Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
terima kasih sayang


__ADS_3

"kenapa mas menangis, aku tak apa-apa, bagaimana putri kita? apa dia sehat karena suster tak memperbolehkan ku untuk menjengguknya," kata ayu yang nampak sedih.


"dia sedang di ruangan khusus, karena Niken kecil kita lahir dengan tubuh yang sedikit kurang sehat, tapi dokter bilang jika dalam tiga hari ini kondisinya sudah membaik dan sehat kita bisa membawanya pulang," jawab Aris menerangkan.


"baiklah mas, tapi apa kamu di rumah baik-baik saja?" tanya Ayu.


"aku tidak pulang sayang, meski tak boleh masuk kemarin, aku tetap di luar menemani Bu Syamsir, terlebih takut jika kamu atau ibu butuh sesuatu," jawab Aris.


"tapi jika ibu terus di sini, bagaimana dengan pernikahan mas Sugik?" tanya ayu yang terlihat tak enak.


"tidak masalah nak, pernikahan di lakukan dua bulan lagi, karena itu permintaan dari ayah Diani, terlebih mereka harus membenarkan beberapa data yang kacau," jawab Bu Syamsir yang baru datang bersama Feli.


"loh ibu sudah datang lagi, saya kira ibu akan istirahat dulu karena sudah dua hati menjaga ayu di sini," tanya Aris.


"ibu kasihan jika kamu harus menjaganya sendiri, lagi pula ini terbiasa kok, dulu waktu adik-adiknya Sugik melahirkan ibu juga kok yang jagain," jawab Bu Syamsir.


"terima kasih ya Bu, kami begitu merepotkan ibu," kata ayu.


"namu ini ngomong apa, saya tak merasa di repotkan karena saya senang melakukannya, terlebih Aris juga sudah saya anggap seperti putra ku sendiri, dan kamu juga ayu," kata Bu Syamsir.


pak Mun datang membawa kue kesukaan dari ayu, karena Aris bilang jika ayu tak ada pantangan makan.


dokter visit dan bilang jika besok ayu bisa pulang begitupun dengan bayinya.


terlebih bagi perempuan mereka itu meski kecil tapi ternyata sangat sehat.


Bu Syamsir dan Bu Edi akan mengawasi ayu dalam menjaga anak pertamanya.


terlebih Aris selalu ingin yang terbaik untuk keluarganya, dan tak mau asal-asalan.


*********


pagi ini ayu sudah bisa berjalan bebas karena selang infus sudah di lepas.


meski luka jahitan masih terasa nyut-nyutan tapi tertutup dengan rasa bahagia saat bisa memeluk putri kecilnya.

__ADS_1


"ibu kenapa putriku wajahnya mirip sekali dengan ayahnya, aku bahkan seperti tidak punya andil sedikitpun?" tanya ayu pada Bu Syamsir.


"benarkah, kalau di tempat ini, jika anak pertama seperti ayahnya, dia akan jadi kebanggaan orang tua, dan akan jadi harga diri dari ayahnya," kata Bu Syamsir.


"owh begitu, sayang kamu akan jadi orang hebat seperti ayahmu, tapi Hannan bawa emosinya yang kadang menyeramkan itu ya," kata ayu yang di balas sebuah senyum sekilas oleh putrinya.


mobil Aris pun sampai di rumah, terlihat semua warga berkumpul ingin melihat bayi Aris.


bahkan semua orang membawakan hadiah juga, ayu pun menidurkan putrinya di ranjang dan duduk di sofa.


Aris memberikan sebuah kursi kecil agar kaki ayu tak mengalami kram atau bengkak.


"butuh sesuatu?" tanya Aris.


"tolong buatkan ramuan yang di berikan ibu mas, soalnya itu bisa melancarkan asi," kata ayu pada suaminya itu.


"mas Aris duduk saja, ini Feli sudah buatkan," kata gadis itu yang datang dengan gelas yang cukup besar.


Aris pun merasa kasihan melihat ayu yang harus minum jamu pahit itu, tapi ini pilihan ayu demi putri mereka.


"aduh mbak ayu melahirkannya operasi sesar ya, padahal melahirkan normal itu lebih baik karena merasa kita jadi ibu yang sesungguhnya, kalau operasi kan gak bisa merasakan jadi ibu," kata Bu Sri yang ikut melihat


"bener itu, sesat itu kan gak terasa sakitnya seperti melahirkan secara normal, terus mbak ayu kurang makan ya, kok bayinya kecil sih," saut ibu yang lain.


ayu sudah melihat Aris marah, ayu mengenggam tangan suaminya dan tersenyum.


"sabar mas..." lirih Ayu.


"ibu-ibu ini kalau mikir pakai otak dong, ngomong asal njeplak saja, kalian kita melahirkan sesar gak sakit, saya yang melahirkan putra saja saja, sakitnya itu masih sampai dia besar, saat kita kecapekan pasti terasa bekas jahitannya, kalian melahirkan normal sakitnya pas setelah lahir saja, sedang Jami, sampai mereka mulai tumbuh pun masih merasakan sakit, siapa yang bilang melahirkan sesar kurang sempurna jadi ibu, kalian gak mikir kami juga bangun di malam hari, menyusui dan mengajarkan segalanya pada anak kami, kalau ngomong itu mbok ya di pikir," marah Bu Edi.


Bu syamsir yang mendengar pun merasa senang pasalnya wanita itu begitu melindungi ayu, sedang Feli mengacungkan dia jempolnya.


"mampus diem gak tuh," kata Feli


"sudah-sudah mau melahirkan sesar atau normal, kita semua tetap ibu yang baik, dan semoga yang belum jadi ibu segera di beri kepercayaan untuk merasakan kebahagian itu," kata Bu RT menengahi semuanya.

__ADS_1


"iya Bu, Monggo semuanya kuenya di makan, maaf hanya ada ini saja di rumah," kata ayu yang melihat semua masih tegang.


Bu Syamsir memberikan Putri kecil itu pada Niken untuk di susui, Aris sudah di usir agar keluar rumah.


terlihat air susu ayu sangat melimpah, "Alhamdulillah... semoga bulan depan Niken cantik ini bisa nambah banyak bobotnya ya nduk,"


"iya Bu, terimakasih sudah membantu saja dan membimbing agar bisa menjadi ibu yang baik," jawab Ayu merasa senang


Bu Syamsir membantu memompa untuk pay****a satunya, karena mubazir kalau di biarkan begitu saja.


beberapa ibu terlihat membawa kue, ayu pun memperbolehkan sedang Feli ingin rasanya mencekik dua wanita yang tadi mengatai ayu karena melahirkan sesar.


"mbak, bisakah aku membunuh mereka," kesal Feli di samping ayu.


"jangan dek, ingat kamu tidak boleh seperti kakak-kakak mu itu, masak mereka bertiga tukang pukul kamu yang perempuan ini juga, ya Allah..." kata ayu yang geleng-geleng.


"maaf deh, habis bikin kesel sih, tadi menghina mbak ayu, sekarang ad makanan di bawa pulang kalau bisa mungkin tuh piring juga kali," kesal Feli.


"Sabtu dek, mau coba gendong Niken gak?" tanya ayu yang menawarkan.


"gak ah, nunggu dia besaran dikit,ngeri gitu kayak gak ada tulangnya, lemes..." kata Feli sambil menyentuh pipi bayi Niken.


"assalamualaikum... boleh dong kalau Tantenya yang gendong," kata Ambar yang baru datang setelah membatu Eko.


"kenapa panggil Tante, boleh dong kalau Ami mau gendong," kata ayu memberikan pada Ambar.


"kok panggil Ami?" tanya Ambar.


"kalau aku bunda, panggilan untuk mbak Ambar Ami karena ibu keduanya Niken, dan untuk Feli?" kata ayu bingung.


"bulek, ibu cilik benar kan," kata Feli dengan bangga.


Ambar pun merasa senang, karena boleh menganggap putri dari sahabatnya itu seperti putrinya sendiri.


terlebih dia dan Eko juga belum berhasil mengikuti program hamil seorang dokter yang terkenal di Surabaya.

__ADS_1


__ADS_2