
Bu bidan mengatakan jika kondisi ayu baik, dan detak jantung bayi juga baik.
tapi ayu harus tetap minum dan makan makanan yang bergizi tinggi agar dia tak menjadi lemas.
ayu sedang duduk di dalam kamar di lantai satu, karena dia tak ingin kesulitan naik turun.
"mbak Ambar tolong gorengan dong," kata Ayu memohon.
"tidak, kamu gak boleh makan gorengan," kata Ambar dengan ketus.
"oh kok gitu, mbak ayolah... aku ingin makan gorengan," mohon Ayu.
"udah tidur sana, itu infus belum habis kamu tak boleh makan aneh-aneh," kata Ambar.
"jahatnya...." lirih Ayu.
"aku bawa lumpia, siapa yang mau," kata Feli membawa piring.
"aku," kata ayu yang langsung semangat.
"gadis ini, dia belum boleh makan gorengan," tegur Ambar.
"aduh mbak Ambar santai oke, ini tidak di goreng kok, aku masak dengan airfyer, jadi gak di goreng," jawab Feli yang kaget mendengar ambar.
"baiklah kalau begitu," jawab Ambar yang juga ikut makan.
mereka pun tertawa bersama, Sugik, Eko dan pak Mun menunggu di luar sambil minum kopi.
"jadi siapa yang di tempat keluarga Mbah sun, tadi ayu sudah minta saya untuk memberikan semua bantuan yang di butuhkan keluarga itu," tanya pak Mun.
"tenang pak, sudah ada pak Edi dan pak Bambang, dan tadi kami sudah memberikan mereka masing-masing uang sepuluh juta sebagai pegangan, dan saya juga sudah memberikan arahan sesuai perintah bos Aris juga," jawab keduanya.
"baiklah, sekarang saya makin yakin jika ayu sudah bersama orang-orang yang tepat, jadi seandainya saya mati pun sudah tenang," kata pak Mun.
"bapak ngomong apa, jika anda pergi, mungkin bos Aris bisa menggila dan menghancurkan satu desa karena kesedihannya," kata Eko memberikan gambaran.
"ya gak mungkin sejauh itu, saya hanya seorang pelayan," Jawab pak Mun.
"pelayan yang membesarkannya, bahkan menurutku jika pak Mun itu lebih dari kedua orang tuanya sendiri," jawab Sugik.
__ADS_1
"kalian berlebihan, ayo kita lihat ke rumah Mbah sun," ajak pak Mun.
mereka bertiga pun pamit pada ketiga wanita itu, dan pergi ke rumah itu.
ternyata pak Edi sudah membantu mendirikan tenda untuk orang yang mendoakan.
terlihat istrinya juga membantu di bagian dapur, "bagiamana, apa semuanya baik?" tanya Eko.
"iya mas, oh ya tadi uang di pak Bambang saya kasih ke istri, orang pak Bambang bingung sama sapi, gak papa kan?" tanya pria itu.
"gak papa, orang istri pak Edi juga orang kepercayaan bu bos juragan," jawab pria itu.
"oke mas," jawab pak Edi.
orang tua Erna merasa malu, terlebih Bu Edi yang selaku orang ayu begitu membantu.
bahkan mulai dari awal, sekarang bahkan Bu Edi sudah membelikan tiga ratus kue untuk acara tahlilan.
tak hanya itu, bahkan buah-buahan juga, "sudah Bu, tak perlu bingung, ini semua adalah bakti juragan Aris dan Bu juragan karena Mbah sun dulu begitu baik pada mereka, jika Bu juragan bisa dia akan datang, tapi kondisinya juga tak baik sekarang," jawab Bu Edi.
"iya Bu, saya hanya merasa malu, dulu saat Erna begitu jahat pada mereka, mereka tetap sangat baik pada keluarga ini, dan sekarang..." lirih wanita itu.
Sugik kaget saat melihat Feli datang ke rumah Mbah sun, "kamu mau apa Feli?" tanya pria itu.
"aku di suruh mbak ayu mengantarkan uang, sudah dulu mau ke tempat Bu Edi," kata gadis itu melepaskan diri dari Sugik.
gadis itu langsung berlari menuju dapur dan langsung memeluk wanita yang di carinya, "huh selamat dari bang Sugik," kata Feli.
"lah mbak Feli kesini, terus Bu juragan sama siapa atuh," kata Bu Edi kaget.
"sama mbak Ambar, beh panas kupingku mendengar ocehan mbak Ambar," Adi Feli.
"aduh gadis ini kalau ngomong suka bablas," kata Bu Edi yang mencubit gadis itu.
"ini siapa buk?" tanya Bu Wati yang tak pernah melihat Feli.
"owh ini adiknya mas Sugik,orang kepercayaan dari juragan Aris juga, dia yang nemenin Bu juragan kalau di tinggal juragan Aris kerja, terus kesini mau apa gadis nakal," tanya Bu Edi.
"mbak ayu inget jika nanti sore acara tiga harian Mbah sun, jadi di suruh menambahkan sembako pada berkat yang akan di bagikan, tadi aku sudah belanja dan bentar lagi datang," kata Feli.
__ADS_1
"ya Allah kenapa istri juragan Aris begitu baik," gumam Bu Wati yang benar-benar baru tau tentang semuanya.
"kata mbak ayu, Mbah sun sudah seperti kakek keduanya, bahkan dulu saat mbak ayu kecil Mbah sun adalah orang yang sering memberinya permen saat sedih," jawab Feli yang mengambil tahu Bali yang baru matang
"ya Tuhan mbak Feli itu panas," kaget Bu Edi.
"tapi enak, hu hah..." kata Feli yang kepanasan.
bebar saja tak lama ada sebuah pick up datang membawa belanjaan, Sugik langsung meminta bantuan yang lain untuk menurunkan Semuanya.
tak terduga Aris sudah sampai di bandara internasional Juanda Surabaya.
dia langsung memutuskan pulang saat tau Mbah sun meninggal dunia, dia tak ingin pulang saat semua acara tahlilan selesai.
Aris pun mempercayakan dia bocah itu pada saudaranya Imanuel. Aris memanggil taksi dan langsung menuju ke rumah.
tapi tujuan pertama Aris adalah pemakaman desa, pukul empat sore dia sampai di pemakaman umum itu.
dia membacakan Yasin untuk pria itu, dan ternyata adzan yang di putar oleh Sugik itu adalah rekaman.
karena Aris sudah berada di udara dan terpaksa menyaksikan semua dari rekaman video.
"maaf ya Mbah sun, Aris baru pulang, maaf tak bisa menemani Mbah di saat terakhir, terima kasih sudah jadi orang yang selalu membantu aku memecahkan setiap masalah hidup ku," kata Aris.
setelah itu Aris pun memutuskan pulang, Feli baru mau menutup pagar rumah setelah membantu di rumah Mbah sun.
tapi dia kaget melihat Aris sudah pulang, padahal seharusnya masih dua hari lagi pria itu pergi.
"lah bang Aris pulang, ayo masuk," katanya membantu Aris.
"bagaimana keadaan ayu, apa dia baik-baik saja," tanya Aris yang mencuci kaki dan tangannya sebelum masuk rumah.
"emm... untuk itu, bang Aris lihat sendiri saja, mbak ayu di kamar tamu," jawab Feli.
mendengar itu Aris panik dan langsung masuk ke dalam rumah untuk melihat istrinya itu.
Ambar kaget dan langsung menahan arus, "tolong tenang oke, dia sedang tidur, kamu bisa membuatnya terkejut nanti jika grusak-grusuk begini,"
"baiklah, aku akan tenang," jawab Aris.
__ADS_1