
"apa maksudnya juragan, apa anda keberatan memgeli Keduanya," tanya pak Didik
"tidak pak, tapi setelah itu anda akan bekerja apa, saya kasihan jika bapak harus susah di hari tua," kata Aris memijat keningnya.
"tapi putra saya ingin meminta motor baru," kata pak duduk yang keceplosan tanpa sadar.
"apa? begini saja biar kami beri pelajaran pada anak bapak biar dia sadar jika hidup tak selamanya enak apalagi dia itu putra pertama dan terus mengusik bapak, seharusnya dua membanggakan orang tuanya," kata Aris.
"tapi bagaimana caranya?" tanya pak Didik.
"serahkan pada kami," kata Aris tersenyum menyeringai
sedang ayu hanya menggeleng pelan, pasalnya suaminya itu pasti punya ide aneh lagi.
tapi jika itu terjadi demi kebaikan semua orang, ayu akan setuju atau bahkan mau membantunya.
pak Didik pulang membawa uang sambil menangis sedih, tapi sayangnya di jalan dia di rampok oleh beberapa penjahat.
dia di lukai dan uangnya di ambil, pria itu di buang ke sawah oleh kawanan penjahat itu.
penjahat itu termasuk begitu berani karena beraksi saat sore hari, bahkan di tengah keramaian orang yang berada di sawah.
mereka membantu membawa pak Didik ke puskesmas terdekat, pria itu punya luka sayatan.
tak ada yang bisa membayar puskesmas itu, dan akhirnya mereka meminta seseorang untuk minta bantuan dari juragan Aris.
Aris datang bersama ayu untuk melihat kondisi pak Didik, mereka membayar uang puskesmas untuk perawatan dari pak Didik.
Ayu kesal melihat kondisi pak Didik yang terluka seperti itu, Aris pun menghindari pandangan mata istrinya.
tak lama keluarga pak Didik datang, mereka begitu sedih melihat kondisi pak Didik yang begitu buruk.
"ya Allah pak, sudah ibu bilang untuk tak datang sendiri, sekarang bapak bisa terluka seperti ini..." tangis Bu didik yang mengema.
"maafkan bapak ya Bu, bapak kehilangan semua uang kita, bahkan bapak juga terluka seperti ini," kata pak Didik.
"bapak uang bisa di cari, tapi jika bapak sampai tiada bagaimana ibu bisa menjalani hidup tanpa dirimu?" kata Bu Didik dengan sedih.
__ADS_1
"dasar pria tua tak berguna,menjual tanah saja malah di rampok orang, sekarang kita sudah kehilangan uang itu, itu semua salah bapak, sekarang bagaimana aku bisa beli motor," marah Dika putra pak Didik.
tanpa di duga sebuah tamparan di terima pria itu, Ayu benar-benar marah mendengar ucapan dari Dika yang malah menyalahkan pak Didik.
"kamu tidak punya hati, bagaimana bisa kamu bisa mengatakan itu, beliau seperti ini karena demi dirimu," marah Ayu.
"hei dasar wanita busuk, tak perlu kau berpura-pura baik, kamu itu cuma gadis kotor," kata Dila menghina ayu.
"hei!!! kau ingin aku membuat mu cacat seumur hidup mu, apa kamu lupa bagaimana aku bisa membuat Agus cacat, apa kamu juga mau seperti itu juga, atau perlu aku buat kalian semua ingat, siapa yang berani menghina istriku apa hukumannya," kata Aris yang mencekik leher Dika.
pria itu mulai kehabisan nafas, Aris bahkan bisa membunuh orang dengan satu tangannya.
"juragan tolong maafkan Dika, saya salah karena ini semua saya yang tak hati-hati," mohon pak Didik.
Aris langsung membuat Dika membungkuk dan mencengkram leher belakang pria itu.
"lihatlah, pria yang begitu melindungi mu, bahkan rela melakukan apapun, apa kamu tak pernah punya rasa empati sedikit pun, terlebih dia adalah orang tua yang selalu berusaha membuat keluarganya bahagia, tapi kenapa kamu putra pertama yang seharusnya membanggakan orang tua, malah jadi tak berguna begini," kata Aris marah.
semua orang pun setuju dengan ucapan dari Aris, tapi Dika tak suka diatur.
"bolehkah aku membunuhnya," marah Aris.
"jangan juragan Aris, saya mohon maafkan putraku yang bodoh ini, ini kesalahan kami yang memang terlalu memanjakan anak kami juragan," mohon Bu Didik.
Aris langsung nebdiring Dika hingga tersungkur di kaki sang ibu, Aris benar-benar tak suka sifat dan sikap dari Dika.
"baiklah Bu, kalau begitu saya pulang dulu pak Didik, dan tolong jangan khawatir karena kami susah membayarnya," jawab Aris.
Ayu memeluk Bu didik dan memberikan sedikit untuk merawat pak Didik dan membeli obat.
keduanya pulang bersama semua orang, Dika pun pergi karena marah karena keinginannya tak bisa terwujud.
sedang Ayu yang berada di mobil masih kesal, pasalnya kondisi dari pak Didik yang cukup parah.
"mau beli sate gak dek, aku pingin nih," kata Aris.
"boleh dong, aku ingin makan juga," jawab ayu yang bisa di alihkan.
__ADS_1
Aris ingin tersenyum saja, pasalnya istrinya itu benar-benar terlalu mudah di pengaruhi.
keduanya sampai di warung sate langganan, ayu memesan dua puluh tusuk sate ayam dan dua puluh sate kambing karena itu kesukaan dari suaminya.
keduanya langsung duduk di pojokan, tak lama ada beberapa orang yang datang.
mereka memilih tempat duduk berdekatan dengan keduanya, dan dengan sangat santai.
bahkan mereka mulai merokok di warung itu, melihat itu Aris kesal, pasalnya dia tau jika asap rokok sangat tak baik.
"hei tuan, bisakah merokok di luar, ini warung makan tolong hormati pelanggan yang lain," tegur Aris.
"kenapa kamu berisik sekali, jika tak suka pergi saja," kata pria itu.
"sudah mas, lebih baik kita bungkus dan kita makan di rumah saja, aku sudah sesak di sini," kata Ayu memohon.
"maaf juragan, anda bisa ke ruang tamu kami, setidaknya Bu juragan bisa aman," kata penjual sate itu.
Aris dan Ayu pun menuju ke ruang tamu yang tak jauh dari warung, dan penjual itu nampak senang karena Aris adalah Langganan dari lama.
jadi mereka tak ingin mengecewakan pelanggan setia mereka, ayu sangat menyukainya.
begitu pun Aris yang juga sangat menikmati makanan yang selalu begitu menggugah selera itu.
setelah selesai mereka pun pulang sebab istrinya itu harus beristirahatlah, karena Aris takut jika kondisi dari Ayu yang kelelahan karena keributan tadi.
saat keluar dari warung, seorang gadis melihat Aris, dia begitu senang karena bisa melihat penolongnya.
"tunggu dulu mas," kata wanita itu menarik lengan dari Aris.
bahkan gadis itu hampir jatuh tersungkur karena gadis itu, Aris pun menahan ayu.
"hei kau gila, kenapa kamu mendorongnya," bentak Aris.
"maaf aku tak sengaja, apa kamu tak terluka,maaf ya, aku hanya terlalu senang karena bertemu dengan penyelamat ku," jawab wanita itu sambil menggandeng tangan Aris.
"lepaskan!! kenapa kamu menempel seperti ini," marah Aris menghempaskan tangan wanita itu.
__ADS_1