
Aris sedang mandi, sedang ayu menyiapkan semua makanan di meja.
"mas ayo makan dulu, jangan bekerja nanti aku bantu kok," panggil ayu.
"iya sayang, ini turun, emm... masak apa nih?" tanya Aris
"masak acar kuning, ikan goreng," jawab ayu.
"tumben gak ada sambal?" heran Aris.
"katanya Edi aku gak boleh makan sambal dulu, nanti bisa pengaruh ke bayinya, ya sudah menurut saja," jawab ayu tersenyum.
"owh... ngomong-ngomong kapan waktunya periksa lagi, mas lupa?" tanya Aris yang melihat ayu melayani dirinya.
"besok, jadwalnya kunjungan ke dokter sekalian USG," jawab ayu.
Aris pun mengecup perut ayu yang tak sebesar sebelumnya,dia pun mengangguk sambil menegang perut istrinya.
"baiklah,besok aku antar karena aku ingin melihat putri cantiknya," kata Aris tak sabar.
"baik ayah, dan tadi Bu Edi bilang juga kalau hamil tua, adiknya harus sering-sering di kunjungi," jawab ayu.
"emm.... tapi ngeri dek, orang perut besar gitu aja,", jawab Aris yang takut menyakiti istrinya.
"ya... padahal aku juga sudah kangen loh,gak hanya bayinya,", kata ayu sedih.
"ya sudah, nanti mas coba, tapi jangan heboh oke, mas ngeri sendiri..." jawab Aris.
"siap mas," jawab Ayu senang.
ya setidaknya suaminya mau menyentuhnya lagi setelah hampir seminggu ini libur.
pasalnya Aris beralasan jika kondisinya tak enak badan, dan sebagainya.
padahal itu hanya alasan saja, karena dia tak ingin jika Ayu terluka atau bahkan bayi mereka juga saat dia terlalu semangat dalam melakukannya.
setelah makan malam berdua, Aris dan ayu mulai menghitung semua hasil panen dan keuntungan.
ayu merasa heran, karena uang Aris itu sumbernya terlalu banyak, jadi kadang pembukuan tak pernah minus.
padahal mereka sering bersedekah dengan nominal yang cukup banyak, tapi rezeki semakin deras.
ayu pun ketiduran karena lelah setelah menghitung semuanya.
__ADS_1
Aris langsung mengendong istrinya itu ke lantai atas, dan merebahkan tubuh istrinya itu.
"nak... kamu yang baik-baik di perut bunda ya, ayah dan bunda menunggu kehadiran mu," kata Aris berbisik di dekat perut ayu.
Aris pun merasa tendangan dari bayinya, dia pun begitu bahagia, dan kemudian merebahkan tubuhnya di samping ayu.
malam ini Sugik keluar untuk membeli rokok, dia lupa tadi tak mengecek persediannya.
"semoga tokonya madih buka," gumamnya menuju ke toko langganan.
tapi ternyata Yoko itu sudah tutup, terpaksalah Sugik mencari di desa sebelah.
dan beruntung masih ada toko yang buka di jam sepuluh malam lebih itu.
"permisi bisa beli rokok Sur** satu pres," kata Sugik.
"ah iya," kaget wanita setengah baya itu.
"nduk, tolong ambilkan rokok Sur** satu slop ya," kata wanita itu pada putrinya.
seorang gadis keluar dengan jilbab yang di ikat sembarangan, karena sudah malam juga.
"ini mas rokoknya," kata gadis itu memberikan sebuah kantong kresek berisikan rokok.
"ah iya, ini uangnya,kalau begitu terima kasih, permisi," kata Sugik yang langsung pergi.
tapi dia ingat jika baru saja dia menghabiskan mie goreng kesukaan Feli.
"tunggu dulu mbak,boleh beli indom** gorengnya sepuluh bungkus, dan juga energ** coklat dia renteng!" panik Sugik yang kembali.
"tentu," jawab gadis itu.
dia pun melayani Sugik dengan ramah, dia tau jika Sugik tak mengenalnya, terlebih mungkin karena dia tak sadar.
atau memang dia tak penting hingga harus di ingat pria itu, "loh nduk kok belum kamu tutup tokonya, ibu mu sudah tidur loh," kata bapak yang tadi pagi.
"ini masih ada yang beli pak, ini mas belanjaannya," kata gadis itu.
"loh mas nya tadi pagi, kok jauh belanjanya?" tanya pak indik.
"iya pak, toko di tempat saya sudah pada tutup, jadi saya ke sini eh tak taunya ini toko bapak ya, maaf ya saya merepotkan," kata Sugik tersenyum sungkan.
"tidak apa-apa, sudah nduk layani masnya ya," kata pria itu.
__ADS_1
Sugik memberikan uangnya, dan kemudian gadis itu memberikan kembaliannya.
"mas, dari pada repot, mending belanjanya lewat pesan singkat saja, di sini bisa nganter kok, itu ada nomor ponselnya jika perlu banyak," kata gadis itu menunjukkan kertas yang tertempel di dinding toko.
"ah baiklah, itu nomor ibunya ya?" tanya Sugik yang mencatat nomor ponsel itu.
"iya," jawab gadis itu singkat.
Sugik pun pamit, dan dia terus minta maaf karena tak enak merepotkan, dia baru sadar saat pulang melihat tower empat kaki di samping rumah itu.
ternyata benar, bapak itu rumahnya dekat tower, terlebih tadi siang dia tak ke rumah bapak itu karen Apria itu yang datang ke sawah.
dan benar saja Feli sudah menunggunya dengan marah, pasalnya gdis itu sudah kelaparan dan mie goreng miliknya habis.
********
pagi ini, ayu dan Aris sudah siap menuju ke rumah sakit ibu dan anak untuk melihat perkembangan janin mereka.
saat sampai, mereka tak butuh waktu lama untuk antri karena Aris sudah mendaftar secara online semalam.
mereka berdua sudah di dalam ruangan dokter, dan ayu sedang melakukan USG.
tak lama terdengar suara detak jantung dari bayi mereka, "ayah bisa dengar, ini adalah detak jantung anak kalian," kata dokter dengan antusias.
Aris pun tanpa sadar menangis saat mendengar suara itu,baru kali ini pria itu merasa begitu terharu.
"dokter anda membuat juragan Aris menangis sekarang, padahal selama ini dia jarang menangis," kata Ayu menggoda suaminya.
"bukan aku tidak bisa menangis, aku hanya terharu mendengar suara detak jantung itu," jawab Aris.
"benarkah," kata ayu yang tak percaya.
dokter dan perawat pun merasa sedikit heran melihat pasangan ini, terlebih Ayu yang terus meledek Aris.
"dokter apa benar jika kandungan sudah trimester ketiga, harus sering melakukan hubungan suami istri, dan gaya mana yang di perbolehkan?" tanya Aris langsung.
"tenang calon ayah, itu memang baik tapi jangan terlalu sering dan juga lakukan dengan hati-hati, dan gaya konvensional saja ya, dan lakukan pemanasan yang cukup agar membuat ibu nyaman," jawab dokter itu tersenyum.
"owh... terima kasih,dan makanan apa saja yang boleh di makan, dan ada yang bilang jika ingin lahir secara normal, harus makan kuning telur mentah dan juga minum minyak apa benar?" tanya Aris.
"ya Allah, mas dengar dari siapa?" bingung ayu
pasalnya dokter tertawa mendengar ucapan Aris, "aku dengar dari para bapak-bapak di sawah loh, katanya istri-istri mereka melakukan itu," jawab Aris.
__ADS_1
"wah... juragan Aris sudah sesat ternyata," lirih Ayu.
"memang salah ya dokter?" tanya Aris.