
Aris masih bersama pak Bambang dan Eko untuk menata sapi-sapi yang baru datang.
Aris pun tak segan untuk menuntun sapi itu menuju ke kandang Bayu dan langsung menyiapkan pakan juga.
"juragan lebih baik pula g dulu deh, takutnya nanti Bu bos juragan nyari lagi," kata Eko Nyang setelah semuanya selesai.
"meski tak kamu kasih tau, saya juga akan pulang orang semuanya sudah selesai," jawab Aris yang kesal sendiri.
Eko hanya tertawa, entahlah mengganggu Aris sekarang adalah kesukaannya.
Aris langsung naik motornya dan pulang ke rumah, tapi sebelum pulang Aris melihat penjual putu di pinggir jalan.
"mas beli," panggil Aris yang menghentikan motornya.
"iya mas, mau beli berapa?" tanya penjual kue putu.
"sepuluh ribu ya mas, tapi makan disini ya," kata Aris yang memilih duduk di atas motornya.
Aris pun benar-benar menikmati momen itu saat ini, entahlah dia begitu menyukai rasa manis akhir-akhir ini.
saat akan membayar ada beberapa anak yang datang tapi tak membeli, Aris melihat kedua bocah itu.
"mas mau itu," kata gadis perempuan itu.
"nanti ya kalau mas ada uang, sekarang ikut mas temui paklek dulu," jawab bocah laki-laki itu.
Aris sadar jika kedua anak itu membawa tas di punggung mereka. "bang buatkan sepuluh ribu lagi," kata Aris.
"adek-adek ini mau kemana? ini sudah hampir malam loh," tanya Aris heran pada kedua bocah itu.
"kami pingin jerunah paklek kami om, tapi ayah tiri kami tadi meninggalkan kami begitu saja, dia bilang jika rumah paklek kami sudah dekat," jawab bocah laki-laki itu.
"duduk dulu, nanti om antar, tapi siapa nama paklek kalian berdua? terus kok ayah kalian tak nganter sampai rumah paklek sih?" tanya Aris yang berusaha untuk berkomunikasi.
"juragan ini Putunya," kata penjual kue itu.
"ini sambil cerita kalian makan dulu, om traktir," kata Aris yang memberikan uang pada penjual putu yang kemudian pergi.
"ayah takut karena paklek begitu benci ayah," jawab gadis kecil itu
"terus ibu kalian kemana?" tanya Aris lagi.
__ADS_1
"ibu di Arab Saudi, dan kami cuma di berikan alamat ini dari ayah tadi," kata bocah itu memberikan secarik kertas pada Aris.
Aris pun membaca alamat itu, memang itu benar desanya tapi itu adalah alamat kelurahan.
dan saat Aris membuka kertas itu lagi ternyata sudah ada sebuah surat yang tertulis di sana.
"tolong jika siapapun yang menemukan anak-anak ini, saya sudah tak sanggup membiayai mereka, terlebih ibu mereka juga tak mengirimkan uang, jika tak ada yang mau antar mereka ke panti asuhan," lirih Aris membaca isi surat itu.
"ternyata mereka berdua di buang oleh ayah tiri mereka," batin Aris merasa sedih.
apalagi terlihat keduanya begitu lahap memakan jajanan itu. bahkan dari pakaian juga terlihat begitu lusuh.
"kalian mau gak ikut om dulu baru besok kita ke rumah paklek kalian mencarinya," ajak Aris.
"beneran om, tapi kami tak merepotkan kan?" tanya bocah laki-laki itu.
"tidak nak, sekarang kita pergi ke rumah om ya," kata Aris yang membantu gagis kecil itu duduk di depan motor.
sedang bocah laki-laki itu di belakang, pasalnya Aris membawa motor trail jadi sedikit sudah, tapi beruntung rumahnya sudah tak jauh.
ayu yang tengah menunggu Aris kaget melihat suaminya itu membawa dua anak yang tak dia kenal ke rumah.
"kalian cuci kaki dulu baru masuk ya," kata Aris yang memberikan sebuah surat pada ayu.
tapi di buang seperti ini sangat menyakitkan terlebih kedua bocah itu masih sangat kecil.
"masuk dulu yuk, perkenalkan nama Tante Ayu ya, kalian namanya siapa?" tanya ayu yang menghapus air matanya.
"saya Firza dan ini adik saja Zahra," jawab bocah berusia sembilan tahunan itu.
"Tante kenapa menangis?" tanya gadis kecil itu.
"mata Tante kelilipan nak, ayo masuk dan kalian harus mandi supaya bersih dan gak sakit ya," kata Ayu.
Aris tak mengira jika istrinya itu begitu baik menerima anak yang bahkan di bawa Aris tanpa tau siapa keluarganya.
Aris menelpon Sugik dan Eko untuk datang ke tempatnya segera, sedang di kamar tamu.
ayu masih merasa kasihan saat melihat kedua anak itu, bahkan baju yang di bawa oleh mereka begitu lusuh dan tak layak pakai.
ayu memutuskan menelpon pemilik toko baju yang ada di desa dan meminta dia membawa beberapa baju ke rumah.
__ADS_1
Aris membawa baju pesanan ayu yang baru saja di antarkan karena ayu memintanya dengan cepat.
"Zahra dan Firza kalian pakai baju ini ya," kata Ayu yang memberikan dua pasang baju itu.
"wah baju baru kak," kata gadis kecil itu terlihat begitu bahagia.
ayu pun membantu Zahra berpakaian, bahkan setelah mengeringkan rambut gadis kecil itu.
ayu membantunya menguncir dua, dan untuk Firza sudah di ajak Aris untuk keluar.
"wah Zahra sudah cantik," kata Ayu.
"terima kasih Tante, bajunya bagus, Zahra tak pernah punya baju seperti ini," jawab gadis kecil itu.
mereka pun keluar dan makan di meja, tapi yang membuat Aris dan ayu terkejut adalah.
sosok Firza yang mengambil nasi dan tempe kemudia mengajak Zahra menjauh dan makan sepiring berdua.
"kalian ngapain di sana nak, makan di sini bareng kami," panggil Aris.
"tidak om, kami terbiasa makan seperti ini," jawab Firza.
Ayu pun tak bisa menahan air matanya lagi, dia pun langsung memeluk keduanya dengan erat sambil menangis.
Aris tak mengerti apa yang sudah di lalui oleh dua bocah ini, hingga makan saja mereka harus berbagi seperti ini.
"jangan di lantai nak, duduk di meja dan kalian harus makan dengan benar supaya bisa cepat tumbuh besar ya," kata Aris mengusap kepala keduanya.
keduanya pun menurut ayu menyuapi Zahra, sedang Aris meyakinkan pada Firza jika semuanya baik-baik saja.
setelah makan, ayu menemani Zahra menonton hingga ketiduran.
Aris sempat memindahkan gadis itu ke kamar, Firza juga di sana menemani adiknya.
sedang ayu kini bersama dengan Aris, Eko dan Sugik, "bagaimana apa kalian sudah mengetahui siapa dari kedua anak itu?" tanya Aris.
"sudah bos, aku berhasil melacaknya dari data di beberapa desa, dan tadi kaki kesana dan mencari tau, jika ibu mereka memang sudah bekerja di Arab Saudi, dan sudah tak ada kabar, dan untuk ayah tiri mereka sudah kabut entah kemana juga karena kasus penipuan," terang Eko.
"apa tak ada saudara?" tanya ayu.
"tidak ada Bu bos," jawab Eko.
__ADS_1
tanpa mereka sadari dari tadi Firza terus memperhatikan mereka, bahkan dia mendengarkan Semuanya.