
suasana hening desa berubah saat pak RT menyiarkan berita duka. ayu yang sedang menonton tv pun kaget mendengarnya.
"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un... berita kematian, telah pulang ke Rahmatullah, bapak Sunarya Hadi, sekali lagi, telah pulang ke Rahmatullah bapak Sunarya Hadi, dan akan di makamkan besok pagi, sekian atas perhatiannya, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh," kata pak RT.
Ayu pun meneteskan air matanya, wanita terkejut bahkan tubuhnya gemetar.
dia segera mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi suaminya.
Aris yang kebetulan sedang berbincang dengan Imanuel, pasalnya di California sekarang pukul sepuluh pagi.
"assalamualaikum sayang, kamu kok belum tidur, pasti di Indonesia sudah malam, ada apa kamu merindukan ku ya," kata Aris yang memberondong pertanyaan pada istrinya itu.
"mas Aris... ada berita duka..." lirih Ayu yang tak bisa menahan tangisnya lagi.
"apa? siapa sayang, siapa yang meninggal? kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Aris yang juga kebingungan.
"Mbah sun mas, beliau batu saja meninggal dunia, baru saja di siarkan..." tangis Ayu yang semakin menjadi.
"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.... ya Allah, begitu teganya Mbah sun hingga pergi saat aku tak ada," kata Aris yang juga sudah tak bisa menahan tangisnya.
dia juga sudah semakin terisak mendengar kabar itu, pria yang kemarin masih bisa tersenyum saat mereka berdua berkunjung.
tapi kini malah sudah pergi seperti ini, "ya sudah dek, tolong bantu sebisa kita, dan tolong bilang pada keluarga Mbah sun, mas minta maaf karena tak ada di sana," kata Aris dengan suara mulai serak.
"iya mas," jawab Ayu.
Aris pun menangis menginggat semua kenangannya bersama pria tua itu.
bahkan Aris dulu sering di ledek karena di usianya yang sudah lebih dari tiga puluh tahun belum menikah.
bahkan orang pertama yang begitu senang saat tau jika Aris menyukai ayu dan mendukungnya.
"Mbah sun... kenapa meninggalkan aku seperti ini Mbah, padahal Mbah janji menunggu ku pulang dan minta oleh-oleh," lirih Aris.
dia ingat kemarin sebelum berangkat ke California, dia sempat melihat kondisi pria itu bersama ayu.
bahkan beliau terlihat sangat sehat dan tak menunjukkan tanda-tanda jika sakit.
bahkan saat Aris dan Ayu datang, beliau sedang mengaji seperti biasanya.
"assalamualaikum Mbah ku tersayang ini," sapa arus yang langsung memeluk Mbah sun.
"waalaikum salam... Aris..." kata Mbah sun yang memeluk Aris cukup lama bahkan tak melepaskan tubuh pria itu.
"iya Mbah, ya Allah kenapa pria cerewet seperti anda ini bisa sakit seperti, padahal Aris rindu di omeli di pinggir sungai seperti dulu loh," kata Aris yang mencium tangan pria itu.
"dasar perjaka busuk," kata Mbah sun sambil tersenyum.
__ADS_1
"aduh Mbah mulai pikun, aku bukan perjaka busuk lagi, sekarang aku sudah nikah loh, ini istriku," kata Aris merangkul ayu.
"Mbah sun," panggil ayu sopan dan langsung mencium tangan pria sepuh itu.
"maafkan Mbah ya nduk, kamu jadi mengalami semua ini, maafkan Mbah," kata pria itu yang mengusap kepala ayu.
"inggeh Mbah," jawab Ayu yang kini duduk di samping pria itu.
"ya Allah,Mbah buyut ini gak akan bisa melihat bayi cantik kalian, maafkan Mbah buyut ya nak," kata Mbah sun sambil terus mengenggam tangan ayu.
"Mbah sun ini bilang apa, Mbah harus sehat dan harus mengadzani putri kami saat lahir nanti, karena suara Mbah sun yang selama ini memanggil orang-orang untuk sholat, dan yang menunjukkan jalan benar pada pria sesat ini," kata Aris.
"umur Mbah tak lama lagi le," jawab Mbah sun.
"tidak Mbah, ayu yakin Mbah tiang sae, Mbah pokoknya harus mengadzani bayi kami," kata ayu sedih.
"Mbah minta maaf, Mbah sumbang nama saja ya, jika putri kalian lahir tolong berikan nama Niken Yuswandari Munandar, apa bisa?" lirih pria sepuh itu.
"iya Mbah, itu akan kami berikan untuk nama anak kami," jawab Aris.
"terima kasih ya Aris.. ayu..."
ketiganya terus berbincang, bahkan semua keluarga Mbah sun sangat tak percaya jika Aris yang begitu kasar dan arogan.
tapi telihat seperti anak kecil di depan Mbah sun, bahkan ayu juga tak segan menyuapi pria itu.
sedang ayu yang di larang untuk datang pun nekat pergi, bahkan pak Mun tak bisa melarang cucunya itu.
sesampainya di rumah Mbah sun, jenazah sudah berada di ruang tamu, Sugik langsung mengikuti ayu karena takut wanita itu pingsan.
"Bu juragan, tolong kendalikan dirimu, ingat anda sedang hamil," tegur Sugik lirih.
"aku baik-baik saja, aku hanya mau melihat Mbah untuk terakhir kali saja," kata Ayu melihat kearah keluarga pria itu
"Monggo bu juragan," kata Bu Wati putri pertama Mbah sun.
ayu meminta Feli merekam video untuk Aris, saat kain batik penutup jenazah di buka.
Feli fokus dengan ponsel di tangannya, sedang Ayu berusaha sekuat tenaga untuk tak menangis.
dia pun mengambil tangan Mbah sun dan menciumnya untuk terakhir kali, "maafkan mas Aris ya Mbah, dia sedang tak berada di sini dan mengantarkan Mbah ke tempat peristirahatan terakhir," lirih Ayu.
"tidak apa-apa Bu juragan, bapak sudah ikhlas sepertinya, meski permintaannya terakhirnya ingin juragan Aris yang adzan di pemakamannya," kata Bu Wati.
"insyaallah nanti biar kami caranya agar juragan tetap bisa melakukannya," kata Eko
tapi tanpa terduga ayu jatuh pingsan, beruntung Sugik yang berada di samping wanita itu langsung menangkap tubuh ayu.
__ADS_1
semua orang tak mengira kepergian dari pria sesepuh itu menjadi pukulan terbesar untuk Ayu.
semua orang hanya tau jika Mbah sun begitu dekat dengan Aris, tapi ternyata pada ayu juga.
Sugik membawa ayu ke rumah tetangga terdekat untuk menyadarkan wanita itu.
pak Mun berusaha menyadarkan ayu, dan beruntung ibu bidan desa ada di sana dan langsung memeriksa kondisi ayu.
"tidak perlu panik, ibu juragan hanya terlalu sedih saja," jawab bidan itu.
Sugik pun meminta Feli menjaga ayu, sedang yang lain harus menyelesaikan semua prosesi.
malam itu semua warga terus melantunkan Yasin dan tahlil tanpa putus.
karena jenazah Mbah sun harus menunggu anak terakhirnya yang berada di Kalimantan.
setelah sholat subuh, putri dari Mbah sun datang bersama keluarganya.
ayu juga sudah datang untuk menyaksikan pria yang menjadi guru Aris itu berangkat untuk di makamkan.
Ayu sudah memberikan ponselnya kepada Sugik untuk melakukan video call dengan Aris.
keranda pun di berangkatkan,. semua anak dari Mbah sun ikut, Ambar dan Feli menopang tubuh Ayu yang masih lemah.
"kita pulang ya ayu," ajak Ambar.
"bisakah kita menunggu di luar pemakaman desa?" mohon ayu.
"tapi kamu sangat lemah," kata Ambar.
Feli memohon juga, akhirnya Ambar pun mengikuti permintaan dari ayu, ternyata Aris benar-benar mengumandangkan adzan di pemakaman Mbah sun.
ternyata Sugik memakai sound kecil untuk mengeraskan suara Aris, dan beruntung jaringan sinyal sedang sangat baik.
setelah Aris adzan, kini giliran putra Mbah sun yang mengumandangkan adzan juga di liang kubur.
setelah itu pemakaman di iringi hujan rintik-rintik yang makin menambah suasana sedih pagi itu.
Eko memberikan payung pada Ambar agar mereka bertiga tak kebasahan.
akhirnya pemakaman selesai, semua orang bubar, tapi mereka terkejut melihat ayu, Ambar dan Feli di sana.
Sugik, pak Mun dan Eko langsung membawa ketiga wanita itu pulang.
Eko juga sudah menghubungi ibu bidan desa agar datang ke rumah juragan Aris untuk memeriksa kondisi ayu yang terkena gerimis.
mereka takut jika ayu mengalami masalah di kandungannya, terlebih Aris juga sedang tak ada di rumah.
__ADS_1
Ambar sudah membuahkan susu hangat untuk Ayu agar wanita itu tetap dapat nutrisi.