Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
sangat sulit


__ADS_3

"ya kalau di banding Bu juragan ya dia kali lipat tubuh Bu juragan, tapi kalau penasaran coba lewat rumah di desa sebelah, dia sering mengantarkan makanan untuk para pekerja di sawah milik ayahnya," kata pak Edi.


"eh benarkah? tuh gimana Sugik, kamu selalu sulit saat memiliki pendamping hidup," tanya Aris.


"sudahlah juragan, aku mulai malas memikirkannya saja, terlebih banyak wanita yang hanya suka diriku tapi tak mudah menerima keluargaku, terlebih mereka semua kalau beh... seperti orang marah-marah," kata Sugik.


"malah cocok atuh mas Sugik, orang keponakan istriku itu juga kalau ngomong kayak orang tukaran, suaranya itu keras," kata pak Edi.


mendengar itu, Sugik dan Aris saling pandang dan merasa penasaran ingin melihat gadis itu.


tapi mereka belum ada kesempatan untuk melihatnya, karena besok ada panen jagung di desa sebelah


"baiklah nanti biar Feli duluan yang melihatnya, pak Edi bisa atur kan, biar istriku juga ikut biar dia bisa kasih nilai juga," kata Aris.


"baiklah juragan, tapi sebelum itu tolong ya perkara dengan mbak Bella di selesaikan ya, karena saya tak mau keponakan saya itu terluka karena gadis gila seperti mbak Bella," jawab pak Edi.


"gadis gila, maksudnya gimana pak?" tanya Aris heran.


"bukan mengatakan tentang keburukannya, tapi dulu saat di sekolahnya, dia pernah menendang murid dari lantai dua hingga jatuh karena dia tak suka karena temannya di rebut," jawab pak Edi.


"lah kok gitu, memang bapak tau dari mana?" tanya Aris


"itu kisah lama Juragan, semua orang tau, itulah kenapa wanita itu belum menikah saat semua temannya sudah menikah," kata pak Edi


"setahu saya ayahnya ingin menjualnya," jawab Sugik.


"ya keluarga mereka memang mata duwitan, jadi tak terkejut, jadi selesaikan dulu ya mas," kata pak Edi yang takut jika keponakannya mengalami sesuatu yang membuatnya terluka.


akhirnya saat pukul satu pagi, mereka pun pulang, terlebih Eko juga sudah mengirim pesan jika dia pulang dari rumah sakit.


dan mengatakan jika kondisi dari pria itu baik-baik saja dan tak ada yang perlu di khawatirkan lagi.


Aris pun sampai di rumah dan memilih tidur di sofa ruang tamu. begitupun Sugik yang juga tidur di sana.


beruntung sofa itu bisa di tarik menjadi lebar, dan Aris bisa tidur dengan nyaman.


pukul empat pagi ayu bangun dan tak mendapati suaminya di kamar, setelah mandi, dia pun bergegas turun ke bawah.

__ADS_1


ternyata Feli juga sudah bangun, "pagi mbak, mau beli sarapan atau buat sendiri saja?" tanya Feli yang juga sudah mandi


"kamu sudah lapar, tapi mas Aris tak di rumah loh," kata ayu yang masih mencari suaminya.


tapi dia melihat ada dua pria yang tidur di ruang tamu, Ayu pun merasa lega.


"aku sudah lapar mbak," kata Feli yang memang semalam dia kurang makan.


"ah itu ada martabak mu kemarin malam biar aku panaskan dulu, nanti kita beli makanan saja ya," kata ayu.


"boleh dong, aku penasaran dengan nasi pecel yang di jual di desa sebelah, katanya nasi pecelnya sangat enak meski tak ada lauknya," kata Feli.


"baiklah, aku jadi kepingin juga karena kamu mengatakannya," jawab Ayu.


Feli mengetikan jempolnya, dan kini keduanya sarapan berdua, dan setelah sholat subuh di masjid yang tak jauh dari rumah.


ayu membuatkan kopi dan menaruhnya di meja, dan tak lupa memberikan pesan pada suaminya.


Feli sudah mengeluarkan sepeda motor dan siap pergi bersama ayu, mereka pun pergi ke desa sebelah.


mereka pun sampai di warung yang di maksud, ayu memesan enam bungkus nasi dan meminta agar peyek di pisah.


Aris bangun tidur setelah wajahnya terkena sinar matahari, dia pun duduk mengumpulkan nyawanya.


tapi dia heran melihat ada kopi di meja dan sebuah kertas, "mas, aku beli sarapan dengan Feli, maaf aku tak enak mau membangunkan mas yang tidur begitu nyenyak," kata Aris yang membaca surat dari istrinya itu.


"dasar," gumamnya yang langsung memutuskan mandi


ternyata Sugik juga baru selesai mandi saat dia turun, dan mereka pun duduk bersama untuk minum kopi


tak lama motor Feli dan Ayu datang dan bertepatan dengan Bu Edi yang di antar suaminya.


"Monggo sarapan dulu bu," ajak ayu.


"sudah Bu juragan, saya langsung bersih-bersih saja, semalam masih ada yang perlu di bereskan," kata Bu Edi.


"duduk dulu Bu," kata Feli.

__ADS_1


aris keluar dan langsung memeluk ayu, "sudah mati sarapan dulu, ini Bu juragan sampai repot begini loh," kata Aris.


"baiklah Juragan," jawab pak Edi.


"oh ya mas, tadi di desa sebelah aku ketemu gadis yang baik banget, bahkan aku merasa dia dan Feli nitip, pasalnya saat keduanya ngobrol kayak orang ribut," kata ayu tertawa.


"benarkah? siapa namanya?" tanya Aris penasaran.


"lah aku juga lupa tak tanya, tapi dia itu gadis baik banget bang, kamu tau bang dia tadi itu nolongin mbak Ayu yang tak sengaja mau di pukul seorang anak yang bandel banget," kata Feli.


"lah kamu kemana?" tanya Sugik menjentikkan jarinya pada kening Feli.


"aku di luar karena warungnya begitu penuh, dan aku menyapanya saat keluar dari warung bersama mbak ayu, dan kami ngobrol langsung nyambung," jawab Feli.


"iya,aku juga merasa gadis itu baik,dia juga murah senyum," jawab Ayu


"baiklah, kapan-kapan kalau ketemu lagi kita berterima kasih ya dek, sekarang biarkan aku makan, dan Feli Totong ambilkan kerupuk di dalam dan lauk ya," kata Aris meminta tolong .


"siap bang Aris," jawab Feli yang bergegas masuk.


dia membawa lauk daging semur semalam yang masih banyak padahal sudah di bagikan pada semua orang, dan juga kerupuk udang.


pak Edi dan istri juga merasa senang, mereka tak mengira Aris begitu biasa seperti warga biasa.


sedang eko dan Ambar mengirimkan makanan ke rumah sakit untuk menjenguk Jatmiko.


pria itu pun merasa takut, tapi Hartono tak mengira jika Aris menanggung semua biaya pengobatan.


"pagi mas Hartono, ini ada sarapan dan bubur untuk mas Jatmiko, kebetulan tadi pagi mas Eko bilang jika telah terjadi kecelakaan ya," kata Ambar memberikan bawaannya.


"iya mbak terima kasih," jawab Hartono.


Eko sudah memastikan Jatmiko tak bisa melakukan apapun, dan pria itu sudah trauma sendiri.


terlebih melihat kemarahan Aris, sama saja dengan bunuh diri, terlebih Eko juga memberikan beberapa hukuman yang pernah di retina oleh orang yang berani mengusik Aris ataupun ayu.


dan mereka pasti jatuh ke neraka saat Sugik bertindak, pasalnya pria itu juga tak pernah mengenal kata ampun.

__ADS_1


__ADS_2