
"beh... nih bocah pinter amat," saut Sugik mendengar ucapan adiknya.
"baiklah kalau begitu, besok kamu datang ke sini, ingat kamu harus jaga istriku, dan jangan membuatnya kenapa-kenapa," kata Aris pada Feli.
"siap juragan bos," jawab Feli.
setelah berbincang cukup lama, mereka pun pamit pulang, Feli di bonceng oleh Sugik.
warga desa yang melihat pun kaget pasalnya yang tersebar adalah Sugik yang akan menikah dengan Bella.
tapi sekarang pria itu malah membonceng gadis lain,itupun dari rumah juragan Aris.
berita cepat menyebar, Sugik mengajak adiknya itu untuk lapor ketua RT dan RW tempatnya tinggalnya.
setelah itu, Feli ingin membeli cemilan dan terpaksa Sugik mengantarkan gadis itu ke minimarket terdekat.
"sudah kamu belanga apa, cepet itu kasihan mas kasirnya nungguin kamu," kata Sugik.
"memang kenapa sih, orang masnya loh gak protes, tapi Abang aja dari tadi ngedumel Mulu," ketus Feli.
tanpa mereka duga, Bella yang sedang bersama ibunya pun melihat hal itu.
awalnya tadi dia ingin menyapa Sugik, tapi di urungkan karena melihat ada gadis lain di sebelah pria itu.
terlebih Feli yang terus mengandeng tangan Sugik, dan Sugik yang terlihat begitu bahagia dengan adanya gadis itu.
"Bella.. itu bak Sugik kan?" tanya ibu Bella.
"iya Bu, dan dia sepertinya mengingkari janjinya, dia padahal tau kondisiku, tapi dia tetap melakukan ini di belakang ku," kata Bella yang sedih melihatnya.
melihat Feli yang kini merangkul pinggang Sugik, melihat itu Bella marah.
dia tak suka, "owh... setelah mas tau semua perlakuan orang itu padaku dan ibu, sekarang mas juga melakukan hal yang sama padaku, kamu jahat mas, kalau seperti ini kita batalkan saja rencana kita!!! aku tak mau tinggal dengan pria seperti mu!!" kata Bella sedih.
"kamu bicara apa, kamu bahkan belum mengenalnya, tapi kamu sudah mengambil keputusan sendiri," kata Sugik yang melindungi Feli.
"bang takut ..."lirih gadis itu.
__ADS_1
"hei dasar gadis murahan, kenapa kamu berani ingin merebut pria milikku, kamu kegatelan!!! huh!!" marah Bella.
"cukup, jangan berani menghinanya, atau aku akan lupa jika kamu wanita," ancam Sugik yang langsung mengajak Feli pergi.
Sugik merasa tak berguna untuk menjelaskan karena kondisi dari Bella sedang marah besar.
dan jika ini keputusan terakhirnya, dia pun tak keberatan toh dia juga tak terburu-buru untuk menikah.
Bella pun merasa sedih karena Sugik lebih memilih wanita itu di banding dirinya.
sesampainya di rumah Sugik meminta Feli untuk istirahat, sedang dia harus menemani Aris berkeliling Desa seperti biasanya.
malam ini suasana sangat ramai karena ada hiburan rakyat, wayang kulit dan besok baru acara pesta yang sesungguhnya.
"bagaimana persiapan untuk ujian besok bos?" tanya Sugik pda aris.
"berjalan baik, ya setidaknya aku pernah kuliah jadi tak goblok-goblok banget lah," jawab Aris.
"ya kalau itu mah gak mungkin,orang bos dari dulu sudah pintar, kalau gak tak mungkin bisa memikirkan bagaimana cara membunuh tanpa bisa di ketahui jejaknya," kata Sugik
"itu hanya keberuntungan, jadi tidak bisa di katakan seperti itu, sebenarnya aku juga tak yakin bisa memimpin desa ini, terlebih orang-orang ini cukup merepotkan," kata Aris.
"ke dusun sebelah, aku ingin lihat apa disana masih ada warga yang kesulitan, " kata Aris.
"setahuku, aku dan Eko selalu merolling para pekerja yang bekerja di bagian sawah sekitar sini, seharusnya tidak juragan," jawab Sugik.
"siapa tau ada yang belum, kita kan gak pernah tau," jawab Aris.
mereka pun sampai di dusun yang tak jauh dari desa tempat tinggal mereka.
ternyata kondisinya lebih parah, masih banyak rumah berdinding anyaman bambu.
mereka di hampiri oleh beberapa bapak-bapak yang sedang nongkrong.
"ada ini siapa ya, dan mau eps kemari?" tanya mereka dengan tatapan mengintimidasi.
"saya hanya mau melihat kondisi desa ini, dan kalau boleh tau dusun ini ikut kelurahan mana, Sumberwangi atau desa Sumberejo?" tanya Aris.
__ADS_1
"dusun sini ikut Sumberwangi pak, memang kenapa?" tanya pria itu
"wajah dia tak sadar jika sedang bicara dengan juragan Aris," kata Sugik.
"apa? juragan Aris.." lirih mereka melihat sosok pria yang tak pernah mereka temui itu.
"apa benar, anda juragan Aris, ya Allah... padahal kamu bekerja di sawah anda, tapi malah tak mengenal yang punya," kata bapak-bapak itu.
"tidak apa-apa, saya cuma mau berkeliling saja, kok masih banyak orang yang rumahnya berupa gubuk dari bambu?" tanya Aris.
padahal yang dia tau jika semua anggaran untuk desa cukup besar, belum lagi bantuan yang juga dia sokong untuk desa juga tak sedikit.
"ya mau gimana lagi, orang semua yang menjabat itu orang dari lurah lama, jadi kalau ada bantuan dari pemerintah akan di berikan pada saudaranya, dan jarang kami mendapatkan sama rata," kata pria yang lain.
"apa separah itu, oh ya bukankah setiap bulan ada pembagian sembako meski tak banyak,apa kalian menerimanya?" tanya Aris.
"iya itu dari lurah lama dan juragan Widodo," jawab salah seorang dari mereka.
"sialan, siapa yang berani mengatakan jika itu adalah bantuan dari juragan tua bisik itu, wah... Sugeng minta di beri pelajaran, berani-beraninya dia mengatakan hal busuk seperti itu," kata Sugik marah.
"sudah kita bahas nanti, kalau boleh tau apa saja isinya, karena seharusnya ada beras,minyak, gila, kopi dan mie instan?" tanya Aris.
"tidak juragan, cuma beras, mie dan kopi," jawab bapak-bapak itu.
mendengar itu, Sugik langsung mencari sosok Sugeng yang selama ini dia suruh untuk menyalurkan bantuan.
Sugik tanpa ba-bi-bu, langsung menggedor pintu rumah pria itu, "Sugeng keluar!!!"teriak Sugik.
pria itu akhirnya menunjukkan dirinya, tanpa basa-basi sebuah bogem mentah di layangkan Sugik ke wajah pria itu.
"berani-beraninya kamu menipu semua orang, dan menyalah gunakan kepercayaan juragan Aris, kamu tau hukuman untuk itu,kau harus mati!!" teriak Sugik.
"ampun mas, ampun mas, saya khilaf mas," kata Sugeng.
Sugik mengikat tangan dari pria itu dan menariknya ke tempat para orang tadi.
Aris tersenyum melihat Sugeng yang di tarik oleh Sugik, "juragan Aris, saya mohon ampun juragan, saya di bayar oleh juragan Widodo untuk mengatakan semuanya, dan aku juga mengambil dan menjual sendiri bantuan yang anda kirimkan pada warga di dusun ini," kata pria itu ketakutan.
__ADS_1
"sekarang kebalikan hak mereka, atau aku akan buat kamu tau,apa yang akan di dapat dari berani menghianati ku, Sugik!!!" terbaik Aris.
tanpa terduga Sugik menendang pria itu hingga tersungkur, "kalian semua tau jika aku tak suka di bohongi, terlebih kamu berani memakan hak orang yang membutuhkan," kata Aris dingin.