasti mendengar semua apa yang sudah aku pernah lakukan, jadi besok saya akan menunggu jawaban dari keluarga anda," kata Sugik.


"baiklah saya tunggu besok pagi, pukul setengah sepuluh pagi," jawab pak indik.


"iya pak, saya mengerti," jawab Sugik yang kemudian pamit.


pria itu memang tau segalanya, terlebih pak Edi sudah menjelaskan semuanya.


dia tak mengira jika hal itu terjadi begitu cepat, terlebih lagi tadi Diani hanya mengantarkan belanjaan tapi malah mendapatkan lamaran yang mengejutkan.


Aris sedang duduk santai dengan ayu, dan kaget saat sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.


Aris membaca pesan itu dan tak kaget sedikit pun tentang apa yang di kabarkan oleh pria itu.


"sayang besok Sugik lamaran, kamu ikut dan mau bawa apa?" tanya Aris.


"apa? kenapa mendadak, aku belum menyiapkan apapun mas," kaget Ayu yang bingung


"sudah bawa yang ada saja, kamu biasanya menyetok kopi mentah,apa ada?" tanya pria itu.


"aduh kebetulan gak ada, tapi kalau kopi matang tinggal hiking ada, tapi ya masak kita bawa itu, biar aku buat kue istimewa saja ya," kata ayu yang bangun dari duduknya.


"baiklah aku bantu ya sayang," kata Aris.


mereka pun mulai membuat adonan, Aris yang melakukan semua pekerjaan berat, sedang ayu hanya menyiapkan semuanya.


tak terasa sudah jam setengah dua belas malam, "sekarang kita tidur,besok baru hias kuenya," kata Aris.

__ADS_1


mereka berdua memilih tidur di depan tv, pasalnya sekarang di ruang tengah juga di pasang kursi multifungsi.


Aris pun memastikan jika istrinya itu nyaman, keesokan harinya, Bu Edi mengirimkan pesan jika tidak bisa datang.


mereka pun tak masalah, ayu dan Aris sudah selesai menghias kue, "sekarang kita berangkat, kebetulan aku ingin mengenalkan guru tandingku," kata Aris tak sabaran.


"iya sayang," jawab Ayu yang keluar dengan sedikit kesusahan.


dia juga membawa gula dan kopi juga sebagai syarat untuk melamar wajib di desa itu.


mobil Aris pun menuju ke rumah pak Mun, ternyata mobil Eko sudah sampai duluan.


melihat mobil Aris, Feli sudah datang menyambutnya, "mbak Ayu, pelan-pelan," kata gadis itu.


"iya dek, ya Allah kamu ternyata lebih cerewet dari mas Aris ya," kata Ayu tersenyum.


Aris pun membawa semua barang yang dia bawa, setelah meletakkan di meja.


Aris langsung memeluk tubuh pak Syamsir, sedang Ayu mencium tangan dan memeluk Bu Syamsir.


"sayang ini adalah guru tarung ku dulu, kami bertiga tumbuh dalam pengawasan beliau," kata Aris dengan bangga.


"iya mas, salam kenapa pak," kata ayu sopan.


"pasti pak," jawab Aris.


"terus ini yang mau melamar mana kok belum keluar-keluar?" tanya Eko yang belum melihat sugik.


"kalian kenapa heboh, orang kita mau melamar bukan mau nikah," kata Sugik yang kaget dengan bawaan mereka.


"tunggu dulu, ini kenapa banyak banget, kita cuma mau lamaran sederhana, bukan mau nyerbu rumah orang," panik Sugik.


"sudah sekarang ayo berangkat, gak bagus jika telat," kata Aris.


ayu tertawa saja mendengar perkataan itu, pasalnya hantaran ada sekitar dua puluh lima.


dan Sugik tak tau kapan itu semua di siapkan secara mendadak, mereka pun mulai berangkat dengan dua mobil itu.


tapi yang Sugik tak tau, jika semua tetangga juga di ajak, tapi mereka memilih naik motor karena dekat.


ada sekitar dua puluh motor, Sugik benar-benar tak tau harus bilang apa, terlebih dia bilang yang akan datang cuma kedua orang tuanya.

__ADS_1


bukan orang satu desa begini, keluarga pak indik menyambut semua tamu.


bahkan pak Syamsir langsung menjabat tangan dan berpelukan dengan pria itu.


"gik, kamu yakin mereka baru kenal, kenapa akrab begitu?" tanya Eko tak percaya.


"sudah diamlah, aku juga tak tau," jawab Sugik.


mereka semua pun masuk sambil membawa hantaran, pak indik merasa beruntung karena pak Edi mengatakan jika tak mungkin keluarga dari juragan aris melamar hanya dengan orang tua.


semua keluarga dari Diani merasa kaget melihat semua seserahan yang di bawa.


"loh mbak, calon e Diani wong sugeh ya, kok akeh temen seserahan e?" tanya bibik dari pak indik pada Bu Edi.


"bukan kaya lagi bik, dia itu orang kepercayaan juragan Aris, bahkan sudah di anggap adiknya sendiri, jdi gak heran," jawab Bu Edi


"ya Allah... Alhamdulillah lek ngunu," jawab yang lain.


acara pun di mulai, pak Edi terus tersenyum ke arah Sugik, "jadi kan mas," goda pria itu.


"alah pak Edi kambuh," kata Eko yang langsung di cubit oleh Ambar.


"sakit dek," kaget Eko.


mereka pun tertawa bersama, pasalnya tak mengira jika semua berkat campur tangan pria itu.


"sebelumnya saya minta maaf jika ada sedikit kurang tidak nyaman dalam penyambutan tamu, saya selaku perwakilan dari keluarga nak Diani ingin bertanya tentang kedatangan keluarga mas Sugik kesini, ada apa kok mendadak begini?" tanya pak Edi.


semua orang melihat Aris, "oh iya maaf, saya selaku kakak dari Sugik ingin mewakili keluarga besar kami datang kesini untuk melamar putri pak indik, adek saya Sugik ingin melamar mbak Diani untuk jadi istri yang kan menemani sampai maut memisahkan, jadi saya ingin bertanya apa mbak Diani mau menerima lamaran ini?" kata Aris yang langsung to the points.


"mampus,juragan Aris main jujur begitu, basa basi dulu Napa," kata Eko yang langsung memancing gelak tawa.


Sugik memukul paha Eko dengan keras agar diam, tapi pria itu malah kaget.


pak Syamsir juga tertawa melihat tingkah tiga pria itu, "nduk, kemari nak," panggil pak indik.


Diani datang dengan di dampingi sang ibu dan Bu Edi, gadis itu nampak begitu cantik.


"mas Sugik, leres ini calonnya?" tanya pak Edi.


"inggeh pak, tapi kok nambah cantik," jawab Sugik.

__ADS_1


"ciye..." goda semua orang.


__ADS_2