Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
gadis mie ayam


__ADS_3

"wah kebetulan sekali," jawab Ayu yang melihat putra dari pak Edi yang begitu lucu.


ayu memberikan uang pada bocah itu, "buat beli jajan ya, sudah ya Bu, kalau begitu saya pamit dulu," kata Ayu.


"iya Bu juragan, terima kasih," jawab istri pak Edi.


ayu baru juga akan naik ke atas motor, dia melihat Mbah Minah yang sedang mengendong kayu.


Ayu pun tak jadi pergi dan menghampiri wanita sepuh itu, "sini Mbah Ayu bantu,"


"ya Allah... cah ayu," kata si Mbah yang melihat ayu tersenyum kearahnya.


setelah membantu wanita itu, Ayu memberikan sedikit rezeki dan kemudian pamit.


istri pak Edi melihat uang yang di berikan pada putranya, ternyata itu uang pecahan lima puluh ribu.


"ya Allah... semoga rezeki juragan dan ibu juragan selalu lancar, dan terus langgeng amiin.." kata istri pak Edi.


Ayu juga menyapa beberapa orang yang lewat, setelah sampai rumah ayu mulai memasak.


tapi untuk ikan dia memiliki untuk menaruhnya dalam freezer setelah di beri bumbu.


setelah selesai sibuk dengan jantung pisangnya, ayu ketiduran di sofa.


Aris masih mengawasi Eko dan pak Edi mengukur luas area belakang yang harus di semen.


awalnya Aris ingin memanggil dan membeli cor dari pabrik saja, tapi jika dia hitung-hitung lagi, lebih baik memperkerjakan orang desa saja.


"Eko, besok cari orang yang bisa untuk menyelesaikan ini ya, pak Edi juga bisa bantu cari orang kok," kata Aris.


"baik juragan," jawab pak Edi.


pukul setengah tiga sore, truk gandeng yang tadi berangkat ke pabrik sudah kembali.


terlihat Sugik yang masih begitu semangat, "juragan bos bentar lagi boleh pamit pulang kan?" tanya Sugik.


"boleh kok, pulang saja, yang lain juga, tapi pekerjaan mu ini selesaikan dulu," kata Aris yang sedang membantu pak Edi memasukkan jagung ke karung.


pekerjaan cepat selesai karena para pegawai ikut membantu, pukul empat sore Semuanya pun sudah akan pulang.


tapi Aris masih di kantor kecil di gudang itu dengan Eko, karena harus menghitung semua jagung yang baru saja selesai di timbang dan keluar.


Sugik sudah selesai mandi, bahkan pria itu sempat membawa baju ganti.


"widih... mau kemana kamu, wangi banget?" tanya Aris.

__ADS_1


"mau ketemuan dong, sudah pamit dulu bos, maaf gak bisa bantu hari ini," pamit Sugik.


"iya, hati-hati kena tipu lagi," teriak Aris


Sugik langsung mengendarai motor Yamaha N-max yang baru di belinya beberapa hari lalu.


dia sampai di UGD, tempat kemarin dia mengantarkan Nita berobat hingga mengantarkan wanita itu ke neraka.


terlihat beberapa perawat keluar dari sana, "nona mie ayam!!" panggil Sugik sedikit berteriak.


gadis itu menoleh dan langsung malu, pasalnya Sugik memanggilnya dengan panggilan aneh.


"dia manggil siapa sih?" tanya seorang perawat.


Sugik langsung melaju mendekat kearah segerombolan wanita berpakaian putih itu.


"nona mie ayam, aku sudah janji, ayo pergi," kata Sugik.


"aku punya nama, kenapa memanggilku begitu," kesal Bella


"siapa namamu? Bella..." lirih Sugik melihat name tag di dada gadis itu.


"iya, Bella Wahyuningsih," jawab gadis itu


"wah... Bella punya cem-ceman," kata semua temannya.


"terserah, sekarang kita pergi dulu, semuanya aku duluan ya," kata Bella yang langsung naik ke atas motor pria itu


"oke nona Ningsih, aku pamit bawa temennya dulu ya gadis-gadis," kata Sugik pada para perawat yang lain.


"eh gila dia ganteng banget...." kata para teman Bella saat motor Sugik menjauh.


pasalnya meski sudah sedikit hitam karena panas, tapi tak menutupi wajah tampan Sugik.


"kita mau makan di mana?" tanya Sugik.


"di warung pak Utomo depan SMP, itu enak kok," jawab Bella.


tak sengaja ayah dari Bella melihat putrinya yang di bonceng oleh seorang Pria.


tapi dia tak bisa melihat pria yang mengenakan masker itu, dia pun penasaran.


"siapa itu," gumamnya.


keduanya turun dan mulai makan berdua, Bella memesan mie paling spesial.

__ADS_1


"apa kemarin di tempatmu tak begitu ramai karena kecelakaan itu?" tanya Sugik.


"itu sudah biasa, tapi aneh kamu kenapa seperti tak mau repot gitu," tanya Bella penasaran.


"ya males saja, dia itu sudah sombong dan berani ingin merusak rumah tangga orang, dan aku paling benci orang seperti itu," jawab Sugik jujur.


"sama aku juga tak duka, terlebih aku punya pengalaman buruk tentang hal seperti itu," jawab Bella


Sugik dan Bella begitu mudah dekat, meski bela yang sedikit ceplas-ceplos tapi itu seperti hal istimewa di mata Sugik.


setelah makan, mereka pun lanjut menikmati waktu petang itu di area pasar malam yang baru buka.


setelah puas berkeliling, Sugik pun mengantarkan Bella pulang, "tutup salam untuk ibu ya, kapan-kapan aku main ke sini, nanti telpon aku ya," kata Sugik pada gadis itu.


"kebalik dong, seharusnya kamu yang menelpon ku," jawab Bella.


Sugik pun pergi, Bella masuk kedalam rumah, tapi sebuah tamparan mendarat di pipi gadis itu.


"dasar anak tak tau diri, setelah pulang bekerja seharusnya kamu itu pulang tidak ngelayap kemana-mana," marah ayah Bella.


"Anda siapa bisa memarahiku, aku tak mengenalmu, ibu ini titipan dari teman Bella, katanya kapan-kapan dia ingin bertemu ibu," kata Bella.


ibu Bella hanya bisa menangis, dia terlalu lemah dan tak bisa melawan suaminya.


"siapa pria itu?" tanya ayah Bella.


"kenapa, apa urusan mu, siapa dia tak ada sangkutannya," jawab Bella.


"jangan keterlaluan Bella, kamu sudah di jodohkan," bentak ayahnya.


"di jodohkan dengan tua Bangka, dan aku akan jadi istri keempatnya, setelah itu ayah akan menerima sawah dan menikmati dengan wanita pelacur mu itu, cih enak sekali hidup anda," kata Bella dengan tajam


"dasar gadis sialan," marah pria itu


"aku memang sialan, tapi ayah ku lebih sialan dan bajingan, dari pada aku jadi istri keempat lebih baik aku mati!!" teriak Bella yang masuk kedalam kamar.


"apa begini kamu membesarkan putrimu," marah pria itu.


"cukup dia putriku, kau tak ada hak menghina dia, kau hanya ayah yang tak pernah mencintai kami, jika ingin kaya, minta anak simpanan mu yang menikahi pria tua itu," usir ibu Bella.


pria itu pun marah dan langsung meninggalkan rumah kotor itu, pasalnya jika seperti ini rencananya akan gagal.


karena hanya pria itu yang sangat kaya setelah juragan Aris, dan dia tak mau kehilangan sawah dan uang yang sudah di janjikan kepada dirinya.


Bella merasa hidupnya hancur, dia tak mengira ayah yang seharusnya jadi pendukungnya.

__ADS_1


malah ingin menjual putrinya sendiri demi uang, "Bella ..." panggil ibunya.


Bella keluar dan langsung berpelukan dengan sang ibu, wanita yang sudah dengan kerja keras membesarkan dan membuatnya sampai sejauh ini.


__ADS_2