
tak terasa hari-hari terlewati, sudah dua bulan umur bayi Niken. dan hari ini mereka bersiap untuk mengikuti acara pernikahan dari Sugik.
ya pagi ini Aris sudah berangkat terlebih dahulu untuk mengantarkan Sugik akad nikah, sedang ayu berkumpul di rumah pak Mun.
"jangan tegang begitu, santai saja apa perlu di buatkan contekan?" tanya Aris.
"tak usah, aku bisa melakukannya dengan baik," jawab Sugik
pak indik menjabat tangan Sugik dan mulai mengucapkan ijab qobul, dan dengan satu kali tarikan nafas, Sugik bisa mengucapkan kalimat itu dengan baik.
hingga terdengar semua orang berteriak sah.
sedang di tempat pak mu, Ayu membantu menyiapkan semuanya, dua tak mau ada kesalahan sekecil apapun, hantaran juga sudah di periksa.
bahkan peralatan dapur bukak kawak, juga sudah di naikan ke mobil pickup.
beberapa hari yang lalu, keluarga dari Sugik yang di luar Jawa juga sudah datang.
pak Mun juga sudah pindah ke rumah Aris, jadi rumah yang lama akan di tempati Sugik dan istrinya nanti.
mobil Aris datang dan langsung mengajak semua rombongan berangkat karena akad nikah telah selesai.
rombongan berangkat dengan tiga mobil, dua elf dan satu mobil pick up khusus membawa hantaran.
sesampainya di tempat Diani, mereka menunggu di rumah tetangga.
perias manten memanggil semua saudara dari Sugik, dan meminta mereka untuk membawa petek jagoan, bukak kawak dan juga kupat lepet.
ayu sudah memastikan jika ketiga seserahan itu di hias dengan bagus.
"maaf saya tidak bisa," jawab adik ketiga Sugik yang laki-laki.
sedang kedua adik ipar Sugik juga mundur, dan dua adik perempuannya juga tak mau dengan alasan anak mereka nakal.
"kalian ini kenapa, ini pernikahan kakak kalian, jangan membuat malu, kalian ini memberikan bantuan sekecil ini saja tak mau, keterlaluan," marah Bu Syamsir.
"ibu kami tak mengerti adat ini, terlebih kami juga masih lelah," jawab adik Sugik yang laki-laki.
Bu syamsir ingin marah, tapi pak Syamsir menahannya terlebih Sugik yang datang dengan beskap lengkap pengantin Jawa.
melihat itu sedikit masalah, Aris dan Eko langsung maju, "biar kami yang bawa," kata Aris yang tak mau ada kesalahan sedikitpun.
Aris langsung memikul tanggung jawab terbesar, kemudian Eko juga membawa ayam jago yang berbuntut kain.
tinggal satu lagi, Feli langsung menaruh tampah itu di atas kepalanya.
__ADS_1
dia memang adik terkecil, tapi dia ingin melihat kebahagiaan kakak pertamanya.
mereka bertiga di arahkan untuk berjalan terlebih dahulu setelah cucuk lampah karena akan ada adat seserahan kaitan.
ayu sudah bersiap memberikan sawer pada beberapa orang tertentu sebagai bukti terima kasih.
pak Mun memiliki mengendong cicitnya, Sugik yang heran kenapa malah Aris dan Eko yang menjadi perwakilan keluarga.
dia akan bertanya nanti setelah acara selesai, Aris dan Eko harus mengikuti alunan gamelan sebelum melakukan pertukaran.
ayu maju mendampingi Feli melakukan serah terima dan saweran pada para orang tua dari keluarga Diani.
acara pun berlanjut dengan temu manten, dan dilanjutkan dengan acara walimatul ursy.
(nb. setiap desa dan adat berbeda ya gaes, meski masih di satu provinsi)
acara pun berakhir, Ayu, pak Mun dan Aris juga ikut foto bersama pengantin, bahkan Niken juga sangat anteng selama acara.
Ambar dan Eko juga tak ketinggalan, begitu pun dengan yang lain. yang tak terduga malah Feli dan lurah Priyono yang baik dan ikut foto dengan manten.
jadilah sorak sorak semua pengiring pengantin yang ikut terdengar, "sebentar lagi pak lurah nyusul," kata pak Edi.
"mohon doanya saja, supaya gadisnya mau menerima saya," jawab Priyono.
pak Syamsir yang tau pun menghentikan putra pertamanya itu, "sudah biar bapak yang selesaikan, kamu jangan membuat hati bahagia mu hancur," bisik pak Syamsir.
Sugik pun menghempas lengan adiknya, dan pria itu sudah tau jika kakaknya itu marah.
dan mungkin kini ketiganya dalam masalah besar karena tak mau mengikuti adat pernikahan ini.
Diani menyadari perubahan wajah Sugik, dia pun mengajak suaminya itu untuk ke kamar Sebentar.
Diani mendudukkan Sugik di ranjang, "mas sedang marah," tanya Diani dengan lembut.
Sugik hanya diam. "aduh padahal aku itu tipe yang tak peka loh, jadi jika mas tidak bilang, aku sedang marah, atau Diani jamu gak boleh gini, itu dan itu, aku mana tau mas, jadi coba yuk bilang yuk," kata Diani membujuk suaminya.
"entahlah aku merasa adik-adik ku terlalu egois, bahkan mereka tau mau mengikuti adat di sini, dan marah bos Aris dan Eko yang menjadi perwakilan ku," kata Sugik.
"tapi mas sudah menganggap mereka saudara bukan,"
"lebih dek, bahkan aku rela mati demi mereka," kata Sugik
"itu berarti mereka juga keluarga yang bisa melakukan adat ini, susah mas, jangan pasang wajah cemberut begini, aku tidak mau kalau nanti pas anak kita melihat foto pernikahan orang tuannya, mereka terus bilang gini, ih... kok muka ayah jelek," kata Diani sambil menitikkan suara anak kecil.
mendengar itu Sugik tersenyum, dan Sugik mencium kening istrinya itu, "terima kasih sudah menjadi wanita terbaik untukku."
__ADS_1
"aku juga berterima kasih sudah memilih ku menjadi istrimu mas," kata Diani.
"ya Allah, di cariin kemana-mana, ternyata sudah di dalam kamar berdua, ayo ganti baju terus lanjut foto-foto," kata perias pengantin yang menemukan keduanya.
di rumah, aris sudah tidur di depan tv sambil menjaga putrinya yang terjaga
"kenapa Niken tak tidur, itu lihat Mbah buyut kelelahan itu," kata Aris melihat pak Mun yang sedang minum kopi.
"ini ayah juga minum kopi dan untuk gadis cantik bunda, minum susu," kata Ayu memberikan gelas kopi dan mengendong putrinya.
dia pun menaruh penutup saat dia menyusui bayinya, Aris pun memilih duduk sambil nonton tv.
"idih... ini kenapa Chanel tv isinya gosip melulu, sayang kamu biasanya jam segini nonton apa?" tanya Aris melihat istrinya.
"Upin Ipin," jawab ayu.
"wah tonton anda berbobot sekali, bocah yang sudah sembilan tahun tak besar-besar," kata Aris.
"lah bingung mau nonton apa, kadang Feli mendownload film dan kami menontonnya bersama," kata Ayu.
"film apa?" tanya Aris penasaran
"film horor dan film luar negeri lah pokoknya," jawab Ayu.
"ya sudah kalian nonton saja, Mbah mau istirahat dulu ya," kata pak Mun yang pamit langsung masuk ke kamarnya.
kamar pak Mun di lantai satu, kebetulan berapa bulan lalu mereka sempat merenovasi rumah untuk menambah kamar.
tak butuh waktu lama ayu menunjukkan isi USB yang terpasang di tv rumah Aris.
pria itu heran melihat judulnya, akhirnya dia penasaran dengan isinya.
Aris di buat melongo saat film itu di putar ternyata itu adalah film semi Jepang.
ayu pun hanya tersenyum melihat keterkejutan suaminya, "sayang..."
"itu Feli yang membawa film, bukan aku," kata Ayu.
Aris yang sudah berpuasa dua bulan pun terpancing, "lihat dia jadi on begini," kata Aris.
"sebenar aku susah selesai nifas dan mas Aris sudah bisa melakukannya dengan ku, tapi pelan-pelan ya," kata Ayu.
"tapi bagaimana, Niken masih terbangun," kata Aris yang merasa sudah tak tahan lagi.
ayu pun menimang Niken dan tak lama putrinya pun tertidur, Aris pun dengan semangat langsung mengajak istrinya itu ke kamar.
__ADS_1