Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
orang tua Sugik


__ADS_3

"baiklah nyonya, sekarang biarkan suamimu ini mandi, bau asem nih," kata Aris mencium tubuh mu.


"tapi aku menyukai bau tubuhmu mas," jawab Ayu yang dari tadi menempel pada suaminya.


"sudah sayang nanti kamu gatal-gatal loh, karena aku tadi habis membereskan gabah," jawab Aris yang berhasil lepas dan memilih mandi.


ayu tertawa melihat tingkah suaminya itu, dia pun mengusap perutnya dengan lembut.


"lihat sayang, ayah mu begitu lucu, dan jika kamu lahir, tumbuh di keluarga ini jadikan ayah mu sebagai pacuan untuk memilih jodoh ya sayang," gumam Ayu.


sedang di rumah pak Mun, pria itu bingung melihat dua gadis yang sedang berbincang itu.


"mbak Diani, kok yang nganter barang, jangan bilang nomor yang dimiliki bang Sugik itu milik mu," kata Feli.


"aduh Feli, itu di bantu dulu mbaknya," kata pak Mun.


"he-he-he iya Mbah," jawab Feli.


sekarang rumah pak Mun makin luas karena tanah di sebelah di bangun oleh Sugik, awalnya pria itu ingin tinggal bersama Aris.


tapi Sugik melarangnya, karena dia ingin merawat pak Mun, karena dulu pria itu begitu baik padanya.


"masuk yuk mbak, paling bang Sugik masih belum sesuatu, jadi semuanya berapa," tanya Feli.


"empat ratus ribu," jawab Diani.


"ini mbak, oh ya mbak sudah menikah? atau punya kekasih?" tanya Feli


"Feli... kok tanyanya gitu, kamu membuat gadis ini takut, mohon maaf ya nak," kata pak Mun.


"iya Mbah, tidak apa-apa, saya belum menikah bahkan tak ada pria yang berani melamar ku karena aku putri dari seorang yang di kebal garang dan kejam," jawab Diani.


"wah cocok nih sama bang Sugik," kata Feli.


"selamat malam..." suara seorang pria.


"mari silahkan masuk tuan Syamsir," panggil pak Mun yang melihat pria itu.

__ADS_1


"ayah!!" kaget Feli yang melihat orang tuannya.


bahkan pak Mun dan pak Syamsir berpelukan, Feli juga menyapa sang ibu yang sudah tiga bulan ini tak di lihatnya.


"dasar gadis bakal, bagaimana kamu bisa nekat kabur kesini, dan merepotkan semuanya," tanya Bu Syamsir.


"maafkan aku ibu, karena ibu dan ayah ingin menjodohkan aku dengan pria culun itu, padahal kalian tau aku suka pria seperti bang Sugik," kata Feli.


"tapi ayah sudah membatalkan segalanya, dan siapa gadis ini?" tanya pak Syamsir melihat sosok Diani.


"ah... maaf pak, saya cuma tamu disini," jawab Diani dengan gugup.


bahkan gadis itu terus menunduk sopan tak berani menatap mata pria itu.


"hanya Tanu?" tanya Bu Syamsir.


"tentu tidak, dia calon kakak iparku," kata Feli memeluk Diani.


"apa yang kamu bicarakan, aku bahkan tak mengenalnya, dan lagi jangan mengatakan hal seperti itu, karena kehidupan seseorang itu sangat berharga," kata Diani.


"assalamualaikum... ayah, ibu sudah datang, bukankah besok baru sampai," kata Sugik.


"bang lihatlah, ini adalah gadis yang aku bicarakan dengan mbak ayu kemarin," kata Feli memeluk Diani.


"maaf mas, saya harus pulang," kata Diani yang ingin pamit.


"kenapa buru-buru, tetaplah disini karena Feli ingin seperti itu, dan biar aku yang akan mengantarmu nanti," kata Sugik menahan wanita itu.


Diani mengeleng pelan, tapi tatapan pria itu seperti meminta tolong, "baiklah mas, aku akan disini,"


akhirnya Diani di ajak Feli untuk membuat cemilan dan minuman untuk kedua orang tua yang baru datang.


setelah itu mereka duduk bersama, "jadi kapan menikah, ingat Sugik usia mu tidak muda lagi, sedang Aris dan Eko juga sudah menikah,"


"aduh ayah kamu membuatnya takut, biarkan kami menjalani segalanya dulu, jangan terburu-buru seperti ini ya," kata Sugik


"baiklah, ayah berikan waktu tiga bulan itu cukup, dan nak Diani, jangan lihat Sugik yang penampilan ganteng saja, kamu juga harus tau jika pria itu adalah mesin paling kejam, dan suka memukul orang yang salah," kata pak Syamsir menakuti gadis itu.

__ADS_1


"itu tak masalah pak, asal dia tak mengangkat tangan pada keluarganya sendiri, karena perempuan di keluarga tentu harus dilindungi bukan di sakiti," jawab Diani.


karena sikap seperti itu juga di miliki oleh sang ayah, meski begitu ayah Diani juga sangat melindungi para wanita di keluarga.


"Diani kamu pasti tau jika seorang ibu pasti tak bisa jauh dari putranya, jadi seandainya kamu menikah, suamimu itu masih tetap putra kecilku," kata Bu Syamsir.


"ayah... ibu ... kalian membuatnya takut, kami baru juga kenal," kata Sugik menrluj dahinya tak habis pikir.


"saya tau, jika seorang anak perempuan terputus hubungan saat menikah dengan seorang pria, tapi tidak dengan anak laki-laki, karena dia masih punya kewajiban melindungi ibu dan saudara perempuannya, jadi seharusnya dia harus memperlakukan semuanya dengan adil antara istri, ibu dan saudara-saudara perempuannya," jawab Diani.


mendengar jawaban Diani, Bu Syamsir tersenyum, dia pun mengangguk senang melihat suaminya.


"besok ajak ayah ke rumah gadis ini Sugik, ayah ingin melihat keluarga mereka, dan segera meminang gadis ini agar kamu tak berbuat gila lagi," kata pak Syamsir.


"ya Tuhan... itu terlalu mendadak, bagaimana aku bilang pada orang tuanya," panik Sugik mendengar permintaan dari orang tuanya itu.


"tinggal bilang jika kami ingin datang, aku yakin orang tua calon menantuku ini akan senang," jawab pak Syamsir.


Diani pun merasa terjebak, niat ingin menolong tapi malah sekarang dia harus berada di posisi ini.


"kalau begitu biar aku antarkan dia dulu, takut orang tuanya mencarinya," kata Sugik.


"pak... ibu... Mbah.. Feli... saya pamit dulu ya," kata Diani.


"kenapa buru-buru sih mbak, padahal aku ingin bicara banyak hal dengan mu," kata Feli


Bu Syamsir berduri, "sudah dek, besok kita akan ke rumah calon mbak mu ini, dan untuk sekarang, ini hadiah untuk mu, ini adalah gelang yang ibu beli dari gaji pertama Sugik, dan sekarang calon istrinya yang harus memakainya," kata Bu Syamsir memakaikan gelang itu ke tangan Diani.


"jangan Bu, ini terlalu berharga untuk di berikan padaku, aku tak pantas untuk menerima barang ini," kata Diani menolak dengan sopan.


"tidak apa-apa,ini untuk mu sayang, karena ibu menyukai mu," jawab Bu Syamsir.


akhirnya Sugik membawa Diani pergi, keduanya hanya diam di sepanjang jalan.


mereka seperti tenggelam di pikiran masing-masing, dan tak terasa mereka sampai di rumah Diani.


gadis itu turun dan ingin melepaskan gelang pemberian ibu dari Sugik.

__ADS_1


tapi Sugik menahannya dan langsung menggenggam tangan Diani, dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


"loh nak Sugik, ada apa kok kalian..." kata pak indik yang melihat Sugik mengandeng tangan putrinya.


__ADS_2