
tak terasa kandungan ayu sudah memasuki waktu tujuh bulan, Aris sudah mulai bertanya-tanya pada para orang tua di desa.
terlebih dia juga tak tau benar bagaimana harus mengadakan acara tingkepan yang semestinya.
dia pun meminta tolong pada Bu Edi dan bu tini untuk menyiapkan segalanya, terlebih ayu juga makin kesulitan bergerak.
"juragan Aris, kalau acaranya besok, apa tak menganggu acara pesta rakyat yang di adakan mas Priyono, soalnya saya dengar beliau akan mengadakan acara syukuran," kata Bu Tini.
"bismillah tidak Bu, orang juta ngundang juga orang sini saja, bukan satu desa ini, terlebih acaranya juga setelah sholat magrib," jawab Aris.
"baik juragan, dan ingat apa yang sudah kami tulis itu wajib ada loh ya," pesan Bu Edi.
"iya Bu, baru kali ini loh ada yang berani nyuruh juragan Aris," katanya sambil melihat tulisan yang ada di tangannya.
"ya mau gimana lagi, meski juragan tapi anda kan tetap ayah dari bayinya," kata Bu Tini tersenyum.
Eko dan Ambar datang membawa jeruk Bali hingga lima buah, "memang ini mau fi buat rujak semua?" tanya Ambar yang baru datang.
"tidak dong mbak, nanti buat di do'akan, dan nanti aku bisikkan caranya biar cepet ketularan ya," kata Bu Edi tersenyum.
mendengar itu, Ambar mengangguk senang, dan Feli datang bersama Sugik membawa burung dara yang di minta.
bahkan mereka juga sudah membeli semua wadah untuk acara besok, dan juga semua jenis umbi-umbian.
bahkan meski jlarut dan ganyong sulit, mereka berhasil mendapatkan dua umbi itu.
"ah... aku kapok ikut mas Sugik, karena aku di ajak ke kebun yang banyak nyamuk, lihat tubuhku merah-merah semua," kata Feli yang memeluk ayu dan mengadu.
"aduh kasihannya, maaf ya kamu jadi repot gini," kata Ayu yang membantu mengupas bumbu.
"gak masalah, demi mbak dan anaknya, aku pun bisa melakukan apa saja," jawab Feli
Sugik pun mengeleng pelan, Aris membisikkan sesuatu dan pria itu langsung pergi bersama Aris.
"sayang aku pergi dulu ya dengan Sugik, Eko kamu tetap disini, dan bantu-bantu ya," kata Aris.
"siap bos juragan," jawab pria itu.
keduanya pun pergi, Aris pun sempat tersenyum melihat kearah istrinya sebelum pergi.
__ADS_1
"jadi bos," kata Sugik.
Aris pun masuk kedalam mobil, dan meninggalkan rumah bersama Sugik.
mereka menuju ke kota tetangga, mereka mendapatkan kabar jika semua Empang yang berisi udang siap panen tiba-tiba gagal panen.
butuh waktu dua jam untuk sampai di kota itu, dan saat sampai terlihat semua orang sedang membereskan tambak-tambak.
Sugik turun terlebih dahulu dan langsung menghampiri pengawas dari tambak itu.
tanpa bicara pria itu langsung menggampar wajah pria itu dengan keras.
"bagaimana kau kita kamu bodoh hah, kamu belum lupa apa yang bisa kami lakukan," marah Sugik.
"maaf mas Sugik, apa yang kamu katakan aku tak mengerti," jawab pria itu
Aris berjalan dengan tenang, "siapa yang bisa berkata jujur, aku akan memberikan sawah milikku di daerah ini, dan katakan yang sebenarnya," kata Aris datar.
sedang pria yang di tampar Sugik masuk kesakitan, pasalnya tangan Sugik benar-benar tak kira-kira.
"saya juragan, saya yang menyaksikan sendiri, semalam mas Totok menyiramkan cairan ke tambak," jawab pria itu.
"saya Inyong," jawab pria itu.
"Sugik bereskan," jawab Aris dingin.
Sugik langsung menyeret pria itu dan menenggelamkan dia di tambak udang yang akan di kuras itu.
"kau pikir totok akan berani melawan ku, kamu orang baru yang seminggu lalu Totok ajak untuk bekerja, dan kamu berani untuk berbuat curang, kamu tak tau siapa aku," kata Aris.
pria itu sudah hampir mati karena Sugik tak mengampuni sedikitpun, dan semua orang pun hanya bisa melihatnya.
mereka semua tau jika menghianati Aris sama dengan cari mati dan mematikan rezeki mereka sendiri.
karena Aris adalah orang yang paling tak bisa di tebak, pria itu bisa baik sekali pada orang.
tapi sekali dia marah maka hidup mu selesai di tangannya. "mohon ampun juragan, saya hanya di bayar, mas Totok tolong," kata pria itu.
Sugik pun melepaskan pria itu. kini dia menyeretnya dan mendorongnya hingga tersungkur di kaki Aris.
__ADS_1
"jadi katakan dengan jujur, kamu bukan hanya membuatku rugi, tapi kamu membuat semua orang di tempat ini tak bisa makan, jadi katakan!!" bentak Aris.
"maafkan saya juragan, karena saya melakukan ini di bayar, dia bernama Agus, dan dia yang memberikan saya uang dua puluh juta untuk membuat kolam ini gagal panen," kata pria itu.
"minta dia menunjukkan dirinya, jika kamu berhasil aku akan mengampuni mu, tapi jika tidak ku pastikan kamu akan kelaparan dan tak ada orang yang akan membantu mu dan keluargamu," kata Aris dingin.
pria itu pun mengangguk dan langsung berusaha menghubungi pria yang menyuruhnya.
Aris meminta semua orang menguras semua tambak-tambak itu, terlebih yang di masukkan adalah obat suket, jadi hari itu Aris meminta semua orang untuk membersihkan tambak.
setelah melakukan hal itu, Sugik dan Aris sudah menunggu pria yang berani mengusiknya.
bahkan Aris penasaran pria Nana yang berani, ternyata seorang pria pincang datang sambil tertawa.
pasalnya dia melihat tambak itu kosong dan terlihat ada sebuah nyala api besar yang mengajar semua udang.
"kamu memang hebat, apa yang tak bisa di lakukan oleh orang ku, kamu bisa menyelesaikan tugas itu dengan mudah, sekarang pria itu pasti sedang gigit jari," kata Agus tertawa.
pria itu memiliki luka jahitan di tangan dan wajahnya yang juga ada beberapa luka jahitan.
"memang kenapa mas Agus begitu ingin melihat juragan Aris seperti ini, bukankah kalian pernah satu desa," tanya Inyong.
"dia itu hanya pria busuk yang menjengkelkan, dan aku selalu ingin melihatnya merugi, setidaknya dua akan kehilangan uang dua ratus juta bukan," kata pria itu tertawa.
"tapi kamu akan kehilangan nyawamu, karena kamu tak berubah, dan lupa apa yang pernah aku katakan dulu," kata Aris yang keluar dan melihat sosok pria yang hampir di bunuh nya dulu.
melihat Aris, Agus ketakutan, pasalnya terakhir kali dia sudah meregang nyawa di tangan pria itu.
"sialan... kamu menjebak diriku," marah pria itu.
"maaf aku melakukan ini karena kamu yang memaksaku," jawab Inyong.
Agus ingin berlari, tapi mobilnya sudah di bakar oleh Sugik, "ups.. maaf apinya menyala sendiri," jawab Sugik.
Agus pun panik dan memutuskan untuk lari tapi langkah kakinya yang memang tak sempurna sangat mengganggunya.
dia pun berusaha menjauhi pria itu, tapi itu tak mudah, terlebih Sugik Sugik menarik dan membanting pria itu.
"tak ku kira, musuhku berani menunjukkan wajahmu di depan ku setelah aku membuat mu terusir dari desa," kata Aris dingin dengan menginjak dada pria itu.
__ADS_1