
Sugik terus mengembangkan senyum di bibirnya, pasalnya baru kali ini dia bertemu wanita seperti Bella.
di rumah Aris, pria itu sedang di buat bingung karena melihat masakan istrinya.
"sayang, katanya mau masak jantung pisang, mana?" tanya Aris yang terus makan dendeng balado itu.
"orang dari tadi di makan kok masih tanya, ya itu dendeng balado jantung pisang," jawab ayu
"eh... benarkah? tapi rasanya kayak makan dendeng daging loh," jawab Aris.
"makanya jangan suka menghina dulu, sudah makan yang kenyang setelah itu mas perawatan. karena wajah mas mulai kusam," kata Ayu.
"baiklah nyonya," jawab Aris.
setelah makan, dia dan ayu duduk bersama di ruang tengah, Ayu kemudian memasang masker wajah untuk suaminya.
pasalnya ayu ingin suaminya itu tetap ganteng meski bekerja di bawah terik matahari.
Keduanya sangat menikmati waktu kebersamaan mereka, Ayu benar-benar memanjakan suaminya.
sedang di tempat lain, Eko dan Ambar, sedang mengunjungi bidan, pasalnya mereka ingin tau sebab tadi saat di rumah.
hasil tes kehamilan menunjukkan samar bergaris dua, Eko sangat senang dan disinilah mereka sekarang.
tapi menurut bidan dan melihat kondisi dari Ambar, dia meminta keduanya pergi ke dokter untuk memeriksakan lebih lanjut.
Eko dan istrinya akan ke dokter tapi tidak sekarang, karena besok dia akan sangat sibuk.
keesokan harinya, Aris sudah akan pergi, tapi istrinya kali ini memberikan beberapa nasi bungkus.
"sekarang ini buat siapa?" tanya Aris.
"katanya mau ngecor area samping kolam ikan, ya di bawa saja, lumayan buat tambah tenaga," kata ayu.
"baiklah, aku berangkat, kamu hati-hati di rumah ya, kebetulan nanti ada om dari mas Raka yang mau ngambil gabah," kata Aris yang menerima bungkusan itu.
"baiklah, hati-hati ya mas," kata Ayu.
Aris pun berangkat menuju ke gudang miliknya, dan saat sampai dia melihat truk yang sudah terparkir di sana.
ternyata Adri sudah datang, dan sudah bersama dengan Sugik, terlihat mereka mulai menaikkan gabah yang kemarin sudah cocok harga.
Aris pun membagikan makanan pada semuanya, setelah itu dia kebelakang dan ternyata pengerjaan juga sudah mulai.
Aris pun mengangguk karena pengerjaan itu di bawah pengawasan Eko.
"Sugik, aku tinggal ke sawah saja ya untuk panen cabe, karena takut banyak yang busuk kalau tak segera di panen," kata Aris.
"baik juragan bos," jawab Sugik.
__ADS_1
Aris pun mengendarai motornya menuju ke area sawah, ternyata beberapa orang sudah mulai panen di bawah pengawasan dari pak Huda.
"bagaimana hasilnya bos?" tanya Aris yang baru datang.
"Alhamdulillah juragan, cukup banyak, dan kebetulan nanti mas Eko yang akan mengantarkan ke pasar," jawab pria itu.
"oke," jawab Aris.
akhirnya dia pun ikut mengawasi panen kali ini, dia tak ingin ada masalah saja.
panen cukup besar, ada setidaknya tiga karung cabe rawit, dua karung cabe merah dan satu karung cabe hijau.
belum lagi tomat yang dapat tiga keranjang, Aris sendiri panen dengan hasil satu kresek berisi campuran dari ketiganya.
benar saja, tak lama Eko datang membawa mobil pick up untuk mengantar hasil panen ke pasar.
Aris pun memutuskan untuk kembali ke gudang karena masih pukul dua belas siang.
saat sampai, Sugik sedang tersenyum sendiri melihat ponselnya.
"aduh jangan gila begini dong, masak aku harus cari pegawai baru," kata Aris.
"bos ngomong apaan sih, aku gak gila kok, cuma bertukar pesan dengan seseorang," jawab Sugik.
"terserah saja, oh ya bagaimana pekerjaan tadi," tanya Aris.
"beres bos, tapi katanya sudah di transfer ke nomor rekening Bu bos, bisa tanya Bu bos sendiri," kata Sugik yang sedang duduk-duduk di teras gudang.
baru juga mau menjawab, ternyata Ayu sudah datang sambil membawa makanan dan kopi.
"ih... kenapa sih pesan ku gak di bales mas?" tanya ayu.
"maaf baru pegang ponsel, iya itu tadi uang pembelian gabah, dan kamu bawa apa?" tanya Aris yang membantu istrinya.
"biasa cemilan dan kopi untuk Semuanya, oh ya ini uang untuk gaji orang-orang yang bekerja, bukankah satu hari pasti selesai?" tanya ayu.
"kamu benar, terima kasih ya," jawab Aris.
"iya mas, oh ya aku mau ke rumah mbak Ambar ya, tadi dia telpon katanya lagi butuh teman," pamit ayu.
"baiklah, hati-hati nanti sore mas jemput ya jika perlu," kata Aris
"siap mas sayang," pamit ayu yang mencium tangan Aris.
dia pun pergi, dan Sugik langsung menikmati kue itu, sedang Aris membawa satu kotak ke area belakang yang ternyata sudah mulai untuk pengecoran.
terlihat pekerjaan begitu cepat karena yang bekerja ada sekitar dua puluh orang.
Aris menaruh kotak itu dan langsung ludes, bahkan dia juga meminta salah satu anak buahnya untuk membeli makan.
__ADS_1
akhirnya sore pukul setengah empat pengecoran selesai, dan di atasnya di buat jalan darurat bagi yang ingin memberi makan ikan.
Aris takut jika menundanya akan membuat istrinya marah, jadi dia nekat saja, toh mati tidaknya ikan tergantung pada takdir.
"baiklah juragan kita pulang," ajak Sugik
"ya, tapi aku harus ke tempat Eko untuk menjemput istriku, terlebih dia tadi bawa motor sendiri, takutnya dia Kenapa-kenapa lagi," jawab Aris.
"oke deh, kalau begitu aku duluan," pamit Sugik.
Aris langsung menuju ke rumah Eko, baru juga memakirkan sepeda motornya.
dia melihat ayu yang keluar dengan panik, "kenapa sayang?" tanya Aris
"mas tolong, mbak Ambar... darah..," panik Ayu.
"kenapa bisa?" tanya Aris yang langsung masuk ke dalam rumah.
"sakit...." tangis Ambar.
"mana kunci mobilnya, kita ke rumah sakit," kata Aris yang langsung mengendong Ambar.
"di gantungan sana," tunjuk Ambar.
ayu mengambil kunci mobil dan mereka pun membawa Ambat ke rumah sakit.
sesampainya di sana, Aris pun menidurkan Ambar di ranjang dan langsung di bawa ke ruang UGD.
"maaf... apa suaminya ada disini?" tanya seorang suster.
"sebentar suster, suami saya masih menghubunginya," jawab Ayu.
tak lama Eko pun datang dan nampak sangat panik, "mas di cari suster," panggil ayu.
"saya suaminya suster," jawab Eko.
"mari ikut saya bertemu dokter," jawab suster itu mengiring Eko.
Aris dan Ayu menunggu di luar dan terus berdoa, "sebenarnya apa yang terjadi?"
"aku juga tak tau, tadi mbak Ambar mengajakku makan rujak berdua, kami awalnya makan dengan nyaman, tapi tiba-tiba mbak Ambar mengambil buah nanas dan dia terus makan buah itu sampai habis, sedang aku menghindarinya karena nanas yang di beli mbak Ambar masih mengkel," jawab ayu.
"astaghfirullah..." kata Aris.
"ya sudah kita doakan semoga Ambar dan calon anaknya baik-baik saja," kata Aris.
"apa... mbak Ambar sedang hamil!!" kaget ayu.
"dia tak cerita padamu sayang?" tanya Aris.
__ADS_1
ayu mengeleng pelan, karena dia benar-benar tak tau jika sahabatnya itu tengah hamil juga.