Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
kami bukan orang biasa


__ADS_3

Sugik pun menyeringai, dia tak mengira akan melakukan hal seperti ini meski hidup di desa.


tadi dia menghubungi anak buahnya dan merencanakan segalanya, terlebih dia tak suka jika keluarga bos-nya di usik.


dia langsung memutuskan pulang, tak lupa dia menghubungi Aris untuk melapor tentang segalanya.


Ayu melihat ponsel suaminya berdering dan ada nama Sugik di layar ponsel itu.


"mas sayang, ada telpon dari mas Sugik, mau di angkat atau bagaimana?" tanya Ayu.


"angkat saja sayang, takutnya ada yang penting, maaf aku masih kebelet," saut Aris dari kamar mandi.


ayu langsung mengangkat telpon itu, "assalamualaikum... ada apa mas?" tanya ayu.


"ah Bu bos, tolong beritahu pada bos juragan jika tugasnya selesai dengan lancar," kata Sugik.


"tugas mengantarkan Nita ke UGD, terus bagaimana dengannya," tanya Ayu.


"maaf Bu bos, setelah aku mengantarkan dia tadi aku langsung pulang karena dia tak ingin di temani, ini adalah tugas lain karena lusa ada panen di tambak gurame di gudang kampung sebelah, aku juga sudah mendapatkan beberapa rumah makan yang siap menampung," kata Sugik menjelaskan.


"owh begitu, terima kasih atas kerja keras mu ya mas, kalau begitu nanti aku akan mengatakan pada mas Aris," kata ayu.


"baiklah Bu juragan, kalau begitu saya tutup telponnya," kata Sugik.


pria itu tersenyum dan sampai di sebuah warung untuk membeli rokok.


setelah itu dia pulang dan menunggu siaran dari masjid tentang kematian wanita yang nampak baik ternyata busuk itu.


pak Mun heran melihat Sugik, pasalnya wajah pria itu dia kenal benar.


ya bagaimana pun dia melihat ketiga orang itu tumbuh bersama, bahkan Aris lebih memiliki wajah yang mengerikan saat jiwa psikopatnya keluar.


Aris baru keluar dari kamar mandi, dia kapok karena makan sambel geprek buatan istrinya.


entah berapa cabe yang di berikan oleh ayu saat membuat sambal, terlebih rasanya begitu panas.


Ayu memberikan susu hangat pada Aris supaya perutnya tak panas lagi, "kapok sayang aku," katanya dengan lemas.


"maaf deh mas, habis aku sudah bilang jangan ikut makan, tapi mas gak bisa di bilangi," terang Ayu.

__ADS_1


dia juga menjelaskan kenapa Sugik telpon, dia tau jika tinggal menunggu kabar untuk menyebar saja.


pak RT yang tau tentang kecelakaan yang melibatkan Nita, terkejut saat mendatangi rumah sakit.


pasalnya kondisi wanita muda itu sangat buruk, dia pun menghubungi pak RW untuk menyiarkan tentang kematian Nita.


pak RW langsung menyebar orang untuk ke seluruh masjid dan musholla untuk melakukan siaran.


semua warga kaget karena ada berita duka saat malam hari, Aris dan Ayu keluar agar lebih jelas.


ayu terkejut saat tau siapa yang meninggal dunia, pasalnya tadi mereka masih bertengkar, tapi sekarang Nita sudah meninggal dunia.


"sudah sayang, umur orang tak ada yang tau," kata Aris mengusap kepala istrinya.


"iya mas, aku hanya kaget saja," jawab ayu.


pak RW juga meminta bantuan pak haji untuk mengurus jenazah gadis itu.


terlebih gadis itu tak memiliki saudara, karena setelah kematian dari kakeknya gadis itu tinggal sendiri.


semua sudah berkumpul di rumah Nita, begitupun Eko yang datang menjemput Aris dan berangkat bersama.


ayu tak diizinkan pergi karena takut mempengaruhi kondisinya, dan bisa saja membuat lebih memburuk karena angin malam. begitu pula dengan Ambar yang juga berada di rumah.


suara sirine ambulan memecahkan kesunyian jalan di desa itu, semua orang pun langsung mendekat.


pak haji pun tak mengizinkan untuk membuka peti mati karena kondisi Nita.


akhirnya di putuskan untuk memakamkan jenazah gadis itu dengan peti matinya juga.


Aris, Eko dan Sugik berada di barisan paling belakang saat perjalanan menuju ke arah makam.


Aris berdiri di samping liang lahat untuk memastikan jika yang mati benar-benar wanita itu.


"pak haji, bukankah saat kita mati Maris tetap mencium tanah saat di makamkan?" tanya Aris.


"itu benar juragan, tapi untuk beberapa kasus di perbolehkan," jawab pak haji.


"memang seburuk apa sampai tak mengizinkan mereka peti," tantang Aris.

__ADS_1


sangat buruk juragan," jawab pak RT yang menunjukkan video yang di ambilnya saat Nita akan di kafani dan di masukkan ke peti mati.


Aris pun mengangguk, akhirnya pemakaman pun di lanjutkan, saat itu Sugik membisikkan sesuatu.


"bereskan saja, kamu tau cara kita bermain bukan," Jawab Aris.


akhirnya semuanya pun pulang setelah selesai, Aris mencuci tangan dan kakinya.


tak lupa dia juga mandi sebelum masuk ke rumah, terlebih istrinya sedang hamil.


tapi dia ingat pesan Raka, jadi dia mengambil garam pemberian Raka dan menaburkannya di depan rumah sebelum masuk.


malam itu, suasana desa makin sunyi, Sugik duduk di teras bersama dengan pak Mun sambil menikmati rokoknya.


bahkan malam itu hujan gerimis mulai turun lebat, "di desa ini kenapa ya, padahal belum tujuh harian pak Sunandar, sudah ada yang meninggal lagi," kata pak Mun


"dalam sehari pak, ya mungkin memang sudah waktunya, ya umur orang siapa yang tau," jawab Sugik enteng.


"yakin bukan karena kesengajaan, aku sangat mengenal kalian bertiga loh," kata pak Mun yang ingin tertawa.


"memang tak ada yang bisa di sembunyikan dari bapak ya, ya bapak tau aturan kami, siapa yang bertingkah dia mati," jawab Sugik.


"memang dia kenapa?"


"dia berani menghina Bu juragan, dan membuatnya sampai marah besar, karena ingin jadi istri kedua juragan Aris dengan tak tau malunya," jawab Sugik menerangkan.


"benarkah, tapi kenapa, padahal dia itu sangat menjaga harga dirinya, bahkan dia sering dapat pujian dari orang karena sifatnya itu," kata pak Mun tak percaya.


"ya mau bagaimana lagi, semua terjadi karena uang, siapa yang tak tergiur oleh uang milik cucu menantu anda itu," jawab Sugik tertawa.


"tapi seandainya mereka tau dia sebenarnya bagaimana, pasti tak akan ada yang mau, tapi aku sedikit heran bagaimana seekor singa jantan takhluk pada kucing kecil yang begitu lemah," kata pak Mun mengumpamakan hubungan Aris dan ayu.


"itulah cinta, siapa yang akan berlabuh pada siapa dan bagaimana kisahnya," jawab Sugik.


malam itu Keduanya terus berbincang di teras, sambil menikmati ubi panggang panas yang baru matang.


sedang Aris tak dapat tidur, karena dia tak suka seseorang mengusiknya, terlebih sampai melukai istrinya.


ini adalah contoh saja, jika dulu dia akan langsung mematahkan leher siapapun itu di tempat.

__ADS_1


"sayang, siapapun yang berani mengusik rumah tangga kita, akan ku kirim ke neraka, karena aku tak suka melihat mu menangis," lirih Aris membelai rambut panjang Ayu yang terlelap di pelukannya.


dia pun ikut memejamkan matanya, pasalnya besok masih banyak hal yang harus di kerjakan.


__ADS_2