Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
gadis istimewa.


__ADS_3

Ayu sedang mengantarkan semua pesanan nasi, dia mengayuh sepeda miliknya yang memang sudah sangat tua, tapi sangat berguna sampai saat ini.


sedang di rumah Aris, pria itu merasa tubuhnya sudah sedikit baikan, dia melihat sebuah catatan di meja samping ranjangnya.


"nanti jangan lupa makan obat ya tuan, tapi sebelum itu makanlah sedikit dulu,agar perut tuan tidak kosong," baca Aris.


dia pun tersenyum saja melihat catatan itu, dan melihat jam di dinding kamar miliknya.


"ah.... ternyata aku selama itu tertidur," gumam Aris yang memilih makan dan minum obat lagi.


dia turun karena hari ini jadwal untuk pembukuan dan laporan dari Eko, telebih beberapa kolam dan sawah baru saja panen.


Aris heran tak menemukan tumpukan berkas yang semalam masih berserakan karena tak bisa terurus.


"pak Mun, dimana semua berkas milikku?" tanya Aris.


"sebelumnya saya minta maaf tuan, karena kami sudah lancang," kata pak Mun takut.


"memang ada apa pak Mun, lancang kenapa?" tanya Aris bingung.


"karena semua pembukuan sudah di selesaikan oleh Ayu di depan saya dan mas Eko, dan tuan tinggal memberikan upah para pekerja yang juga sudah di hitung," kata pak Mun.


"tak apa pak Mun, seharusnya saya yang berterima kasih, karena Ayu setidaknya saya tak akan lembur lagi," jawab Aris yang melihat hasil pembukuan gadis itu.


dia tak mengira jika ayu begitu rapi dalam melakukan pencatatan, bahkan semua di hitung dengan rinci.


"pak Mun bisa melanjutkan kerja, saya mau melanjutkan untuk memberikan gaji," kata Aris.


"baik tuan," jawab pak Mun.


"ternyata bukan hanya baik dan giat, kamu ternyata berbakat dalam pembukuan ya Ayu, dan semuanya sangat sempurna tanpa kesalahan," batin Aris merasa senang.


ayu sudah mengirim semua gorengan dan nadi, sekarang dia pulang untuk membersihkan rumah dan mencuci baju.


setelah itu, setelah ashar ayu akan menjadi guru ngaji di masjid terdekat, dia mengajar anak-anak di desa itu.


"sore ayu..." sapa para ibu yang mengantarkan putra putri mereka.


"sore ibu-ibu,mari semua anak-anak kita mulai belajar ya," panggil ayu.

__ADS_1


semua anak-anak pun bergegas berlarian masuk ke teras masjid, Ambar mengajar bagian anak-anak yang lebih besar.


karena Ayu yang tak mengenyam pendidikan agama yang lebih, jadi dia hanya bisa mengajarkan pada anak-anak yang masih belajar iqra'.


Eko bertamu setelah mendapatkan telpon dari pak Mun, pasalnya arus sudah selesai mengemas semua upah untuk para pekerja.


"selamat sore bos," sapa Eko yang masuk kedalam rumah.


"sore, bagaimana panennya, kamu juga tak lupa dengan para tetangga kan?" tanya Aris yang nampak sudah sehat.


"seperti biasanya bos, Sampek muntah mungkin tuh tetangga karena keseringan di kasih ikan Mulu saat panen," kata Eko tertawa.


"terserah, asalnya kita tetap memberikan sedikit pada mereka, ini upah semua anak buah kita, sudah aku sisihkan beserta bonusnya, ini gaji mu, pak Mun tolong kemari," panggil Aris.


pak Mun yang bersiap akan pulang, kembali masuk menghampiri Aris, "iya tuan, apa butuh sesuatu?" tanya pak Mun.


"tidak pak, ini gaji milik pak Mun, dan juga bonusnya," kata Aris menyodorkan amplop coklat pada pria itu.


"terima kasih tuan," jawab pak Mun.


"terus yang bantu pembukuan gak dapet bos? padahal tadi itu ayu begitu banyak membantu, bahkan dia membereskan hanya dalam hitungan jam loh," kata Eko.


"baiklah sekarang kalian boleh pergi, saya mau istirahat, dan Eko segera lamar anak orang, jangan cuma kamu pacari saja," kata Aris mengingatkan.


"iya bos aku mengerti, susah aku pulang ya, mau membagikan upah dulu," pamit Eko.


pak Mun sudah sampai di rumah pad dengan suara adzan Maghrib berkumandang.


Ayu sudah selesai memasak, "loh kakek sudah pulang, padahal ayu ingin mengantar makanan ke tempat tuan," kata Ayu.


"ya Antar saja nduk, dan pastikan tuan juga minum obatnya ya, karena tuan itu sering kali lupa saat merasa tubuhnya sudah baikan," kata pak Mun.


"baik kakek," jawab ayu.


setelah sholat, dia baru menuju ke tempat rumah Aris, dan rumah itu nampak sangat sepi.


"assalamualaikum tuan," salam ayu yang masuk kedalam rumah.


"masuk ayu, aku sedang main game," saut Aris yang sedang sibuk di depan tv.

__ADS_1


"tuan makan malam dulu, dan minum obat, berhentilah sebentar tuan," panggil ayu yang menyiapkan makanan di meja.


" nanggung," jawab Aris asal.


"jangan seperti itu tuan, nanti anda sakit," mohon ayu.


akhirnya Aris berhenti dan makan, ayu membuatkan kopi panas untuk Aris dan beberapa cemilan yang di bawa.


"kamu memiliki nomor rekening tabungan ayu?" tanya Aris di sela makannya.


"punya tuan, kebetulan dulu saat melakukan praktek kerja lapangan saya sempat membuatnya," terang ayu.


"boleh saya minta, tolong tulis di sini," kata Aris menyodorkan ponselnya.


ayu pun menurut toh di tabungannya memang tak banyak uang, jadi dia tak curiga.


Aris pun mentransfer uang gaji dan bonus untuk ayu karena sudah membantunya.


"aku sudah mentransfer bonus, dan terima kasih atas bantuan mu dalam pembukuan tadi pagi, berkat dirimu aku tak jadi lembur, dan Semuanya sempurna," puji Aris.


"sama-sama tuan, saya akan berusaha sebaik mungkin, dan tolong perlakukan saya seperti pekerja yang lain," kata Ayu yang merasa sedikit di istimewakan oleh Aris


"tidak masalah ayu, pak Mun sudah seperti keluarga ku, berarti kamu juga, dan bagaimana dengan kelanjutan hubungan mu dengan Agus," tanya Aris penasaran.


"sebenarnya saya tak sepenuhnya ingin menikah tuan, tapi karena kakek sudah sangat senang dan menerima lamaran itu, saya tak bisa menolak, padahal orang tua mas Agus kurang suka pada saya," jawab ayu.


mendengar itu Aris jadi iba, melihat wajah sedih ayu, "ya nanti coba aku bicara dengan pak Mun, semoga dua mau mendengarkan diriku ya ayu,"


"terima kasih tuan, kalau begitu saya permisi pulang, dan tolong pisahkan baju kotor, dan baju yang harus di setrika, agar besok saya selesaikan dengan segera, maaf jika merepotkan," kata Ayu.


"tidak kok, itu mudah, dan jika kamu luang, tolong bantu aku dengan pembukuan lagi ya," kata Aris tersenyum.


"insyaallah ya tuan," jawab ayu yang pamit pulang.


malam itu ayu pun bergegas pulang, tanpa dia sadari ada seseorang yang mengikuti dirinya dari jauh.


ayu sadar dan mempercepat sepeda ontelnya, sesampainya di rumah, ayu langsung masuk kedalam rumah.


saat dia mengintip keluar, ternyata itu adalah anak buah dari ibu Agus, ya wanita itu benar-benar ingin melukai ayu sesuai dengan ancamannya.

__ADS_1


__ADS_2