
Aris menyeringai, ke enam polisi datang dengan seragam, sedang yang berpakaian preman juga banyak, dan beberapa orang dari pihak kejaksaan.
"silahkan masuk bawa mereka pergi," kata Aris yang kemudian pergi dari kelurahan.
"baik juragan," jawab kepala polisi itu.
Aris sudah pergi, Eko dan Sugik juga pergi, ketiga pria itu benar-benar membereskan semua sampah.
pak lurah itu kaget saat dia juga ikut di borgol, "apa ini, kenapa saya di borgol, saya ini adalah lurah yang teladan," kata pria itu.
"tapi anda telah melakukan korupsi dana pembangunan desa dua setengah milyar, dan dana bantuan sosial, jadi sekarang pertanggung jawabkan semuanya," kata polisi yang membawa lurah dan beberapa jajaran anak buahnya.
jadilah semua warga bersorak gembira, pasalnya semua pemerintah desa yang korup pun di bawa oleh polisi.
dan para pria pembuat onar itu juga sudah di bawa untuk bertanggung jawab, sedang Nur di antar oleh beberapa orang pulang.
mereka mengantarkan Nur sampai di rumah, dan kaget saat melihat menik yang berpenampilan begitu buruk.
terlebih seluruh tubuhnya seperti kena penyakit kulit, dan mengelupas, sedang ada Ani, adik kedua dari Menik.
"ya Allah nur, kamu dari mana saja, kenapa semalam tak pulang, padahal kamu tau kondisi Mbak Menik," kata Ani pada adiknya itu.
"Ani maaf, adikmu mengalami hal buruk, apa kamu tak tau ada ramai-ramai di balaidesa?" kata salah seorang bapak yang mengantarkan Nur pulang.
"saya tau kalau ada ramai-ramai, tapi kenapa dengan nur?" tanya Ani.
Menik pun berdiri, dia sudah tau jika di desa ada seorang gadis yang di lecehkan.
"bagaimana bisa kamu tak bisa menjaga dirimu sendiri, kamu ini gadis yang bisa karate," marah Menik yang langsung menampar nur.
"maafkan aku mbak... aku di bius," tangis nur.
"aduh Menik, kamu jangan seperti ini, dia juga tak salah, hanya berandalan itu saja yang memang tak tau diri, oh ya mereka sudah di bawa ke kantor polisi, jadi kalian tenang saja, dan semua warga sudah tak akan membicarakannya," kata bapak-bapak itu.
__ADS_1
"bagaimana bisa, memang siapa yang bisa membungkam mulut warga desa," kata Menik yang masih terlihat angkuh.
"siapa lagi, juragan Aris," jawab bapak itu yang kemudian pamit.
"ha-ha-ha pria busuk itu, setelah semua yang aku lalui dan dia bisa-bisanya menunjukkan kebaikannya pada mu, ha-ha-ha kenapa aku begitu menyedihkan seperti ini," kesal Menik.
nur dan ani hanya menangis saja, pasalnya Ani tak mengira jika hidup nur akan hancur seperti ini.
Aris, Sugik dan Eko sedang merokok di pinggiran sungai di dekat sawah, ketiganya menikmati waktu senggang mereka.
"bagaimana juragan, pasti sebentar lagi akan di adakan pemilihan kepala desa baru, dan kalau dari yang kulihat, juragan adalah pilihan utama dari warga desa," kata Sugik.
"kau gila, aku tak berminat menjadi kepala desa, aku saja sudah sibuk dengan hidupku, jadi aku tak mau menambahnya lagi," kata Aris.
"mana mungkin, siapa lagi setelah juragan tak mau?" tanya Eko.
"ya karena tak ada orang yang peduli desa ini selain anda, tak percaya besok pasti semua warga menunjuk juragan untuk jadi lurah," kata Sugik.
"tapi kalian lupa, di desa ini ada dua orang lain yang di hormati, haji Shodiq dan pak Kadir yang seorang guru itu," kata Aris.
"memang kenapa sih, kalian begitu ingin aku jadi kepala desa, itu akan sangat merepotkan kalian tau," kata Aris yang tak mau sibuk.
dia terlalu nyaman dengan hidupnya sekarang, sudah memiliki istri yang cantik dan itu sangat cukup.
sedang dia tak ingin repot-repot menyibukkan diri lagi, dia memang suka membantu warga desa, tapi tidak dengan jabatan itu.
"kalau begitu kamu saja Eko, aku akan selalu mendukung mu, jadi kamu saja yang mencalonkan diri jadi kepala desa, mau?" tawar Aris.
"kenapa harus aku, gak ah repot, apalagi aku lebih suka bekerja seperti ini, toh uangnya lebih banyak, kan kalau jadi kepala desa gajinya sedikit dan belum lagi masalah lain-lain,bisa stres aku, gak mau ah." kata Eko.
sedang Sugik sibuk mencekik jambu di atas pohon, "hei kami sedang bicara, kamu sedang apa," tanya Aris melihat anak buahnya itu.
"ini nih jambu air, daripada ribut masalah kepala desa, biarkan saja siapa yang ingin jadi kepala desa, toh kita akan tetap menjadi diriku kita sendiri," jawab Sugik
__ADS_1
"kamu benar," jawab Aris.
mereka pun melanjutkan untuk makan jambu air sambil menikmati angin dari sawah yang terhampar luas itu.
ada beberapa kebun singkong dan sawah yang di tanami beberapa pohon cabe merah dan cabe kecil.
"hei para tangan kanan, sepertinya besok kalian harus panen raya, lihatlah, cabenya sudah pada merah," kata Aris menunjuk sawahnya.
"hei juragan berhentilah mengatakan tentang panen, kami sedang libur," kesal Sugik.
"lihatlah sekertaris terbaik milikku ini, sekarang dia sudah menjadi tangan kanan juragan Aris yang begitu kompeten, dan kalian berdua sepertinya bagus jika naik gaji bukan, jadi tolong jangan sampai bos mu ini kecewa ya," kata Aris.
"tentu juragan," jawab keduanya yang melakukan TOS.
tak terduga Nita datang menghampiri ketiga pria itu, "permisi juragan apa saya boleh bertanya tentang sesuatu?"
"wah Nita, ada apa? kenapa wajahmu panik sekali?" tanya Eko yang melihat wanita itu.
"ya kenapa wanita ketus seperti mu bisa memasang wajah seperti itu," kata Sugik ketus.
"aku tak ada urusan dengan mu, aku hanya ingin menanyakan sesuatu pada juragan Aris,"
"ada apa Nita, apa ada masalah?" tanya Aris melihat gadis itu sekilas dan fokus pada jambu air miliknya.
"saya ingin menjadi simpanan anda," kata Nita.
"anj*** jambu ne bosok c*k," kata Aris melemparkan jambu itu ke sungai.
"maaf aku tak suka barang busuk dan bekas, jadi katakan apa keinginan mu," kata Aris menegaskan sekali lagi.
"saya ingin jadi simpanan anda, karena aku dengar jika jadi simpanan bisa dapat uang banyak, dan saat ini saya membutuhkan itu," kata Nita.
"seharusnya kamu tak mengatakan itu, aku tak suka orang lain menyentuhku, jika kamu mau memberitahu istriku saja, kamu butuh seratus juta pun dia akan memberikannya padamu, terlebih kalian sudah berteman dari kecil bukan," kata Aris
__ADS_1
"tapi itu tak cukup, aku butuh lebih banyak, jadi aku ingin jadi simpanan anda," kata Nita dengan wajah datar.
tapi sebuah tamparan di dapatkan Nita, "kenapa kamu ingin jadi perusak rumah tangga orang, apa kamu ingin jadi seperti ibumu!!!" teriak ayu yang kebetulan datang mencari suaminya.