Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
umur tidak ada yang tau


__ADS_3

para warga sedang melaksanakan sholat idul Adha di masjid, semua sedang khusuk mendengarkan khotbah dari imam.


Ayu dan Wulan juga mendengarkan dengan hikmat, terlebih khotbah menjelaskan tentang keutamaan tentang qurban.


setelah selesai semua bersalaman dan bubar untuk melanjutkan penyembelihan hewan.


Eko mengurus qurban yang di berikan Aris di masjid, sedang Sugik mengurus yang ada di rumah.


setelah acara tahlil di masjid dan musholla semua, sedang di rumah mbah sun.


terdengar suara jeritan yang begitu pilu, Erna seakan hewan yang di sembelih sebelum kematiannya.


akhirnya wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya di depan kedua orang tuanya dan sang kakek.


Mbah sun langsung menghubungi pak RT, dan mereka semua menghentikan apa yang akan di lakukan.


Raka menepuk bahu Aris, "ajak istrimu datang melihatnya, dan berikan maaf untuknya, semoga dia bisa pergi dengan tenang," kata Raka.


"baiklah, aku mengerti," jawab Aris.


akhirnya, mereka mengundur Semua kegiatan kecuali masjid, Aris mengajak ayu untuk datang ke rumah Mbah sun.


dan benar saja, jenazah dari Erna tak bisa di pindahkan dari kamarnya, semua orang sudah berusaha.


"assalamualaikum..." salam Aris yang datang bersama ayu.


"waalaikum salam..." jawab Mbah sun yang langsung menyapa keduanya.


Aris dan Ayu mencium tangan pria sepuh itu, "bagaimana Mbah, apa sudah di mandikan?" tanya ayu.


"belum nduk, tak ada yang bisa memindahkan jenazah Erna," kata Mbah sun begitu sedih.


ayu pun menyentuh pundak suaminya, "mas Aris... tolong angkat jenazah Mbak Erna, siapa tau bisa," mohon Ayu.


"tapi dek, aku bukan mahramnya," kata Aris.


"aku sudah memaafkan Mbak Erna, dan yang aku tau dia sangat mencintaimu, jadi tolong di coba saja," kata Ayu.


"baiklah, jika itu permintaan mu," jawab Aris.


Wulan dan Raka hanya melihat dari jauh, mereka pun tau jika kedua orang itu memang pasangan yang sempurna.


Aris di bantu ayah dan saudara dari Erna untuk mengangkat jenazah itu, dan terasa begitu ringan.


mereka pun segera memakamkan jenazah Erna karena tak baik menunda-nundanya.


pukul sepuluh pagi, jenazah baru selesai di makamkan, dan setelah itu mereka mandi terlebih dahulu.

__ADS_1


setelah itu akhirnya kegiatan penyembelihan di lanjutkan, bahkan Raka terlihat begitu mudah dalam menyembelih tiga sapi itu.


setelah itu acara pun berlanjut sampai seharian, ayu meminta beberapa kantong dan meminta Feli mengantarkan ke rumah Mbah sun.


agar di masak untuk di gunakan acara tahlilan nanti malam yang di adakan setelah sholat isya'.


acara qurban selesai pukul empat sore, semua pegawai Aris sudah dapat bagian.


tak lupa ada juga sembako yang di bagikan, dan berharap jika semua rencana Aris di lancarkan.


Raka dan Wulan pamit setelah memastikan semuanya berjalan baik dan lancar.


*******


Aris sedang menyiapkan dirinya untuk mengambil hasil ujian dari pencalonan dirinya.


sebenarnya dia juga sudah tau jika dirinya bisa melanjutkan untuk pencalonan.


terlebih ada tiga calon yang mundur, dan salah satu di diskualifikasi karena kecurangan yang di lakukan.


"baiklah pak lurah, sekarang susah nampak tampan, sudah siap?" tanya Ayu yang tersenyum setelah membantu suaminya itu memakai dasi.


"baiklah sayang ku, kamu juga harus menemani suamimu ini, toh ini hanya mengambil hasil ujian," kata Aris.


"tidak mau, aku akan menjadi tim sukses saja, dan aku akan berdiri bersama mu saat pelantikan nantinya," kata Ayu.


"kok gitu sih, tapi baiklah aku akan berangkat ya," pamit Aris.


"mari juragan," panggil para warga.


"ya Allah padahal hanya mengambil hasil ujian dan juga nomor urut loh," kata Aris tak mengira begitu ramai.


tak hanya itu bahkan mereka semua mengantar seperti pawai besar, ayu pun melepas mereka berangkat.


Feli sudah memanggil ibu Toni dan ibu Edi untuk membantu mereka masak.


terlebih ayu ingin membuatkan makanan untuk para pendukung suaminya.


meski dia baru sehat, tapi kondisinya sudah sangat sehat, "Bu juragan duduk saja, nanti kelelahan lagi," kata ibu Edi.


"tidak apa-apa Bu, orang cuma mengiris daging saja, oh ya Feli tolong telpon mbak Ambar ya, tanya tentang kerupuknya," kata ayu.


"siap mbak Ayu," jawab gadis itu.


ternyata Ambar datang dengan dua plastik besar kerupuk rambak yang terbuat dari terigu.


"Alhamdulillah sudah datang, tuh Bu juragan sudah khawatir," kata Feli saat melihat wanita itu.

__ADS_1


"maaf ya, bagaimana kondisi Bu juragan, apa Semuanya oke?" tanya Ambar yang begitu semangat.


"Alhamdulillah, Semuanya oke," jawab ayu yang langsung saling berpelukan.


mereka semua benar-benar sibuk, tapi beruntung semua bumbu sudah tersedia jadi tak repot.


sedang di kecamatan juga sudah datang para pendukung dari lurah yang lain.


akhirnya mereka pun berkumpul bersama, dan karena ada tiga desa yang akan mengadakan pemilu kepala desa.


jadilah kecamatan begitu ramai, saat giliran keempat calon dari desa Aris maju untuk mengambil nomor.


semua orang nampak cemas, dan ternyata Aris dapat nomor urut dua, dan semua orang bersorak melihatnya.


"nomor dua di hari!!" teriak semua pendukung.


Sugik melihat semua pendukung dari peserta dari nomor urut satu dan empat nampak lesu.


"maaf pak, kenapa begitu lesu, kita ini mengadakan pesta politik, jadi semangat dong," kata Sugik memancing mereka.


"dari keenam dusun yang di naugi kelurahan Sumberwangi, tiga desa sudah menunjukkan diri pendukung nomor urut dua, sedang kami terbagi jadi tiga suara loh," kata seorang pria


"semuanya belum ada yang tau pak, lebih baik terus berusaha siapa tau malah calon anda yang menang," kata Eko.


terlebih Aris nampak begitu akrab dengan nomor urut satu, pak Hartono yang memang selama ini juga terus berjuang untuk desa mereka.


Aris pun tak segan tertawa bersama calon yang lain, dia sebenarnya juga tak berminat tapi hanya karena dukungan warga dia bisa yakin maju.


"semuanya, mati kita ke rumah saya, karena ada sedikit perjamuan, tolong jangan bersikap kita ini lawan, kita tetap saudara, jadi mari kita pergi bersama," ajak Aris.


"baiklah juragan," jawab Semuanya.


semuanya pun berbondong-bondong ke rumah Aris, ternyata di depan rumah Aris sudah ada tenda.


ayu pun memeluk suaminya itu, bahkan wanita itu dan para ibu sudah mengenakan kaos bertuliskan nomor dua.


"dasar kamu ini, kamu jadi juru kampanye khusus ibu-ibu," kata Aris melihat istrinya itu.


"tentu dong, kan mendukung suaminya sendiri," jawab ayu tersenyum.


"baiklah cintaku, kamu memang yang terbaik, Semuanya mati silahkan di nikmati jamuan sederhananya, dan untuk para bapak calon Monggo masuk ke teras," kata Aris.


"baiklah juragan, permisi Bu," kata mereka bertiga.


"aduh jangan panggil ibu dong, ya masak aku udah kayak ibu-ibu ya mas?" tanya ayu.


Aris hanya tertawa mendengar ucapan istrinya itu, terlebih wanita itu selaku saja membuatnya bahagia.

__ADS_1


semua pun makan dengan tenang dan saling berbincang, tak ada permusuhan, karena Aris menekankan untuk perdamaian selama masa kampanye.


itulah kenapa dia tak ingin mendengar suara sumbang satu pun.


__ADS_2