
semua masih tak mengira bisa melihat hal mistis begitu, terlebih Menik yang di kenal sebagai wanita paling cantik di desa.
"kamu jangan syok begitu juragan? ini di desa jadi hal mistis sudah biasa, jika ada apa-apa nantinya kamu bisa menghubungi ku," kata Raka yang berjalan kembali untuk duduk di teras.
Wulan memberikan air yang dia bawa agar Ayu tak lagi kaget, pasalnya wanita itu nampak syok.
"itu biasa, aku sering menghadapinya, para wanita yang mengejar suamimu," jawab Wulan menenangkan ayu.
"iya mbak," jawab ayu
akhirnya setelah semuanya selesai, Eko dan Sugik juga ikut duduk di ruang tamu.
mereka membahas untuk acara idul Adha yang akan datang, Raka menyuruh Aris untuk menyembelih tiga ekor sapi dan membagikannya.
tapi ketiganya harus di sembelih di area rumah Aris, dia pun setuju saja, toh dia memang tau siapa Raka.
Aris tak mengira jika kedatangan Raka dan istrinya hari ini demi menolongnya.
terlebih dengan adanya kejadian tadi, Raka pun pamit, Eko dan Sugik juga, akhirnya Aris dan ayu tinggal berdua lagi.
"kamu baik-baik saja sayang," tanya Aris.
"ah iya mas, aku tak apa-apa untung tadi mbak Wulan tepat menghentikan Mbak Menik yang ingin menyentuh perutku," jawab Ayu.
"baiklah, sekarang kamu duduk saja, aku tak mau kamu repot," kata Aris.
"terus siapa yang akan memasak, sudah mas aku gak apa-apa," jawab Ayu.
Aris harus menemui Mbah Sun, dia punya janji akan memberikan Syam Ingkung saat tau istrinya hamil.
"sayang, besok bisakah kamu membuatkan ayam Ingkung utuh, karena aku punya janji dengan Mbah Sun," kata Aris yang hampir melupakan janji itu.
"iya mas, kalau begitu pergi cari ayam kampungnya, dan harus yang berwarna putih dengan leher bercorak Hitam sedikit," kata ayu
"eh kenapa harus begitu,", tanya Aris
"sudah turuti saja, kalau gak bisa repot, sekarang mas ke rumah Mbah untuk mengambilnya, insyaallah ada di rumah Mbah," kata Ayu.
"baiklah, aku akan kesana," jawab Aris.
dia menghubungi Sugik terlebih dahulu, untuk membersihkan ayamnya.
karena dia dan ayu tak boleh mencabut bulu atau bahkan menyembelih hewan.
kata orang dulu pamali, jadi Aris mengikuti semua larangan itu.
__ADS_1
setelah sholat Magrib, dia bergegas menuju ke rumah kakek dari istrinya, suasana desa hari ini cukup sepi.
entahlah kenapa, tapi Aris tak perduli akan hal klenik atau apapun itu.
saat dia sampai di rumah dari kakek Ayu, terlihat Sugik sudah menunggunya.
"bos memang untuk apa mau dua ekor ayam jantan istimewa begini?" tanya Sugik yang memberikan ayam yang sudah bersih itu.
"memang kamu tau untuk apa ayam ini?" tanya Aris.
"tau lah, orang tadi pak Mun bilang jika ayam khusus begini itu biasanya di gunakan untuk tulak," jawab Sugik.
"aneh-aneh saja, ayam begini mah untuk di masak saja, sudah aku pulang kasihan ayu sendirian," kata Aris yang bergegas pulang.
jalan desa sedang di perbaiki, jadi sedikit merepotkan, jadilah Aris memilih untuk menggunakan jalan pintas.
dia mengendarai sepeda motornya menembus pepohonan pisang dan mangga, tapi dari kejauhan dia melihat ada beberapa orang yang lari-larian
Aris tak peduli karena dia harus segera pulang, sesampainya di rumah, Aris mencuci tangan dan kakinya terlebih dahulu.
"dek ini ayamnya," panggil Aris
"iya mas, kok cepet banget sih, bukankah jalan rusak sebelum rumah Mbah sedang di perbaiki?" tanya Ayu yang langsung membumbui kedua ayam itu.
"apa? mas lewat jalan pintas, padahal disana sangat angker tau," kata Ayu tak percaya.
"sudah tidak apa-apa, mas mau istirahat dulu ya," pamit Aris.
"gak makan dulu?" tanya ayu.
"boleh, aku akan memakan mu," kata Aris yang mengendong istrinya yang sudah selesai mengerjakan semua pekerjaannya.
Aris dan Ayu pun sudah tertidur dengan lelap setelah melewati malam panas.
bahkan Aris tak bisa mengendalikan dirinya saat menyentuh tubuh ayu, tapi dia ingat jika dia tak boleh melukai ayu.
Ayu sudah tertidur dengan pulas, pasalnya Aris yang selalu mengajaknya melakukan itu.
malam itu suasana hening, tapi tidak di sebuah gubuk bambu, itu adalah tempat dimana ayu hampir di lecehkan oleh Agus.
seorang wanita tergletak di ranjang yang terbuat dari bambu. keempat pemuda itu tertawa melihat gadis itu.
"wah... tangkapan kita besar ya, di sombong ini sekarang tak berdaya, kita harus buat dia bungkam selamanya," kata ketiganya.
"tapi apa dia tak bangun lagi," tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"tebang saja aku akan memberikan dia obat tidur, lumayan kita akan bersenang-senang dengan gadis ini tanpa takut dia tau, mari kita lakukan," kata pria muda itu.
malam itu semua terjadi, beberapa rumah kemalingan, terlebih mereka beraksi dalam keadaan hujan gerimis yang cukup deras.
jadi orang pun jadi malas untuk keluar rumah, sedang para hansip yang berjaga juga tak mau berkeliling karena hawa dingin.
keesokan harinya, semua heboh tentang perampokan yang di alami oleh pak Sunandar dan pak hakim.
kedua rumah itu di satroni perampok, bahkan harta mereka di kuras habis.
tapi keluarga pak hakim lebih beruntung karena keluarga itu tak terluka.
sedang pak Sunandar harus kehilangan nyawa karena perampok itu, polisi pun sedang mengejarnya.
Aris pulang dari rumah pak Sunandar, dia melihat ayu sudah selesai memasak, "sudah siap di antar sayang?" tanya Aris.
"iya mas, boleh aku ikut, kebetulan aku ingin bertemu Mbah Sun, sudah lama," kata Ayu.
"tentu sayang, ayo kita berangkat, oh ya sepertinya nanti aku akan meninggalkan kamu di rumah Ambar ya, karena tadi aku pulang sebelum mayat pak Sunandar datang," kata Eko.
"iya mas, soalnya kalau urusan sama polisi pasti lama," tambah ayu.
"iya itu tau, sekarang kita berangkat yuk," ajak Aris.
Ayu dan suaminya itu pun menuju ke rumah Mbah Sun, selama perjalanan Aris begitu berhati-hati karena membawa istrinya.
terlebih akibat hujan semalam, jalanan cukup licin, sesampainya di rumah itu Erna membukakan pintu untuk keduanya.
gadis itu langsung masuk dan memanggil Mbah sun, pria sepuh itu tersenyum melihat kedatangan Aris dan Ayu.
"ya Allah, akhirnya ayam ingkungnya datang, bagaimana juragan?" tanya Mbah sun tersenyum.
"cocok Mbah, sebentar lagi saya akan jadi ayah, dan tolong doakan semoga istri dan bayi saya pas lahiran sehat dua-duanya ya," mohon Aris
"amiin.... pasti Mbah doakan begitu,sini nduk," panggil Mbah Sun.
pria itu membaca sesuatu dan kemudian meniupkan udara di ubun-ubun kepala Ayu.
"wes, sekarang ibu dan bayinya pasti selamat dan terlindungi, juragan apa mayat pak Sunandar sudah pulang, tadi aku ke sana katanya masih di rumah sakit?" tanya Mbah Sun.
"iya Mbah, sepertinya agak siang karena harus otopsi," jawab Aris.
"itulah kenapa kamu harus selalu bersedekah, jika seperti ini kan repot," jawab Mbah Sun.
"inggeh Mbah," jawab Keduanya bersamaan.
__ADS_1