Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
bala bantuan datang


__ADS_3

Sugik baru datang dari kota, penampilannya memang seperti preman dengan tato di seluruh tubuhnya.


para warga yang bertemu dengan pria itu kaget, terlebih wajah seramnya yang seakan ingin membunuh semua yang di tatapnya.


"maaf permisi... dimana rumah juragan Aris?" tanyanya dengan sopan.


"itu mas, rumah paling ujung dan yang paling bagus," jawab para ibu yang sedikit ketakutan.


"terima kasih ya Bu, kalau begitu permisi," pamit pria itu.


dia tak mengira dari putra seorang pengusaha sukses, bos-nya itu mau tinggal di tempat yang begitu terpencil seperti itu.


bahkan disini masih banyak orang yang menganggon kambing dan bebek.


dia pun sampai di rumah itu, dan terlihat ada dua orang wanita sedang duduk di teras rumah sambil bercanda.


dua mengenali sosok istri dari bosnya itu, "selamat siang Bu bos," sapa Sugik.


"loh... bang Sugik baru datang, mari silahkan masuk, pasti capek ya, kenapa tidak bilang saja, biar tadi di jemput anak buah mas Aris," jawab Ayu yang langsung mempersilakan pria itu duduk.


Ambar pun tersenyum pada pria itu, "takut ganggu Bu bos, habis bos sulit kalau di telpon," jawab Sugik.


"baiklah, biar saya buatkan minum dulu, nyonya Eko tolong di temani sebentar ya, saya masuk dulu," pamit Ayu.

__ADS_1


"iya ibu juragan," jawab Ambar tersenyum.


sekarang dia tau kenapa dulu Eko benar-benar ingin ikut arus pulang ke desa.


ternyata pria itu sudah menikah dengan gadis desa yang sangat cantik.


Sugik alias logan ini tak mengira jika dia juga akan berakhir di desa seperti kedua orang yang di kenalnya.


dasi kejauhan terdengar suara motor trail datang, ternyata itu Eko dan Aris yang baru selesai melihat beberapa sawah dan peternakan miliknya.


"Logan!!" panggil Eko.


"Sugik Eko, Sugik .." kesal pria itu mendengar panggilan teman lamanya itu


"sayang, tong dua gelas minuman dingin ya," panggil Aris pada istrinya.


"iya mas juragan," jawab Ayu dari dalam.


"sulit atau gak?" tanya Aris pada anak buahnya itu.


"sulit sih enggak, cuma para ibu-ibu di sini ketakutan melihat ku, apa karena tangan ku yang full tato ini?"bingung Sugik.


"sepertinya, sudah nanti di hapus perlahan, aku juga sudah mulai menghapusnya, meski belum seluruhnya," jawab Eko.

__ADS_1


"kalau bos?"


"masih ada, menang Kenapa, toh istriku tak protes ini juga, oh ya kamu nanti tinggal di rumah pak Mun dan mulai besok membantu Eko untuk mengurus semua di sini, bagi tugas, karena kalian berdua adalah orang kepercayaan ku," kata Aris


"yes... akhirnya aku tidak menjadi budak sendirian," kata Eko tanpa sadar.


Aris melotot mendengar ucapan itu, "sudah jangan berantem,aku juga bisa bantu loh, ini di minum dulu tapi," jawab ayu yang datang membawa nampan berisi minuman dingin dan kue


"kamu bagian pembukuan dan keuangan saja, biar kami bertiga yang bekerja di lapangan, setidaknya jika hitam kan biar kami para pria.


"Ita juragan, iya, meski aku sudah makin hitam begini," jawab Eko pasrah.


"dan tugas pertama bang Sugik adalah melobi orang kelurahan agar kita bisa membangun jalan Desa, terlebih biar truk pengangkut yang terus wara-wiri tak kesulitan," kata ayu.


"memang anggarannya sekitar berapa milyar dek?" tanya Aris yang belum sempat menghitungnya.


"kalau kemarin aku hitung kasar, sekitar habis dua setengah milyar mas, karena kita beli cor di pabrik biar cepat," jawab Ayu.


"baiklah, kamu yang bisa mengaturnya, dan aku percayakan semua keuangan padamu," jawab Aris.


"baiklah Bu bos, besok biar saya ajak pak Mun untuk ke kelurahan, sekalian lapor dan mengurusi surat pindah juga," jawab mas Sugik.


"mantap tuh," jawab Eko yang membuat semuanya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2