
setelah sarapan, para pria berangkat ke sawah yang akan panen hari ini. terlebih panen padi kali ini setidaknya ada tiga sawah.
tapi sebuah pesan masuk ke ponsel Aris, saat dia membaca pesan itu Aris hanya tersenyum.
pasalnya itu pesan dari Raka yang meminta tolong untuk memanen kan dua sawah yang berada di desa sebelah.
"aih... pria ini kalau minta tolong selalu saja mendadak," gumam Aris.
"apa ada yang mendesak bos?" tanya Sugik yang menemaninya mengawasi panen.
"sepertinya aku harus berangkat ke desa sebelah, karena disana anak buah Raka tidak ada yang mengawasi saat panen, jadi mereka butuh orang untuk di sana," jawab Aris.
"bos di sini saja, biar aku yang kesana, paling cuma nimbang atau sekedar mengawasi bukan," kata Sugik.
"ya kamu benar sih, ya sudah kalau kamu yang mau berangkat, dan ingat hati-hati karena anak buah raja bisa membuat mu pusing," kata Aris.
Sugik pun berangkat, sedang Aris masih mengawasi panen di sawah miliknya.
Sugik menuju ke sawah yang di maksud, baru datang semua orang kaget karena yang datang bukan Raka melainkan anak buahnya.
"kenapa belum mulai panen, kalian tau ini ham berapa, kalian semua mau pulang malam? huh!" kata Sugik dengan suara tinggi.
"maaf mas, kami menunggu orang yang mengawasi dalam penimbangannya nanti," jawab mereka semua.
"aku sudah ada, mulai," kata Sugik dingin
para karyawan dari raja tak mengira jika pria yang datang bahkan lebih kejam lagi sekarang.
terlihat pemilik sawah yang menebaskan semua padinya datang, pria itu terlihat begitu berwibawa.
"apa anda orang kepercayaan dari mas Raka?" tanya pria itu.
"iya pak, maaf saya telat datang hingga baru mulai panen," jawab Sugik dengan sopan.
seorang gadis tersenyum, dan memberikan beberapa bungkusan gorengan dan es.
"biar tak haus," kata gadis itu.
"ya sudah tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi ya, dan jika butuh apa-apa bisa ke rumah saya, itu yang deket dengan tower listrik besar," kata pria itu.
"baiklah pak, dan terima kasih atas jajanannya," kata Sugik.
Sugik membagikan makanan itu, bahkan dia tak mengambil karena masih merasa kenyang.
__ADS_1
Sugik pun fokus dalam mengawasi, sedang putri dari pemilik sawah itu sedikit melirik Sugik lagi.
entahlah apa yang gadis itu pikirkan, "hayo kamu lihat apa, kok Sampek bapak di tabrak," kata pria sepuh itu.
"tidak ada kok pak," jawab gadis itu tersenyum malu.
pak Edi, pak Jono dan pak Joko hampir menyelesaikan semua sawah itu bersamaan.
pasalnya satu orang membawa sepuluh orang lainnya, jadi pekerjaan cepat selesai.
"yang sudah di prontok, langsung naikkan ke truk," perintah Aris yang sekarang duduk di samping timbangan.
"baik juragan," jawab semua orang.
Aris pun mencatat semuanya, terlebih itu adalah laporan untuk bagian admin yaitu istrinya.
Aris pun meminta dua truk bersiap karena pekerjaan hampir selesai, tapi tak di sangka saat dapat satu truk malah terdengar suara adzan dhuhur.
"Semuanya berhenti, kita istirahat dulu," kata Aris yang menghentikan semua pekerjaannya.
semua pun berhenti, dari jauh terlihat sebuah sepeda motor datang, ternyata itu Feli dan Ayu.
Keduanya terlihat tertawa sambil berjalan ke sawah itu. "kalian ke apa datang, jalannya buruk karena hujan," kata Aris yang langsung menghampiri istrinya itu.
"habis ini jalan kok kayak jalur of road, bikin kesal saja, pak Joko dan pak Edi bantuin dong," panggil gadis itu yang memang sudah mengenal semua orang.
"siap neng," jawab keduanya yang langsung bangun dan nrlufat sepeda motor yang di tinggalkan oleh Keduanya.
Aris pun memanggil pak Jono dan memintanya membagikan semua makanan, dan Aris melihat sepeda motor yang di maksud.
ternyata sepeda motor itu masuk ke dalam genangan lumpur yang cukup dalam.
setelah sepeda motor bisa di keluarkan, Aris meminta Keduanya mencari papan untuk menutup lubang itu.
Feli membawa sepeda motor ke tempat pompa di makam desa, "ya tuhan motor ini seperti habis keluar dari kubangan dan begitu kotor, semoga tidak rusak ini motor," kesalnya.
ayu hanya tertawa saja melihat tingkah dari Feli, saat baru selesai di tutup dengan papan dia lapis.
truk yang memuat gabah basah lewat, dan dengan mudah papan itu hancur.
"ya Allah baru juga di tutup," kesal pak Edi.
"maaf pak Edi, momotan full," jawab supir truk itu.
__ADS_1
"sudah sekarang ambil batu dari sungai dan buat nambah saja," kata Aris yang langsung melompat masuk kedalam sungai.
"juragan, biar kami,"kaget keduanya.
tapi Aris tak peduli meski dia basah, dan langsung mengeruk batu yang ada di sungai, kebetulan ada beberapa peralatan yang tertinggal di tempat itu.
setelah selesai Aris pun naik dan ayu berpamitan pada suaminya itu, dan Aris melanjutkan pekerjaannya.
panen berlanjut, Aris benar-benar tidak ingin hanya ongkang-ongkang kaki.
dia bahkan membantu pekerjanya jika sudah sedikit kelelahan. Eko datang sudah sore.
pria itu bukan tak ada pekerjaan, tapi Eko mengawasi beberapa kolam dan peternakan terlebih dahulu.
terlebih hari itu bertepatan dengan pemeriksaan rutin, "juragan ada makanan dari Bu bos, istirahat dulu yuk," kata Eko yang menunjukkan kresek merah besar.
kebetulan Sugik juga datang karena pekerjaannya tadi di tempat Raka selesai.
"wah dari mana bro?" tanya Eko.
"dari tempat mas Raka, dan ternyata aku baru tau konsep perdagangan dari Islam, dan sedikit rumit ya, bagiku," jata Sugik.
"sudah-sudah dari pada bingung,makan nih ada nasi kare dari ibu juragan, beh sekarang ada yang bantu, yang kenyang yang kerja ya, Semuanya dapat makan enak terus," kata Eko.
"ya Alhamdulillah dong, beber gak yang lain," kata Sugik yang langsung ikut makan.
"Alhamdulillah..." jawab semua orang.
Aris pun tertawa melihat itu, pasalnya ayu memang sering melakukan hal seperti ini.
setelah panen selesai, mereka pun pulang, dan tak lupa Aris langsung membayarkan semua upah dari para karyawannya.
sedang tiga truk gambar itu sudah di bagi ke dua gudang yang di miliki Aris, dan besok akan di jemur sampai kering.
ayu sudah selesai melakukan semua kegiatannya hari ini, Aris langsung menyapa istrinya saat dia pulang.
"malam sayang,kenapa di luar?" tanya Aris dengan lembut
"aku menunggu mu mas, dan sekalian nemenin non cantik ini nunggu jemputan," jawab ayu.
"iya bang Aris, ah itu bang Sugik, saya pulang dulu, permisi.." pamit Feli sudah lari saat melihat Sugik.
"hati-hati," kata Ayu yang mendapatkan lambaian tangan dari gadis itu.
__ADS_1
Aris pun mengajak istrinya itu masuk karena tak baik angin malam untuk kesehatan wanita hamil.