
"baiklah kami akan mengembalikan semua uang itu, dan memastikan jalan akan sesuai dengan yang sudah di tunjukkan oleh proyek pembangunan," kata ketiga pria itu yang sudah ketakutan.
mereka bertiga tak mengira jika pria yang selama ini murah senyum dan mudah bercanda begitu mengerikan saat marah.
"aku minta rincian semua rencana kerja, aku ingin tau model aspal apa yang kalian gunakan, karena aku tak mau kalian membuang anggaran desa untuk hal yang nanti hasilnya akan buruk," kata Eko.
"tapi mas apa kamu mengerti -" kata pemenang proyek yang sudah di cengkram oleh Eko agar diam.
"kau pikir aku hanya orang desa bodoh, aku lulusan arsitektur bangunan, bahkan aku sudah merancang berbagai jenis macam bangunan, kau kira aku orang bodoh hah!!" bentak Eko
"baiklah kami mengerti," jawab yang lain.
pak Babin pun merasa tak ada harga diri di depan Eko, pasalnya pria itu tak takut sedikitpun padanya.
Eko pun menolak rancangan itu dan mengatakan jika jalan itu akan rusak dalam beberapa bulan.
terlebih jalan di depan rumah Aris sering di lewati oleh truk milik pria itu.
"lebih baik, kalian buat pengajuan kepada juragan untuk memberikan bantuan dana untuk pengecoran jalan, itu lebih baik," kata Eko.
"baiklah jika itu nasihat mas Eko,biar nanti saya yang akan membicarakan segalanya dengan juragan Aris, terima kasih," kata Priyono.
"baiklah pak lurah, dan pak Babin jangan berani mengacungkan senjata mu padaku, aku terbiasa bermain dengan benda itu, jika di tangan orang yang salah itu hanya bisa melukai, tapi jika di tangan ku dengan satu peluru itu bisa mengirim mu ke akhirat, mengerti," kata Eko tersenyum.
"baiklah mas, maafkan saya karena tadi sudah bertindak ceroboh," jawab pria itu.
"baiklah, tapi lebih baik antar tiga pria busuk ini atau aku sendiri yang perlu menyeret ketiganya," kata Eko.
"itu biar kami urus, dan kami akan memastikan jika mereka juga akan di berhentikan karena ketahuan korupsi," jawab Priyono yang tak suka dengan perbuatan seperti itu.
Eko pun pergi dari kelurahan, semua orang bernafas lega saat pria itu sudah pergi.
Eko dan Sugik sampai di gudang dan melihat Aris yang sedang sibuk mengurik gabah.
"juragan bos tak akan bisa berhenti," kata Sugik yang berdiri di depan pintu gudang.
mobil milik Eko masuk dan parkir di samping mobil Aris, "lah ini kenapa istriku datang," bingung Eko.
tapi dia makin kaget saat yang turun adalah Feli, "bang Eko, bang Sugik bantuin turunin makan siang!" panggil gadis itu.
Feli sedang berputar dan membuka pintu mobil lain dan tak lupa membuka patung untuk ayu.
__ADS_1
"gak hujan Feli, tak usah pakai payung, kayak artis saja," kata ayu.
dia pun turun dan kaget melihat suaminya, "dia sedang marah, atau lagi bosan?"tanya ayu pada kedua pria di sampingnya.
"marah Bu bos," jawab keduanya.
"sayang, berhenti dan makan dulu," panggil Ayu.
mendengar suara ayu, Aris menoleh dan langsung membuang alat uang di gunakan untuk mengurik gabah.
"kenapa kamu yang datang?" kaget pria itu.
"tidak penting, lihat kulit mu terbakar," kata ayu dengan kesal.
"ya aku tak sadar," jawab Aris tersenyum manja.
"sudah semuanya makan dulu, mas juga," kesal ayu.
Aris pun mengangguk patuh, Sugik dan Eko hanya tersenyum geli, pasalnya juragan Aris yang tak takut apapun.
kini begitu manis bersikap di depan istrinya itu, bahkan tak peduli di manapun mereka berada.
ayu membantu mengoleskan krim khusus yang dia gunakan selama ini, karena krim itu mengandung lidah buaya yang baik untuk melembabkan.
"iya maaf," jawab Aris.
"tapi Feli memang bisa bawa mobil, terus Ambar kenapa gak ikut?" tanya Eko.
"mbak Ambar di rumah sama Bu Edi, tadi mau ikut tapi kemudian mereka berdua malah sibuk mau buat keripik pisang karena tadi aku menebang pohon pisang di belakang rumah," jawab Feli.
"ya Tuhan kami ini gadis atau pemuda sih, masak bisa melakukan semuanya," ledek Eko.
"bang Eko itu laki-laki atau perempuan sih, kok punya mulut lemes amat," jawab Feli ketus.
"beh nih anak, kenapa sama menyebalkannya dengan Abang mu, tau gak," kata eko
"kan memang kami satu aliran," kata Feli.
Eko pun merasa kesal sendiri, sedang Sugik tertawa mendengar Feli yang terus menjawab pria itu dengan dingin.
"bang... minta uang buat belanja bulanan dong, itu sabun di rumah abis," kata Feli pada Sugik.
__ADS_1
pria itu mengulurkan ponselnya pada adiknya, "di transfer ya," kata geli senang.
"ngawur saja, tulis kamu butuh apa saja, termasuk semua jajanan mu di rumah, dan kebutuhan apa yang habis, biar nanti mas pesan lewat pesan, nanti sore pasti di antar," jawab Sugik.
"oke deh," jawab gadis itu langsung sibuk sendiri.
ayu sudah selesai, dan semua orang juga sudah selesai makan siang, dan sekarang sedang beristirahat.
Sugik memilih keluar karena dia sedang merokok dan tak baik jika merokok di dekat Ayu.
Feli datang dan memberikan ponsel sang kakak, Sugik heran melihat rentetan belanjaan itu.
"kamu ini belanja buat makan orang sekampung," bingung Sugik.
"itu belanjaan dikit, karena aku dan Mbah Mun suka cemilan yang sama, he-he-he," jawab Feli.
Sugik langsung mengirimkan pesan pada toko yang semalam dia datangi.
gadis itu kaget saat menerima pesan dari Sugik, telebih belanjaan itu sangat banyak.
bahkan sangat mendetail, dia pun menyanggupi akan mengantarnya sore nanti.
"sudah tunggu di rumah, palingan sore atau habis Magrib belanjaan mu datang," kata Sugik.
"uangnya mana?" tanya Feli mengulurkan tangannya.
"hadeh pantes ayah mau menikahkan kamu, habis kamu nyebelin banget sih," jata Sugik membuka dompetnya di depan semua orang.
mata Feli pun langsung berubah hijau melihat deretan kertas bergambar Soekarno Hatta berjajar rapi.
tapi dengan usil Sugik memberikan uang seratus dolar pada Feli, "ini yang tak berlaku disini," kesal gadis itu.
"cerewetnya," gumam Sugik memberikan uang enam ratus ribu pada adiknya itu.
Feli pun menerima tanpa mengembalikan uang dolar itu, "itu yang dolar kemarikan," minta Sugik.
"maaf sudah di tangan ku tak bisa di minta lagi, buat beli baju ya bang Sugik," kata Feli.
"dasar kamu ini," kata Sugik pun tak habis pikir dengan tingkah adiknya itu.
"terserah wes terserah," kata Sugik.
__ADS_1
"oh ya mas, mungkin besok orang tua kita datang, katanya mau lihat calon menantunya, dan jika mas Sugik tak menunjukkan wanita yang cocok,mas harus mau di nikahkan sama mbak Utami, hiii..." kata Feli yang baru bicara.
"apa, kenapa batu bilang,bisa di bunuh ayah aku!" panik Sugik.