Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
hari pemilihan


__ADS_3

Aris dan semua calon kepala desa sudah di berikan jadwal untuk melakukan kampanye mereka.


jadi mereka tak akan saling sikut saat melakukan kampanye, dan harus secara adil, jujur dan terbuka.


bahkan Aris sudah menyiapkan pesta rakyat saat jadwal kampanye miliknya.


pasalnya dia tak bisa memberikan janji atau apapun itu, "jadi mas Aris, bagaimana visi misi untuk desa kita selanjutnya?" tanya pak Hartono.


"kalau saya di tanya begitu juga bingung pak, saya selama ini tak pernah ikut campur dalam masalah beginian, terlebih saya selalu fokus pada pekerjaan dan kesejahteraan dari pegawai saya," jawab Aris.


"tapi sekarang juragan sudah mencalonkan diri jadi calon kades, pasti semua warga bisa sejahtera jika juragan yang memimpin desa," kata mas Handika, nomor urut tiga.


"tidak seperti itu mas, saya hakim jika siapapun nantinya yang memimpin desa, saya yakin jika semua bisa mensejahterakan masyarakat, dan siapapun lurahnya nanti, bisa saja, mas Hartono, mas Handika atau mas Priyono, saya akan tetap mendukung, terlebih keinginan saya dan istri cuma ingin melihat semua warga tak ada yang kelaparan itu saja," jawab Aris.


"mas juragan ini terlalu merendah, saya bahkan yakin jika anda bisa menang," kata mas Priyono.


"semua sudah di atur oleh Allah, dan seandainya iya, saya malah takut jika itu malah membebani istri saya, karena kami akan segera punya bayi juga, jadi takutnya dia akan sangat kerepotan, terlebih semua usaha dan kesibukan kami selama ini," kata Aris yang menunjukkan ketidak pastian.


"mas juragan ini ngomong apa, siapapun yang jadi nanti, mati kita saling bantu ya, bismillah... kita buat desa ini maju bersama-sama," kata mas Handika.


"bismillah..." jawab keempatnya yang berjanji.


ayu terlihat sibuk bersama ibu-ibu, Aris tau jika ini keinginan warga, tapi dia tidak bisa melihat istrinya yang mungkin akan sangat sibuk.


terlebih kondisi ayu juga menghawatirkan, itulah kenapa sebelum masa tenang mungkin Aris akan menunjukkan pilihannya.


dan untuk sekarang dia membiarkan semua orang untuk berpesta dan merasa senang terlebih dahulu.


******


masa kampanye di desa Sumberwangi sangat kondusif, bahkan setiap ada acara kampanye selalu ramai.


bahkan para calon saling memberi dukungan, bahkan kini semuanya nampak seimbang dalam suara.


besok adalah masa tenang sebelum pemilihan, Sugik dan Eko sedang berada di rumah Aris.

__ADS_1


pak Edi dan pak Huda datang ke rumah Aris, "ada apa kalian kok nampak cemas begitu?" tanya Aris.


"ada serangan tengah malam juragan, tim sukses dari mas Handika semalam melakukan bagi-bagi uang pada warga," kata pak Edi yang nampak begitu tegang.


"memang bagi-bagi berapa?" tanya Aris dengan tenang.


"seratus ribu tapi cacah wuwung," jawab pak Huda.


"kalian juga?" tanya Sugik.


"kami ya enggak lah mas, orang kami pendukung juragan Aris," jawab pak Edi.


"loh kenapa, lak Yo di terima saja, orang rezeki kok," jawab Aris tak habis pikir.


"lah..." jawab pak Edi kaget.


"gini saja, kalau ada yang bagi-bagi uang, ya di terima saja orang rezeki," kata Aris.


ayu datang mengantarkan minuman untuk Semuanya, "iya pak Edi, itu kan rezeki," kata Ayu.


"loh Bu juragan, jika kami menerimanya, terus kami di anggap berkhianat dong," jawab pak Huda.


"ya juragan Aris yang membangun desa," jawab pak Huda


"yakin, jika saya korupsi dan membuat desa rugi ratusan juta, mungkin miliyaran, dan asal kalian tau jika selama menjadi lurah, mungkin kami akan berhenti membagikan sembako atau apapun yang biasanya kami berikan, karena itu bisa di anggap penyelewengan loh," kata Sugik menakuti kedua orang itu


"kok gitu, kalau begitu mending juragan tetap jadi juragan saja," kata pak Edi.


pasalnya jika Aris benar-benar melakukannya, sudah di pastikan jika semua pasti akan kesulitan.


terlebih, selama ini banyak janda dan anak yatim yang sangat terbantu oleh bantuan dari juragan Aris.


ayu ingin sekali tertawa, pasalnya melihat raut wajah ketakutan dari kedua pria itu.


padahal apapun yang di pikirkan nanti, mereka akan tetap membagikan bantuan tapi mungkin akan di atas namakan calon anak mereka.

__ADS_1


"sudah-sudah ini ada uang rokok untuk kalian berdua, sekarang pulang ya kami harus bekerja ini, bisa-bisa kalian gak gajian loh," kata Aris menakuti Keduanya.


"baik juragan kami pamit," jawab pak Edi dan pak Huda.


ayu hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah dari ketiga pria itu, "kalian ini benar-benar ya, mereka sudah mendukung mas Aris, eh malah di ledek begitu?" kesal Ayu.


"tenanglah sayang, kamu juga tau jika aku habis membeli beberapa kebun dan sawah baru, dan kami harus fokus untuk menggarap Semuanya agar semua tak rugi, dan lagi ada sebuah pabrik sablon yang akan di gunakan untuk menyerap para remaja tanggung yang lurus sekolah dan mengajari mereka keterampilan," kata Aris.


"itu benar Bu bos, belum lagi ada pabrik keripik yang kemarin Bu bos minta di beli karena hampir bangkrut, ibu bos sudah sibuk di sana bersama Ambar, aku jadi takut jika kalian akan kesulitan istirahat jika Semuanya di kerjakan," kata Sugik.


"jadi sekarang aku memutuskan untuk mundur, bahkan surat sudah ada di tangan, dan nanti biar orang-orang dari Eko yang membantu salah satu dari tiga calon yang lain nenang," kata Aris dengan mudah.


"terserah mas saja, tapi ingat jangan buat mereka kecewa ya, dan tolong pilih pemimpin yang sungguh-sungguh siap untuk memimpin desa," kata ayu


" pasti sayang, kami sudah menyiapkan Semuanya dengan tepat, bahkan aku meminta orang menyelidiki semua latar belakang mereka," jawab Aris.


Ayu pun setuju dengan pilihan suaminya, dan saat pemilihan kepala desa, semua warga berbondong-bondong datang.


Aris tak mengadakan serangan fajar, dan hanya dari tim sukses nomor urut satu yang melakukannya.


dan untuk tim urut empat juga melakukan hal yang sama dengan Aris, karena pria itu memiliki dasar agama yang sangat kuat.


meski masih muda, tapi dia di besarkan dengan baik, terlebih dia adalah putra dari pak haji yang selama ini selalu membantu Aris.


pencoblosan di lakukan hingga pukul satu siang, setelah itu perhitungan suara.


awal-awal suara milik Aris sangat mendominasi, tapi perlahan nomor urut empat menanjak melebihi suara perolehan Aris.


Aris tersenyum melihat itu, itu semua dia yang melakukannya, dia memberikan uang pada semua anak buahnya dan meminta membagikan pada semua warga, dan mengatasnamakan nomor urut empat.


bahkan sebelum acara perhitungan suara selesai, Aris sudah memberikan selamat pada Priyono.


pemuda itu bisa di pastikan akan jadi kepala desa selanjutnya, dan Aris akan mengawasi semua kebijakan-kebijakan pria itu.


pak haji langsung memeluk Aris sambil menagis, dia tau semua yang di lakukan oleh Aris.

__ADS_1


"sudah pak haji, semoga putra anda amanah, dan ingat jika aku orang pertama yang akan menegurnya jika dia melakukan kesalahan," kata Aris.


"baik juragan, aku akan membimbingnya," jawab pak haji.


__ADS_2