
keesokan harinya, Eko terlihat begitu lesu, Aris yang datang ke gudang jagung heran melihat anak buahnya itu.
"bos, jagungnya sudah siap berangkat, aku jalan dulu ya," kata Sugik yang sengaja lembur dan mulai bekerja pagi buta demi memenuhi janjinya pada perawat kemarin.
"tunggu dulu, bawa ini bersama mu, istriku kambuh buat sarapan banyak, di dalamnya ada nasi empat kotak, dan dua kotak gorengan, pas bukan," kata Aris.
"iya bos, terima kasih," jawab Sugik yang langsung naik ke truk gandengan yang membawa puluhan ton jagung ke sebuah pabrik.
Aris duduk di depan Eko, "kamu kenapa, tidak punya uang, atau adik mu gak mau berdiri?" tanya Aris.
"ya elah si bos, datang-datang sudah ngomong kotor, bukan aku heran Ambar akhir-akhir ini sering banget marah dan nangis gak jelas," jawab Eko.
"coba beli tes kehamilan saja, soalnya kemarin istriku juga begitu, eh ternyata hamil, tapi kami tak tau," jawab Aris.
"baik bos, terus gak ada sarapan nih buatku?" tanya Eko.
"beh... kalau masalah makanan saja kamu ketinggalan," kata Aris.
dia membagikan semua nasi buatan istrinya pada semua orang, dia juga makan untuk kedua kalinya.
karena perutnya masih lapar,tapi beruntung sekarang Ayu memasak nasi hitam untuk Aris karena takut suaminya itu gendut dan juga terkena penyakit kolesterol, asam urat atau bahkan diabetes.
setelah selesai sarapan, Aris melepaskan jaketnya dan mulai membantu untuk menjemur jagung di pelataran.
sedang Eko memberi makan gurame di kolam khusus di belakang gudang.
Aris bahkan terlihat begitu biasa berpanas-panasan bersama semua orang.
"juragan sudah, biar saja saja," kata pak Edi yang melihat Aris.
"sudah pak gak papa, kasihan kalau bapak sendiri yang harus ngurik jagung yang sedang di jemur ini sendirian," jawab Aris yang memang tak keberatan.
sebenarnya dia bisa saja memilih untuk memberi makan ikan di belakang, tapi dia lebih malas karena kolam pasti berlumpur karena hujan semalam.
Eko datang dengan keadaan kotor satu badan karena lumpur, terlebih pria itu terlihat sangat kesal, "gak usah marah, tinggal di cuci kan," kata Aris yang sebenarnya ingin tertawa melihat pria itu.
pasalnya Eko datang dengan kondisi penuh lumpur, dan sepertinya dia habis berkubang di belakang.
"kamu memangnya habis ikut berenang bareng ikan-ikan," ledek Aris yang sudah tak tahan.
"ledek aja terus bos, ini akibat bos tak mau menyemen sekeliling kolam, pasti begini kalau habis hujan," protes Eko.
__ADS_1
"maaf-maaf, nanti kalau selesai panen, kita semen dulu baru di isi lagi, kamu cari orang saja buat mengerjakannya," jawab Aris yang tak ingin para orangnya itu kesusahan.
"siap bos," jawab Eko.
pak Edi tak mengira, dengan mudah Aris menyetujui permintaan Eko, tapi memang dia sadar jika bekerja di tempat Aris begitu menyenangkan.
mulai dari gaji yang tak pernah telat, bahkan kadang ada bonus dari ayu, dan saat ada yang sakit, maka Aris tak segan untuk membayar pengobatan mereka sampai sembuh.
"juragan gak takut untungnya habis," tanya pak Edi.
"gak kok pak, saya yakin jika Allah sudah mengakar rezeki setiap makhluknya, dan lagi bapak tak mau Kan jika melihat ibu juragan mengomel karena ada masalah di pekerjaan," kata Aris tertawa.
"eh ... Bu juragan mengomel, saya tak pernah tau?" bingung pak Edi.
"karena dia biasanya mengomeli saya, bos Aris dan Sugik yang tak menjaga semua pekerja," jawab Eko yang sudah berganti baju
"itu benar," jawab Aris menambahkan.
pak Edi hanya mengangguk mengerti, berarti ayu begitu memperhatikan semua pekerja di tempat suaminya.
tak terasa Aris dan Eko menunggu hingga siang di gudang guna menemani pak Edi yang memang sendirian karena yang lain ikut dengan Sugik.
ayu datang mengendarai motor yang baru di beli oleh Aris demi istrinya agar tak berjalan kaki lagi.
pasalnya dia tak ingin istrinya itu jatuh saat melewati jagung yang sedang di jemur itu, terlebih itu sangat licin jadi bahaya jika di paksa melewatinya dengan motor.
Aris mengunci stang motor itu, baru menggandeng istrinya dan mengajaknya masuk.
"mas, aku ingin makan gurame goreng, tapi siapa yang mau bantu bersihinnya?" tanya ayu sedih.
"Eko tidak bisa, biar aku minta tolong pak Edi, siapa tau dia mau," jawab Aris yang terus menuntun istrinya itu agar hati-hati.
"Eko dan pak Edi, mari makan dulu," ajak Aris.
"iya juragan," jawab pak Edi.
akhirnya ketiganya pun makan siang di temani oleh Ayu, setelah makan siang selesai Aris meminta bantuan pak Eko untuk membersihkan ikan gurame karena ayu ngidam.
ayu pun ikut ke belakang untuk melihat kolam, tapi baru juga akan masuk ke area belakang.
ayu sudah menatap tajam suaminya, "ada apa lagi sayang?"
__ADS_1
"mas ih... ini kenapa kok bisa seperti ini, Kan kasihan kalau yang kerja jatuh kalau jeblok begini," kata Ayu.
"iya sayang, maafkan suamimu ini, tapi kita hanya bisa memperbaikinya saat semua kolam sudah panen agar tak membuat ikannya stres," terang Aris.
"baiklah tapi secepatnya,"kata ayu yang kini merangkul lengan suaminya karena jalannya licin.
pak Edi melihat Eko, pasalnya dia baru kali ini mendengar Ayu yang banyak bicara.
"sudah pak jangan kaget begitu, kami sudah biasa," jawab Eko.
"Bu juragan mau ikan besar atau ikan yang sedang?" tanya pak Edi.
"yang sedang saja pak, tolong ambilkan sepuluh ya," kata Ayu.
Aris melihat istrinya, dan Ayu memutar kepala Aris, "Lima buat kita, yang Lima buat keluarga pak Edi yang sudah harus repot karena harus membersihkan.
"iya iya, ambilkan pak," jawab Aris yang pasrah.
Ayu menunggu sambil mengupas jantung pisang yang tadi dia dapatkan.
Aris pun mengawasi istrinya itu yang terus sibuk sendiri dari tadi, pak Edi sudah selesai membersihkan.
bahkan sudah sesuai permintaan ayu juga, dan sudah memisahkan antara milik ayu dan yang lain.
"baiklah, sekarang aku pamit pulang ya mas, nanti malam mas akan makan jantung pisang," kata Ayu.
"apa itu bisa di makan sayang? karena bentuknya tak meyakinkan begitu," kata Aris.
"sudah nanti cicipi saja, akan ku buat jadi dendeng kesukaan mas," Jawab Ayu.
Aris pun mengangguk dan melihat istrinya pergi menjauh, Ayu mengendarai motornya menuju ke rumah pak Edi.
terlihat istri pria itu sedang menyuapi putra terkecilnya itu makan.
"assalamualaikum..."sapa ayu lembut.
"waalaikum salam.. ibu juragan, ada apa kok tumben?" tanya wanita itu yang begitu senang melihat ayu.
pasalnya sebulan yang lalu, putri pertama mereka sakit dan Aris yang menanggung semua biaya rumah sakit.
terlebih setelah pulang, ayu dan Aris masih mengunjungi dengan membawa sembako.
__ADS_1
"tenang Bu, saya cuma mau mengantarkan ikan yang baru saja di tangkap, karena pak Edi yang membersihkan," terang ayu.
"ya Allah terima kasih Bu juragan, kebetulan si kakak ingin makan ikan," kata wanita itu dengan sangat senang.