Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
balasan juragan


__ADS_3

Aris sedang duduk di ruang tamu bersama Sugik, sedang Feli sudah tidur di kamar tamu.


ya malam ini mereka menginap lagi, karena Aris ingin keluar dan tak tega jika harus meninggalkan istrinya di rumah sendirian.


jadi Feli di minta tidur untuk menjaga ayu, jadi jika wanita itu butuh sesuatu, gadis itu bisa membantu Ayu.


"jadi kita mau bagaimana bos, apa perlu kita melakukan sesuatu untuk membalas pria itu?" tanya Eko yang juga datang.


"aku tau ini bukan ulah Hartono,tapi ulah Jatmiko, sepertinya memang harus mulai menunjukkan siapa yang ingin mereka tantang," kata Aris.


"kalau begitu kita tunjukkan saja bos, siapa tau dia bisa berhenti atau mungkin kita bisa membuatnya sedikit merasa bersalah," kata Eko.


"itu bukan gaya kita, kalau ada yang menjengkelkan, bereskan saja," saut Sugik.


"nih otak sebenarnya isinya apa sih, kok ingin bunuh orang terus," kesal Eko pada temannya itu.


"itu ada di darah kita, kamu lupa," kata Sugik tersenyum dengan seram.


"mampus," jawab Eko.


"sudah, sekarang kita berangkat saja dulu, sambil memikirkannya nanti," kata Aris.


mereka pun berangkat menuju ke rumah Jatmiko, pasalnya mereka ingin melihat pria itu menyesal atau menerima balasan.


mereka memilih menaiki motor, dan saat sampai di rumah pria itu, terlihat Hartono sudah ada disana.


"kalian sudah tak sabar menunggu kamu rupanya," kata Aris yang turun dari motor miliknya.


"maafkan kami juragan Aris, bisakah kita membicarakan semuanya dengan tenang, aku tau jika semua ini salah," mohon Hartono.


"bagaimana dengan kakak mu itu, bukankah dia kira mengincar istriku adalah perbuatan bebar, padahal semua orang tau jika dia sedang hamil," kata Aris dengan kesal.


arus sebisa mungkin menahan dirinya agar tak marah sekarang, dan mendengar semuanya.


tapi dengan angkuh Jatmiko keluar dari rumahnya, "alah wanita kotor saja begitu kau lindungi, kenapa Kamu begitu bodoh, dan memilih untuk menyerahkan kursi lurah pada Priyono, seharusnya Hartono yang lebih kompeten," marah pria itu.

__ADS_1


Aris langsung menerjang dan memukuli Jatmiko, Sugik dan Eko menahan Aris, sedang Hartono membantu sang kakak yang sudah babak belur.


bahkan pria itu sudah mimisan karena pukulan Aris yang begitu membabi buta.


"aku akan membunuhmu, karena berani menghina istriku, aku tak akan melepaskan mu sedikitpun!!" marah Aris yang seakan kehilangan akal sehatnya itu.


"tenang juragan kamu bisa membunuhnya," kata Eko menahan Aris bersama Sugik.


dia selalu kuwalahan jika menahan Aris yang marah, karena tenaga pria itu tak bisa di bandingkan dengannya atau Sugik.


bahkan Aris kadang tak peduli dengan semua orang hingga sering terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


Jatmiko susah merasa begitu kesakitan terlebih pukulan dari Aris begitu kuat.


bahkan wajahnya pasti sudah tak terlihat mungkin, Hartono batu pertama kali melihat sosok Aris yang begitu beringas.


padahal biasanya pria itu tetap tenang meski ada orang yang berbuat salah, dan yang turun tangan cukup Eko atau Sugik.


"juragan aku mohon tenanglah," mohon Hartono.


"memang benar bukan, dia sudah di lecehkan oleh Agus," kata Jatmiko.


"kamu bisa tutup mulutmu atau perlu aku," teriak Aris yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.


Sugik dengan sengaja melepaskan tubuh Aris yang di tahannya. Hartono di dorong ke samping hingga terjatuh ke kolam ikan.


sedang Aris langsung mengejar Jatmiko dan membenturkan pria itu ke tembok.


darah pun terlihat, "mas!!" teriak Hartono melihat hal itu.


Aris pun menatap Hartono dengan marah, "sudah ku katakan suruh kakakmu itu menutup mulutnya, dia berani menghina istriku, aku tak segan lagi untuk membunuhnya, Eko bawa pria busuk ini ke rumah sakit, dan pastikan pria ini tak bisa bicara lagi," kata Aris yang berjalan dengan dingin.


"aku akan menuntut mu karena percobaan pembunuhan," kata Hartono mengancam Aris.


"aku juga bisa melakukannya, aku akan menuntut mu melakukan pelecehan terhadap gadis di bawah umur, percobaan pembunuhan terhadap istri ku, dan juga menuntut adik-adik mu sebagai pengendara narkoba, apakah kita aku tak tau keluargamu, jadi pikirkan itu baik-baik mengerti," kata Aris yang langsung pergi.

__ADS_1


"kamu mau cuma diam, atau mau menyelamatkan kakakmu, dan palingan dia juga tak akan mati, karena kepalanya tak sampai pecah, itu sudah keberuntungan dari juragan, jadi jangan berani mengusiknya lagi," kata Eko yang memperingatkan Hartono.


akhirnya malam itu Eko membantu membawa jatmiko ke rumah sakit, sedang Aris duduk di bug sungai di desanya.


Sugik menemani pria itu, tak lama pak Edi datang karena telpon dari Sugik.


"ini juragan dan mas Sugik kenapa main ke sungai begini, ini sudah hampir tengah malam loh," kata pak Edi yang membawa kopi dan tahu goreng panas.


"wih mantep nih, tau saja aku sering lapar saat malam," kata Sugik yang mengambil tahu setengah matang itu yang masih panas.


"hah... nanas .." kata Sugik yang kepanasan.


sedang Aris tak bisa terus melakukan ini, tapi dia tak suka mendengar ada yang menghina istrinya seperti tadi.


"juragan Kenapa? sepertinya banyak pikiran sekali?" tanya pak Edi melihat raut wajah pria itu.


"hanya sedang kesal, bawa tahu tak ada sambalnya pak?" tanya Aris yang sedikit berubah ekspresi agar pak Edi tak curiga.


"bawa dong, tapi sambel petis entah juragan suka apa tidak, tapi ada cabe juga kok," kata pria itu yang fokus menuangkan kopi.


"ngomong-ngomong maaf ya pak, saya menelpon mu untuk merepotkan mu, habis kalau di sini gak ada cemilan kan gak seru gitu," kata Sugik


"gak papa mas, orang saya juga belum tidur, tadi kebetulan juga sedang makan, biasa perut suka laper jam segini, tapi juragan dan mas Sugik ngapain disini?" tanya pak Edi


"biasa saya nemenin Sugik yang lagi galau, gak jadi nikah lagi dia, soalnya Feli gak suka sama calonnya," jawab Aris.


"yey.... juragan kalau ngomong, suka bener sih, karena Feli adalah adik yang paling aku sayang, jadi jika dia tak mau di pastikan orang tua ku pasti juga tak setuju," jawab Sugik.


"memang siapa sih calonnya, kok kayaknya mbak Feli begitu menolak," jawab pak Edi penasaran.


"itu loh pak, perawat di UGD yang namanya Bella, dia putri siapa aku lupa," kata Aris yang tak ingat nama orang tua gadis itu.


"owalah, mbak bella yang perawat itu, kalau aku juga tak akan mengizinkan, pasalnya mas Sugik begitu hebat kenapa harus nikah dengan wanita seperti itu, bagaimana jika saya kenalin sama keponakan istriku, meski dia tak cantik dan tak kurus, pasti dia lebih baik, dia pintar memasak dan jarang keluar dari rumah, bahkan begitu menurut pada orang tua," tawar pak Edi.


"memang dia segemuk apa sih pak, kok kayaknya pak Edi menggambarkan dia tak kurus berarti gemuk ya?" tanya Aris.

__ADS_1


__ADS_2