
Aris selesai mengikuti ujian yang di adakan di kecamatan, dan dia merasa ujian itu ternyata tak semenantabg yang dia kira.
sekarang Aris menuju basecamp yang sudah tersedia,ternyata ayu sudah ada di sana bersama Feli.
"assalamualaikum sayang, kamu sudah disini saja?" tanya Aris yang baru datang dan langsung mengecup pipi istrinya itu.
"aku sedang mengirimkan beberapa cemilan yang tadi sempat kami beli saat ke pasar, bagaimana ujiannya mas?" tanya Ayu.
"ternyata itu sangat mudah,tapi pengumumannya masih beberapa hari lagi, tapi setidaknya kamu harus menyiapkan dana satu milyar untuk uang kampanye, masih mau suamimu ini jadi kepala desa?" kata Aris membohongi istrinya.
"Deni kebaikan semua orang, tak masalah mas, lagi pula anggap saja kita bersedekah," kata Ayu tersenyum.
"entahlah jika bukan kamu mungkin aku tak akan seperti sekarang ini," gumam Aris memeluk istrinya.
"sudah sana gabung sama yang lain, aku mau ke tempat ternak sapi buat lusa sapinya harus siap, seperti kata mas Raka kita harus menyembelih tiga sampai kan ya," kata Ayu.
"tenang sayang, pak Bambang sudah menyiapkan Semuanya, kamu duduk di sini dan temani kami saja,lagi pula lihatlah Feli sedang membuat pusing kakaknya," kata Aris.
ayu mengangguk lemah, dia selalu tak bisa menolak keinginan suaminya, jadilah dia menemani Aris.
semua orang bersedia melakukan kampanye bersih, karena mereka murni ingin menjadikan Aris kepala desa.
"baiklah semuanya, besok di setiap rumah yang mendukung untuk juragan Aris menjadi lurah, harap mengecat rumahnya dengan cat merah, atau nanti kamu bantu," kata pak Huda.
"setuju, dan di larang menerima uang kampanye dari calon lurah lain, setuju," kata Eko.
"setuju!!" teriak Semuanya.
Aris yang melihat Eko yang baru datang langsung menampar pria itu, "mas!!" kaget ayu.
Eko tersungkur pasalnya dia tak mengira akan mendapatkan pukulan keras dari Aris, "ada apa bos?" tanya Eko yang tak mengerti salah apa.
__ADS_1
"kamu tanya salah apa, Sugeng orang mu bukan?" tanya Aris geram.
"iya juragan, dia orang saya, memangnya kenapa?" tanya Eko.
"dia berani mengambil sembako yang aku bagikan pada warga di dusun sebelah, bahkan dia menyebarkan berita bohong, bagaimana kamu mencari orang aku tak mengira jika kamu salah menilai orang Eko," kata Aris yang tak habis pikir.
"apa pria itu berani menghianati ku, tenang bos aku akan membereskannya, dan maaf karena kesalahan ku," kata Eko yang terlihat sangat marah.
pasalnya dia tak mengira jika orang yang dia pilih hanya karena rekomendasi mertuanya malah membuatnya malu seperti ini, terlebih pada Aris yang sudah menjadi bos nya selama ini.
"baik biar aku bereskan semuanya juragan, dan jangan khawatir aku akan bertanggung jawab atas segalanya," jawab Eko.
"aku tunggu buktinya Eko, dan jangan membuatku merasa kecewa padamu Eko, jangan pernah," kata Aris.
"baik juragan, saya mengerti," jawab Eko yang langsung kembali pergi untuk membereskan semuanya.
Aris pun melihat semua orang, dia lupa jika di sini sedang banyak orang, "maaf semuanya, saya lepas kontrol kalau menyangkut masalah seperti itu," kata Aris.
ayu pun merasa bahagia melihat suaminya, Eko benar-benar menyelesaikan masalah itu.
bahkan dia tak melepaskan pria itu sampai dia benar-benar menyampaikan semuanya dengan benar, bahkan Eko sempat menghajarnya juga.
"sekarang selesaikan, jangan sampai aku membunuh keluargamu karena berani menghianati ku dan juragan Aris, kamu tau benar aku bisa melakukan apa,"kata yang kini sedang duduk mengawasi Eko dan istrinya membagikan semua sebaik yang dia ambil.
bahkan ada yng di gantikan dengan uang karena sudah di jual, bahkan Eko sudah tau persis berapa jumlahnya.
putri dari Sugeng menemui mertua dari Eko dan menjelaskan apa yang di lakukan Eko pada orang tuanya.
mendengar itu mereka tak terima karena Eko adalah keponakan mereka.
sedang Ambar yang tau pun ikut kedua orang tuanya, pasalnya dia ingin tau apa yang di lakukan suaminya itu, hingga bisa membuat kedua orang tua Ambar yang selama ini begitu baik dan sabar hingga marah.
__ADS_1
mereka sampai di rumah pak Sugeng, Ambat kaget melihat wajah suaminya yang merah bekas pukulan dari Aris.
sedang kedua orang tua Ambar tak fokus pada menantunya, tapi fokus pada pak Sugeng dan istrinya yang terlihat ketakutan.
"owh... kalian berani mengadukan aku pada mertuaku, kalian jangan lupa aku bisa membunuh kalian, apa kalian pikir aku akan takut dengan mereka," kata Eko yang melihat rombongan itu.
"sekarang kita lihat saja," kata istri pak Sugeng yang langsung menangis dan memeluk tubuh mertua Eko.
sedang Eko mencekik leher pak Sugeng untuk menantang kedua mertuanya itu.
"Eko apa ini, kamu berani melakukan ini, dia itu keponakan ibu mertua mu, ingat jangan keterlaluan Eko!!" bentak ayah Ambar.
"apa yang anda katakan ayah mertua, saya keterlaluan, anda datang tanpa bertanya kenapa saya melakukan ini, coba tanya terlebih dahulu, baru anda bisa marah," kata Eko.
"tidak bibi, dia itu kejam, dia datang dan meminta kami untuk membagikan uang dan sembako yang tak jelas, dia itu kejam sekali bahkan dia menghajar suamiku," kata istri pak Sugeng
mendengar itu Eko langsung mencekik leher pak Sugeng makin erat, "sekali kamu bicara bohong, aku remukkan leher suamimu!!" bentak Eko.
"Eko jangan keterlambatan, jika kamu tak bisa melepaskan Sugeng dan membuatnya terluka, lebih baik ceraikan Ambar, dia tak harus menikah dengan pria sekejam dirimu!" teriak ayah Ambar
"ayah!" kaget Ambar.
"terserah anda, aku merasa buruk di depan juragan Aris karena pria yang aku pilih dengan rekomendasi anda, berani melakukan korupsi pada sembako yang seharusnya di bagikan pada seluruh warga, malah di telannya sendiri,dan lagi dia mengatakan jika semua itu dari juragan Widodo hanya karena dapat uang sepuluh juta, dan sekarang aku memintanya mengembalikan semuanya pda yang berhak, anda meminta ku untuk menceraikan putrimu, baiklah jika itu keinginan mu ayah mertua, aku akan menurutinya, dan asal anda tau selama ini keponakan mu ini adalah pria bajingan, dan aku pastikan dia tak akan pernah dapat pekerjaan di manapun," kata Eko yang melepaskan cekikannya dan langsung menampar pak Sugeng hingga tersungkur.
Ambar pun terduduk lemas, pasalnya dia kenapa jadi ikut jadi korban.
"apa... apa itu benar Sugeng?" tanya ayah Ambar.
"iya paklek, itu semua benar," jawab pak Sugeng yang sudah ketakutan bukan main melihat Eko.
bukan hanya Eko, dia juga sudah jadi incaran dari Sugik dan juragan Aris yang sama-sama tanpa ampun.
__ADS_1