Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
begadang Juragan


__ADS_3

Ambar dan Feli terus membaut ribut, Bu Edi sampai heran melihatnya, bahkan putra terkecilnya selalu minta ikut saat bekerja.


terlebih bocah laki-laki itu sangat menyukai bayi mungil itu, "ibu adeknya senyum, dia juga bisa buka mata," kata bocah itu.


"iya mas, nanti mas Adam mau menjaga Niken?" tanya Ayu yang gemas melihat bocah laki-laki itu.


"iya Tante, nanti Adam akan jagain Niken dari orang jahat," kata Adam dengan mengepalkan tangannya.


ayu dan Ambar tertawa saja, "aduh mau jagain non kecil, kamu saja gak mau makan sayur mana bisa kuat," ledek Bu Edi pada anaknya sendiri.


"beber tuh, jamu tau Adam, Popeye saja makan bayam, jadi dia kuat kamu mengerti kan Adam," kata Feli yang membawa salad sayur.


"owh begitu, Bu juragan boleh minta," kata Adam yang melihat ayu makan salad sayur.


"boleh dong, tapi harus habis loh ya," kata Ayu pada bocah itu.


"siap ibu juragan," kata Adam yang meminta sedikit ternyata tapi bocah itu benar-benar mengabiskan makanannya dan tak mau jauh dari bayi mungil itu.


sedang di sawah, Aris berkali-kali menguap, pasalnya semalam dia baru tau rasanya benar-benar memiliki bayi.


"juragan mengantuk?" tanya Eko melihat Aris.


"iya nih, ya Allah... mataku rasanya gak mau melek, habis semaleman Niken nangis Mulu kalau laper," jawab Aris.


"ya maklum aja juragan, namanya juga bayi," saut para ibu.


"memang Bu juragan gak bangun?" tanya ibu-ibu yang lain.


"ya bangun Bu, cuma beberapa kali pas pompa ASI nya,kasihan saja kalau Ayu terus yang bangun, jadi saya bantu saat ganti popok, sama kadang saya bantu pakai botol biar ayu bisa istirahat," jawab Aris yang tetap terlihat bahagia.


"ya Allah beruntung sekali, padahal jarang pria yang mau bangun tengah malam hanya untuk ganti popok anaknya," saut ini yang lain.


Aris pun menepuk pundak Eko, "sebentar lagi kamu akan merasakannya, yakin ya bro," kata Aris.


"iya bos bismillah," jawab Eko.


Aris pun memilih berjalan sambil mengawasi sawah yang sedang panen kacang tanah.


para ibu sedang berbincang membahas masalah bahan pangan.

__ADS_1


ada juga pak Bambang yang membawa Tossa untuk membawa rambak dari kacang tanah untuk di jadikan pakan sapi milik juragan Aris.


Aris tak sengaja melihat ada lima anak kecil yang di usir karena ingin mengais dosa panen.


"hei kenapa!" teriak Aris .


"ini juragan, anak-anak mau ngasak kacang, padahal di sawah belum selesai Semuanya," jawab anak buah Aris.


"biarkan saja, kalian berlima masuk saja," kata Aris.


kelima bocah itu nampak begitu senang di perbolehkan untuk mencari sisa hasil panen.


bahkan mereka membawa alat untuk mencari di dalam tanah juga, mereka terlihat begitu senang.


"apa mereka anak sekitar sini?" tanya Aris pada pria tadi.


"bukan juragan, sepertinya anak luar desa," jawab pria itu


"baiklah awasi saja jangan di larang," kata Aris menepuk bahu anak buahnya.


setelah dari sawah Aris memutuskan untuk pindah ke gudang, di sana sedang ada muat jagung untuk di kirim ke pabrik besar.


"kamu yang berpangkat atau aku?" tanya Aris saat melihat truk sudah di tutup


"bos sajalah, karena saya harus mengambil jagung dari sawah mertua nih, karena panen dan kemarin aku kasih harga yang sesuai pasar," kata Sugik.


"kamu lebihi juga gak papa loh, jangan terlalu perhitungan dengan mertua," kata Aris.


"kita ini bekerja tidak ada urusan keluarga, kalau mau silahkan jika tidak juga tak masalah, terlebih ini sudah sesuai dari harga pasarannya," jawab Sugik.


"sak karep mu....". jawab Aris.


kini dia pun naik ke truk bersama tiga orang kuli untuk setor ke pabrik, truk yang di bawa Aris cukup besar.


tapi pria itu nampak biasa saat mengendarai kendaraan besar itu. sedang Sugik membawa truk biasa ke area sawah.


sesampainya di pabrik, mandiri kaget karena juragan Aris sendiri yang mengantarkannya.


"ya Allah lama gak pernah lihat juragan Aris, kok makin ganteng saja," kata mandor yang mengawasi penurunan jagung pesanan mereka.

__ADS_1


"Alhamdulillah ada yang merawat," jawab Aris.


"kualitas jagung, grade B ya," kata mandor itu.


"iya, karena ini masih hasil panen yang awal, untuk yang baru masih belum," jawab Aris.


"juragan ini jujur ya, kalau orang mah sudah bohong," kata mandor itu selalu senang bertemu Aris.


"rejeki sudah di atur, jadi kenapa takut, lagi pula rejeki orang juga tak mungkin tertukar," kata Aris tertawa.


dia pun menunggu sambil memejamkan mata, pak Edi yang ikut bersama Aris juga menghitung semuanya.


pasalnya mereka tak bisa ceroboh, sedang mandor itu juga selalu bersikap jujur.


pukul tiga sore, akhirnya selesai, Aris sudah bangun dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku.


setelah meminta tanda terima, dia pun pulang dan tak lupa saat di jalan mereka semua selalu geli tahu dan manisan.


sesampainya di gudang ternyata Eko sudah ada di sana dengan hasil panen kacang.


tapi Sugik belum datang karena pria itu masih di sawah katanya, "woi sedang apa, mau tahu," tawar Aris yang duduk di depannya.


"panennya lumayan menguras tenaga ya, lebih baik aku ngawasin panen gabah di banding kacang begini, riweh," kata Eko.


"ya Allah bagi juga gini ngeluh Mulu kamu, ingat cari uang yang semangat untuk istri dan calon anak," kata Aris mengingatkan.


"belum punya," jawab Eko


"usaha dong, jika kamu buatnya saja jarang-jarang, kapan jadinya, aku dong, tiap hari, pagi malem gak pernah telat, ingat kurangi merokok dan makan makanan yang sehat, sayur buah, coba ikutin, dan ingat susu di campur telur ayam kampung, di jamin mantap," kata Aris.


"ya Allah kenapa baru bilang sih bos, oke nanti aku beli susu kaleng dan telurnya," kata Eko semangat.


di rumah ayu juga meminta Ambar untuk coba minum jamu kunyit asam dan mulai makan sayur.


siapa tau Krena itu resep yang di yakini oleh para orang dulu jika ingin punya bayi.


Bu Edi juga mengiyakan, bahkan Bu Edi menyuruh Ambar untuk sering-sering berbagi makanan pada anak kecil terutama yang yatim.


dan itu harus di lakukan setiap Jum'at, dan untuk jamu harus di taruh di samping sumur yang berada di luar.

__ADS_1


Ambar pun mengangguk dan akan mengikuti kata-kata dari Bu Edi, toh itu juga tak salah untuk membagikan makanan pada orang yang membutuhkan.


__ADS_2