
Aris sedang mandi saat melihat istrinya sudah tertidur di ranjang, "pasti kamu sangat lelah ya sayang," lirih Aris mengecup kening ayu.
pasalnya mereka baru pulang dari Lamongan, ya mereka tak bisa terlalu lama di kota itu.
Aris pun memutuskan turun untuk merokok, dia tak ingin menganggu istrinya itu.
Aris turun ke lantai bawah, tak lupa dia mengaktifkan tablet khusus yang selama ini jarang sekali dia buka.
ternyata begitu banyak pesan dari logan, akhirnya Aris pun menelpon pria itu.
"ada apa? kenapa kamu terus mengirimkan pesan tak jelas," kesal Aris.
"maafkan aku bos, aku hanya ingin melaporkan jika semua sudah di lakukan sesuai permintaan anda, dan lagi bisakah aku juga pulang kampung, aku sudah lelah hidup di kota ini," mohon pria itu terdengar sedih.
"tentu, aku juga sudah menyiapkan rumah untukmu," jawab Aris.
"terima kasih bos, kalau begitu aku akan segera datang, dan semoga dapat jodoh juga," jawab pria itu.
sedang Aris ingin tertawa, pasalnya dia tak mengira jika pria itu juga sangat ingin tinggal di desa.
Aris pun selesai dengan rokoknya, dia pun memilih untuk keluar rumah sebentar, dia berjalan dengan mengenakan jaket hitam dan juga kupluk.
suasana desa cukup sepi, bahkan hanya ada binatang malam, Aris pun memutuskan untuk lari.
tapi langkahnya berhenti saat tak sengaja mendengar suara anak-anak menangis.
dia pun mencari sumber suara tersebut, ternyata suara itu terdengar dari rumah gubuk di belakang rumah. seorang warga.
ya bangunan itu tak layak di sebut rumah, terlebih bangunan itu terbuat dari bilik bambu yang sudah bolong-bolong.
"ini kenapa aku tak tau masih ada rumah seperti ini," gumamnya.
ternyata ada satu keluarga yang sedang menunggu sesuatu, Aris bersembunyi saat ada seorang pria datang membawa singkong.
__ADS_1
"Bu ini masak untuk anak-anak, kasihan mereka belum makan," kata pria itu yang nampak ketakutan.
"pak ini singkong dari mana? bukankah bapak baru di pecat, terus ini bapak nyuri?" tanya istri pria itu.
"tidak kok, aku sudah minta sama juragan Aris, sudah masak saja," jawab pria itu.
Aris memastikan sosok itu, ternyata benar, dia adalah salah seorang anak buah Eko.
Aris bingung karena mendengar kata di pecat, bukankah dia tak meminta Eko memecat warga desa itu.
Aris pun tak bisa bersembunyi lagi, dia pun keluar dari balik pohon asem besar itu.
dia langsung menghampiri rumah yang hampir roboh itu, "permisi ..."
"iya," sautan dari dalam.
pria itu kaget saat melihat sosok juragan Aris yang terlihat marah, "Juragan Aris .." katanya gemetar.
pria itu langsung bersujud memohon ampun pada Aris, "juragan maafkan aku karena berani mengambil singkong tanpa izin," lirihnya.
"baik juragan, tapi bolehkah saya memasak singkong untuk makan anak-anak saya?" mohon pria itu.
"makan saja, tapi ingat jangan telat," kata Aris yang pergi begitu saja.
pria itu tersenyum, setidaknya untuk malam ini dan besok anak-anaknya tak kelaparan.
sedang Aris merasa marah, bagaimana bisa ada orang bisa membuat pria yang sangat membutuhkan seperti tadi.
hingga di pecat tanpa pemberitahuan kepadanya, dan itu akan jadi tanggung jawab Eko.
Aris pun melanjutkan lari malamnya, dan saat sampai di depan pos kamling.
Aris geleng-geleng melihat para hansip yang harusnya berkeliling malah tidur.
__ADS_1
bahkan empat orang itu tak bisa di bangunkan, "dasar kalian berempat ini," gumamnya yang kemudian pergi lagi.
sedang dia menuju ke area msjid, dan nampak begitu terang masjid desa itu.
Aris pun berjalan sambil melihat kearah masjid, tanpa di duga seseorang menepuk bahunya.
"juragan Aris sedang apa?" tanya Mbah Sun.
"Allahuakbar... Mbah Sun bikin kaget saja, ini malem-malem mau apa sih Mbah," kaget Aris.
"mau ke masjid, kalau juragan sendiri kok malah jalan-jalan di jam begini, lebih baik tidur sana sama istrinya yang cantik," kata Mbah Sun tersenyum.
"saya merasa lebih gemuk Mbah, jadi milih lari sekarang, oh ya siapa yang tinggal di rumah bambu di tengah kebun bambu belakang rumah pak Tris?" tanya Aris.
"itu Bambang dan istri serta tiga anaknya, memang kenapa? bukankah yang saya tau jika dia bekerja di tempat peternakan sapi milik mu nak?" tanya Mbah Sun.
"aku tak ingat Mbah, ya bukan satu dua orang yang kerja dengan ku Mbah, jadi aku akan cari tau lah, ini juga seharusnya tugas Eko, dan besok ada orang kepercayaan ku juga," jawab Aris.
"le, harta itu juga cobaan loh, jadi ingat jangan sombong dengan apa yang kamu punya, sebenarnya itu Allah memberimu ujian, bagaimana bisa kamu bisa mempertanggung jawabkan harta yang kamu miliki, tapi aku yakin jamu mengerti," kata Mbah Sun.
"inggeh Mbah, tapi boleh gak aku beli tanah Mbah Sun, gak perlu lebar, cukup untuk membuat rumah sepetak saja, kasihan melihat keluarga tadi tinggal di gubuk hampir roboh itu."
"tak perlu juragan, besok kamu tau yang sebenarnya, keluarga itu punya tanah yang di gadaikan di tempat ku, lebih baik rebus saja besok ya," kata Mbah Sun.
"baiklah Mbah, kalau boleh tau mereka menggadaikannya berapa?" tanya Aris.
"tebus sesuai kemampuan mu juragan, aku tak ingin memberikan harga, tapi ya itu adalah sebuah tanah berukuran lima kali enam meter, jamu kasih harga sendiri," jawab Mbah Sun tersenyum dan kemudian masuk kedalam masjid.
berarti Aris harus tanya harga tanah itu sekarang, dan untuk ukuran tanah tersebut, berarti benar-benar serupa rumah yang mereka tinggali.
Aris pun bergegas pulang, terlebih sudah hampir pukul dua belas malam.
Aris pun masuk kedalam rumah dengan mengendap-endap, tapi dia kaget saat tiba-tiba lampu rumah menyala.
__ADS_1
"dari mana mas, dari rumah kekasih mu?" kata Ayu ketus.
"hah... kamu ini kenapa sih sayang,aku hanya sedang berjalan-jalan malam hari, lagi pula jika tak percaya kamu bisa bertanya pada Mbah Sun, aku bertemu di masjid tadi," kata Aris.