
"widih ceria amat, habis dapet undian berhadiah nih," kata Aris menggoda anak buahnya itu.
"kalau menurutku dia ketempelan deh bos, lihat saja dari tadi senyum-senyum gak jelas gitu," kata Sugik.
"beh, ya gak gitu juga kali gik, orang bahagia di ledekin kena sambet setan, mending pas nikah minta resep juragan, beh di jamin malam pertamamu bahagia," kata Eko.
"memang resep apa, jamu kuat? aku kuat tanpa harus minum jamu," jawab Sugik.
"memang tuh adek mu kuat, orang tak pernah kamu pakek sampai umur tiga puluh tahun gitu," ledek Eko.
"ya di pakek lah, kalau gak gimana aku kencingnya, kamu aneh emang," jawab Sugik tak habis pikir.
"angel ngomong sama kamu itu," kesal Eko yang tak pernah bisa menang dari Sugik.
"sudah nanti sebelum malam pertama beli susu beruang kaleng itu, campur madu dan kuning telur, tapi ingat susunya dipanasin dulu, terus minum," kata Aris dengan enteng.
"owalah cuma begitu toh, aku sering minum kok, cuma ada tambahan jahe dan kencur," jawab Sugik.
Aris dan Eko cuma melengos saja, ya dari ketiga pria itu Sugik yang memang paling sulit untuk mencari jodoh.
mereka pun mulai bekerja, Aris dan Sugik kini giliran ke sawah untuk mengawasi beberapa orang yang sedang membajak sawah.
saat keduanya duduk di pinggir sungai, ada mahasiswa yang lewat, "permisi pak," kata para mahasiswa itu.
"iya," jawab Aris singkat.
dia dan Sugik masih fokus melihat para pekerja, tiba-tiba Feli datang mengantarkan kopi dan kue basah.
"hiya.... untuk ada di sini, bang ini kopi dan kue dari mbak ayu, katanya nanti sore kalau pulang tolong ambilkan daun katuk di rumah pak Edi, soalnya Bu Edi gak bisa pulang karena puser dedek bayi copot tadi," kata Feli.
"baiklah, tapi bukannya harus aqiqah?" tanya Sugik
"memang, makanya ini kami repot dan bang Aris yang harus mengambilnya," kata Feli kesal dan pergi begitu saja.
"siapa lagi yang bisa aqiqah mendadak jika bukan juragan Aris, hebat memang," kata Sugik tertawa
"sudahlah pasti hanya mengundang beberapa tetangga, acara tak mungkin besar juga," kata Aris.
tapi Aris salah, Ayu sudah tau tentang bagi laki-laki yang mati karena Erna, jadi hari ini dia memutuskan untuk menyembelih tiga ekor kambing untuk aqiqah kedua anaknya, terlebih bayi yang mati juga sudah sempurna di rahimnya.
semua tetangga membantu, kue di pesan mendadak di toko kue langganan, tak lupa ada iwel-Iwel yang di buatkan oleh Bu Edi.
pak Mun juga sibuk mengemas sembako seperti biasa, Ayu hanya di suruh mengawasi tanpa boleh bersusah payah.
__ADS_1
"ya Allah baru kali ini loh ada kenduri dadakan, jika bukan keluarga juragan mana bisa," kata ibu-ibu.
"ya Allah Bu, semua itu pasti sama saja, kebetulan kami memang memiliki rejeki lebih jadi pantas berbagi bersama yang lain," jawab Ayu.
karena yang membantu sangat banyak, tiga ekor kambing pun segera selesai di tusuk dan di bakar.
tak hanya itu gule juga selesai di buat dan langsung di kemas karena setelah isya' acaranya.
bahkan hampir seluruh warga di RW itu di undang, Priyono juga mendapatkan undangan.
dia tak mengira jika putri Aris yang baru lahir sudah berusia hampir seminggu.
para mahasiswa itu mengawasi para pekerja di sawah Aris, sedang pemilik sawah membiarkan saja, toh dia juga malas di tanya-tanya.
"Sugik coba tanya, mereka itu melihat apa, orang irigasi di sawah ini bagus kok, sebenarnya mereka itu tugas KKN apa sih kok sampai ke sawah segala?"
"siap bos," jawab Sugik yang membuang rokoknya dan menginjaknya.
Sugik menghampiri keempatnya dan bertanya, setelah tau mereka pun mengikuti Sugik.
"tuh tanya aja sama pemiliknya, dia pakai pupuk organik apa pupuk kimia," kata Sugik menunjuk Aris
"kenapa kamu merepotkan aku, kamu juga tau, bantu mereka dan jangan sampai menganggu pekerjaan orang-orang, aku mau pulang, aku rindu pada putriku," kata Aris yang langsung tancap gas.
"maaf mas, itu tadi masnya marah?" tanya Andi, kedua dari para mahasiswa itu.
"dia tak suka melihat wanita yang mengobral tubuhnya, jago kalau kalian mau bertemu dia lebih baik benahi dulu pakaian kalian," jawab Sugik dingin.
Andi melihat Dara, ya gadis itu memang seksi dari segi penampilan meskipun Andi sudah mengingatkan tapi Dara tetap tak menggubrisnya.
"maafkan kami, bisa kami wawancarai sebentar," tanya Andi.
"boleh tapi saya angkat telpon dulu," kata Sugik yang memilih sedikit menjauh.
"ya assalamualaikum dek, ada apa?" tanya Sugik yang tau itu telpon dari Diani.
"baiklah, nanti sore mas jemput ya, tidak usah bawa apa-apa," suara Sugik terdengar sangat lembut.
"baiklah dek, kamu juga jaga kesehatan, ingat satu bulan lagi, ya wes, waalaikum salam," jawab Sugik.
"istrinya mas?" tanya Dara.
"bukan urusan anda, kalian mau bertanya apa silahkan, dan sebelum itu perkenalkan nama saya Sugik Syamsuddin," kata Sugik.
__ADS_1
Andi kaget, pasalnya orang yang tak boleh mereka ganggu malah berada di depan mereka.
berarti pria tadi antara Eko atau juragan Aris, Sugik menjawab semua cara dari juragan Aris untuk pertanian.
dia juga menunjukkan sawah yang di buat percobaan tumpang sari, dan jika berhasil mungkin itu bisa di jadikan pertanian yang akan di gunakan nantinya.
Andi, Farid, Ali dan Dara pun pamit setelah mengetahui semua yang mereka butuhkan untuk laporan.
"uh... aku butuh asupan gula nih, kenapa di desa ini sulit sekali menvasu es krim," kata Dara.
"tunggu saja, sebentar lagi juga lewat, es potong," kata Sugik yang merapikan semua kopi dan memberikan pada pekerjaannya.
benar saja tak lama ada pedagang es potong yang mendorong gerobak dengan berjalan kaki.
Sugik pun membelikan mereka semua es potong, Dara tak mengira di balik wajah sanggarnya Sugik begitu perhatian.
"em... rasanya enak," kata Dara yang terlihat senang.
"dasar kamu ini, sudah setelah ini ayo pulang kita ada rapat dengan pak Priyono karena nanti malam beliau sibuk jadi rapat di majukan," jawab Andi.
"baiklah-baiklah kamu ceret sekali," saut Dara.
mereka pun pergi, begitupun Sugik yang pergi untuk melihat semua gudang.
suami dari Bu Tini membantu menyebarkan undangan aqiqah di rumah juragan Aris.
Aris datang dan menuntun sepeda motornya untuk di masukkan kedalam garasi, setelah itu dia langsung menyapa pak Mun.
"bagaimana persiapannya Mbah," tanya Aris yang duduk di sebelah pak Mun.
"Alhamdulillah, meski mendadak tapi semua berjalan dengan lancar," jawab pak Mun.
"Alhamdulillah, ngomong-ngomong tidak ada yang bilang jika ada anak KKN di desa, dan apa Priyono tau peraturan terbesar di sini," kata Aris yang menghela nafas.
"tenang mas, sudah saya kasih tau agar mereka tak mencari atau menganggu mu," kata pak haji yang datang bersama istri.
"pak haji, Monggo silahkan masuk, bayinya di dalam Bu, Monggo Monggo..."
pak Mun mempersilahkan, istri pak haji pun masuk kedalam rumah sedang suaminya duduk bersama Aris.
"bagus kalau begitu, karena saya tak ingin ada kejadian seperti Lina tahun lalu," kata Aris yang tak bisa lupa bagaimana seorang mahasiswi berani memfitnahnya.
beruntung pak haji dan Mbah Sun yang menjadi saksi kuat untuk Aris, hingga gadis itu mengakui segalanya.
__ADS_1