Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
bikin malu


__ADS_3

Aris masih ngedumel sendiri, pasalnya dia merasa sangat malu dengan dokter.


karena semua yang dia tanyakan ternyata hanya mitos orang zaman dulu.


"sudah ih... jangan cemberut Mulu, itu kerutan udah banyak tuh," goda Ayu.


"kamu mah sayang," jawab Juragan Aris dengan sedikit ngambek.


"aduh-aduh jangan ngambek dong, orang dokter juga tak menyalahkan mas kok, tapi aku seneng kalau mas mau bertanya seperti tadi, dan juragan Aris pasti akan jadi ayah yang hebat untuk putrinya nanti," kata ayu.


"harus sayang, karena cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, jadi mas Aris harus menjadi ayah yang sempurna untuk anak kita nantinya,"


"iya ayah Aris," jawab ayu.


mereka pun pulang setelah mengambil vitamin dan beberapa suplemen yang di resepkan oleh dokter.


"mau langsung pulang, atau mau ikut ke gudang?" tawar Aris pada istrinya.


"boleh antar pulang tidak, sepertinya aku lebih memilih pulang, karena sangat gak nyaman pakai baju gamis begini mas," kata ayu memohon.


"baiklah, aku lupa jika istriku ini duka berdaster sekarang," ledek Aris.


"jangan menghina ibu-ibu berdaster karena mereka itu sangat hebat loh,"


"iya sayang,maaf..." jawab Aris yang langsung mengajak istrinya itu pulang.


mobil itu sempat berhenti di beberapa tempat sebelum pulang, pasalnya ayu mau membeli daging dan sayur karena tadi pagi tak sempat belanja.


saat mobil mereka sampai, Feli langsung menghampiri ayu dan membantu wanita itu, sedang Aris turun dan mengambil belanjaan tadi.


"sayang aku ke gudang dulu ya," pamit Aris yang mencium kening Ayu.


"iya mas, hati-hati ya, nanti biar bu Edi dan Feli yang mengantarkan makan siang ya," kata Ayu.


"jika kamu lelah, lebih baik belikan saja di warung, kamu jangan lelah, ingat pesan dokter," kata Aris


"iya mas, iya.." jawab Ayu.

__ADS_1


padahal selama dia di rumah, dia juga tak ada kegiatan karena semua pekerjaan sudah di bereskan oleh Bu Edi.


bahkan wanita itu membersihkan rumah dan memasak, dan ayu hanya menata semua bumbu.


"mbak ini mau buat ria kok beli daging," tanya Feli.


"mau buat pentol tapi yang sehat, jadi tepungnya pakai yang bungkus pink itu loh dek," jawab ayu.


Feli pun mengangguk dan langsung membantu ayu memproses semuanya karena ayu sudah ingin makan bakso itu.


memang Aris melarang ayu untuk makan bakso di luaran sana, jadilah dia memasak dan membuat sendiri.


Aris sampai di gudang, tenyata sudah ada Priyono di sana, "wah ada apa pak lurah datang ketempat ku, mau menuntut keadilan, atau apa nih?" kata Aris yang langsung duduk di kursi sebrang pria itu dengan angkuh.


tak ada yang bisa melawan Aris saat ini, selain Aris berkuasa dia juga memiliki dua anak buah yang siap mati demi membelanya.


"apa maksud mas Aris, aku hanya ingin mengajak mas Aris bermusyawarah, pasalnya jalan di depan rumah mas Aris ingin di aspal, tapi ternyata pagar rumah mas Aris kena gusur," kata Priyono.


"loh .. loh... kok iso, di surat sertifikat milik ku, tanah ku sudah di makan jalan satu meter, dan sekarang kamu mau bongkar pagar rumah ku yang tak menganggu orang,dan berdiri di tempat yang seharusnya," kata Aris tak habis pikir.


"itu masalahnya, aku juga bingung, kenapa malah menyasar rumah mas Aris, padahal kata Abi yang seharusnya kena malah tanah di depan mas Aris," jawab Priyono


Priyono dan sekertaris desa yang dia ajak sampai kaget, pasalnya keduanya tak bisa melawan amarah pria itu.


"kalau begitu biar kami selesaikan," panik sekertaris desa itu.


"Eko pantau mereka, jangan buat aku marah, atau kalian tau dan merasakan akibatnya, dan ingat ini baik-baik, tanpa bantuan desa pun, aku bisa membangun jalan sendiri," marah Aris.


"baik mas, aku akan memeriksanya di badan statistik," jawab Priyono yang ternyata langsung di kawal Eko.


"Sugik... pergi ke tempat pria itu dan minta dia membayar hutang, jika tidak semua sertifikat yang ada padaku akan ku balik nama dalam seminggu, mengerti," perintah Aris yang sudah muak.


"baik juragan saya mengerti," jawab Sugik yang langsung pergi.


Aris langsung melepaskan bajunya, dan mulai mengurik gabah basah itu, padahal jemuran gabah itu cukup tebal.


Aris sedang marah, dan dia butuh sesuatu untuk meredakan amarahnya.

__ADS_1


pak Edi yang melihat kondisi Aris ketakutan, pasalnya gudang sudah sangat mencekam.


jadilah dia menelpon istrinya, dan meminta agar seandainya bisa ayu datang mengantarkan makan siang.


panas begitu terik, bahkan keringat sudah mengucur deras dari tubuh Aris. matahari sudah membakar kulit Aris yang nampak mulai memerah.


"juragan tolong berhenti, anda bisa sakit, nanti juga anda bisa hitam," panik pak Sugeng.


"kalian istirahat saja, biar aku yang mengerjakan ini," kata Aris.


Feli terpaksa menelpon Ambar untuk meminjam mobil, ya meski dia belum punya SIM mobil, dia sudah bisa mengendarai kendaraan roda empat itu.


Sugik sampai di rumah juragan Widodo, dan pria itu sudah dapat ancaman untuk melunasi semua hutangnya pada Aris.


terlebih semua hutangnya sudah jatuh tempo, dan pria itu pun tak memiliki uang untuk membayar hutang satu milyar itu.


"baiklah, sekarang semua tanah yang kamu jaminkan akan jadi milik juragan Aris," kata Sugik yang mencengkram kerah pria itu.


"tapi harga semua tanah itu lebih dari satu milyar, jika boleh berikan saya Lima ratus juta," kata pria itu ketakutan.


"tentu Widodo, kami akan memberikan uangnya saat sudah di tafsir harga sesuai pasaran, dan jika kamu berani berulah, aku bahkan tak segan membunuhmu di depan anak-anak mu, ingat itu," ancam Sugik


"iya Sugik, aku mengerti," jawab pria itu.


Sugik pun pergi setelah mendapatkan tanda tangan pria tua itu.


bahkan tujuh orang preman yang di sewa untuk menjaga dirinya tak berkutik di depan pria itu.


sedang di tempat lain, Eko juga sedang marah dan hampir membunuh tiga kepala dusun yang ketahuan mendapatkan uang dari para orang agar memindahkan jalan mengambil tanah milik Aris.


mereka kira juragan Aris akan diam saat berpikir itu jalan untuk desa, tapi mereka salah, jika Aris diam yang bergerak adalah dua anak buahnya.


Priyono dan sekertaris desa sedang mencoba memisahkan Eko, tapi kekuatan pria itu tak bisa di lawan.


bahkan babinkamtibmas pun tak berkutik melawan Eko yang sedang emosi.


"jadi kalian mau mati, masuk penjara atau melakukan semua dengan benar, dan jika aku dengar kalian bertiga belum mengembalikan uang itu, aku pastikan keluarga kalian hancur," ancam Eko.

__ADS_1


"mas kamu bisa masuk penjara jika seperti ini," kata pak Babin.


"aku sudah sering keluar masuk penjara, jadi itu sudah biasa asal kau tau," jawab Eko marah.


__ADS_2