Aku Padamu, Juragan Aris

Aku Padamu, Juragan Aris
bisa sakit?


__ADS_3

Aris sudah memegangi kepalanya, sedang Sugik turun dan terlihat marah.


Aris merasa jika tubuhnya tiba-tiba terasa begitu tak bertenaga, Sugik kembali kedalam mobilnya.


"ada apa, kenapa mereka berdiri di tengah jalan, suaramu begitu keras," kata Aris yang masih menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


"mereka sedang melakukan ritual, entah apa itu, tapi akhirnya mereka mau minggir bos," jawab Sugik yang mulai menjalankan mobilnya.


tapi tidak ke arah depan, melainkan mundur dan putar balik, Aris bingung pada anak buahnya itu.


"loh bukannya tinggal baju, kenapa putar balik," tanya Aris yang bingung.


"daripada kenapa-kenapa, orang mereka seperti pemuja setan begitu," jawab Sugik yang langsung menancap gas untuk pergi.


mobil mereka pun berputar cukup jauh tapi tak masalah dari pada nanti terjadi sesuatu.


pukul sembilan malam mereka pun baru sampai rumah, terlihat rumah masih ramai karena besok acara tingkepan.


Aris terlihat kelelahan, ayu menyapa suaminya yang baru mencuci kaki dan tangannya.


"mas sakit?" tanya ayu khawatir.


"sepertinya, mas kurang enak badan dek," jawab Aris yang terlihat lemas.


"sekarang mas masuk dan mandi air hangat, setelah itu aku pijitin ya," kata ayu yang di angguki oleh Aris.


setelah mandi air hangat, Aris memilih merebahkan diri di ranjang, ayu datang dengan wedang jahe hangat.


dia pun langsung memijat tubuh Aris, meski pijatannya tak profesional, tapi ayu berusaha untuk membuat suaminya itu sedikit merasa enakan.


Aris tertidur dengan pulas, dan air jahe khusus juga sudah di minum, dan kini ayu turun untuk melihat semua persiapan.


"bagaimana suamimu nduk?" tanya pak Mun.


"Alhamdulillah sudah tidur Mbah, sepertinya dia benar-benar kelelahan," jawab ayu


semua pun mengerti, terlebih Aris yang memang begitu sibuk, begitupun dengan Eko dan Sugik.


Ayu juga membuatkan minuman hangat untuk keduanya, terlebih dia tak ingin semua orang menjadi sakit karena kelelahan.


pukul sebelas malam, hanya tinggal Eko dan Sugik, serta Feli dan Ambar yang tinggal di rumah ayu.


mereka pun juga sudah beristirahat di kamar, sedang ayu masih membereskan beberapa hal kecil.


pak Mun yang melihat cucunya itu pun meminta ayu istirahat, "sudah, besok banyak yang bisa bereskan, sekarang kamu tidur dan ingat kamu juga harus jaga kesehatan," kata pak Mun mengingatkan.


"inggeh Mbah, ayu mengerti," jawabnya yang langsung naik ke lantai dua.

__ADS_1


Aris terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya, mungkin pria itu benar-benar kurang istirahat.


*****


keesokan harinya, semua orang sudah sibuk, Aris, Sugik dan Eko nampak sudah semangat dan tak terlihat lelah lagi.


Feli sampai di buat heran oleh kakaknya yang telihat begitu semangat.


"mbak ayu, kemarin di kasih minum apa, kok sekarang mas Sugik begitu semangat?" tanya Feli penasaran.


"enggak di kasih apa-apa, hanya saja wedang jahe biasa, jadi tak perlu heran begitu," jawab Ayu tertawa.


Aris, Sugik dan Eko sedang memasang tenda membantu yang lain.


hari ini semua usaha milik Aris libur seluruhnya, tapi penjagaan tetap di lakukan oleh beberapa karyawan.


terlebih semua tau apa yang terjadi di tambak yang gagal panen karena sabotase.


"aku tidak melihat pak Edi?" tanya Aris


"dia sedang di gudang juragan, terlebih mereka semua tetap jaga meski sudah di beri libur, mereka bilang, takut kejadian di tuban terjadi di sini," jawab Sugik.


"ha-ha-ha, ya sudah tetap berikan gaji mereka saja, bagaimana pun mereka sudah bekerja dengan tulus," jawab Aris


Sugik pun mengangguk, Eko datang membawa kue yang tadi sudah di ambil dari toko roti.


"sudah Juragan, beh... di kasih bonus lima Karena pesan dua ratus lima puluh roti," jawab Eko.


"baiklah, bawa masuk dan cepat bantu kami, terlebih ini sudah hampir siang," jawab Aris.


semua persiapan berjalan dengan baik, pengajian acara tingkepan berjalan dengan lancar, bahkan undangan cukup banyak yang di undang.


setelah acara selesai, mereka semua pun membagikan bingkisan yang sudah di siapkan.


Feli membersihkan rumah bersama Bu Tini dan Bu Edi, ayu juga sudah menyiapkan amplop untuk keduanya.


"beres... akhirnya rumah sudah beres," kata Feli.


ayu tersenyum melihat gadis itu, bahkan Feli langsung duduk dan memeluk ayu.


"senengnya punya mbak sebaik mbak ayu," kata gadis itu dengan senyum yang mengembang.


"aku juga senang bisa punya adik seceria dirimu, ingat jangan hilangkan senyum itu," kata ayu.


"baiklah Mbak ayu, aku janji," jawab Feli.


ayu pun memberikan amplop itu pada Bu Tina dan Bu Edi yang sudah membantunya.

__ADS_1


Bu Edi akan bekerja di rumah ini terlebih setelah ini ayu juga akan melahirkan, dan Feli belum memiliki keterampilan atau pemahaman tentang wanita yang melahirkan.


jadi Aris meminta tolong pada wanita itu, dan beruntung Bu Edi mau melakukannya.


setelah acara di rumah Aris selesai, mulai terdengar suara cek sound, ya hari ini semua warga akan menikmati waktu pesta rakyat.


Aris dan semua pergi ke acara itu, terlebih Aris adalah salah satu tamu undangan.


ayu mengenakan baju yang cukup tebal, terlebih hawa malam ini cukup dingin.


Feli dan Ayu terus berjalan bersama dan melihat-lihat para penjual yang sedang mengelar dagangannya.


mereka berdua bahkan bermain beberapa permainan yang tersedia, Aris hanya melihat keduanya dari kejauhan.


"Sugik terus awasi keduanya, kamu tau jika semua musuh kita tak sedikit," pesan Aris yang tak ingin terjadi apa-apa pada istrinya itu.


"saya mengerti bos, sekarang anda bisa pergi menemui pak haji dan yang lain," jawab Sugik.


"baiklah, aku percaya padaku," kata Aris yang langsung pergi.


Sugik langsung mendekat kearah keduanya, dan ikut bermain, Feli mengerti saat kakaknya itu membisikkan sesuatu.


Feli memberikan jempolnya, Sugik pun ingin memancing musuh dengan sedikit menjauh.


sedang saat Aris sampai di tempat para tamu undangan, terlihat semua orang ada di sana.


Priyono dan pak haji langsung menyapa sosok Aris yang begitu di tunggu.


"Alhamdulillah... akhirnya juragan bisa datang, ku kira anda tak bisa hadir, tapi di mana ibu juragan kok datang sendiri?" tanya pak haji.


"masih jalan-jalan pak haji, biasa dia selalu suka melihat penjual saat ada pesta rakyat seperti ini," jawab Aris.


"baiklah, duduk dulu mas, mungkin sebentar lagi acara di mulai," kata pak haji mempersilahkan aris.


"awas ibu juragan hilang nanti," kata pak Jatmiko yang mendukung pak Hartono.


pria itu masih belum rela jika orang yang di dukungnya kalah, "wah kenapa anda tiba-tiba khawatir terhadap istriku, dia tak mungkin akan hilang di saat semua orang mengenalnya," kata Aris tersenyum.


"tapi di saat seperti ini tidak akan ada orang yang akan memperhatikannya, jadi itu mungkin bisa terjadi," kata pria itu dengan senyum yang menyeringai.


Aris sudah memperhitungkan segalanya, Sugik sedang merokok, Feli menyadari sudah di awasi setidaknya ada empat orang di sekitarnya.


dia memberikan kode pada Sugik dengan menyentuh kepalanya, Sugik pun mencari keempat pria itu.


dia pun memakai masker dan memakai jaket hitam dan topi, dan dengan diam-diam mulai bergerak, sedang Feli menyentuh senjata yang di bawanya.


dan siap melakukan apapun untuk melindungi Ayu, terlebih dia sudah mendapatkan kepercayaan dari Aris.

__ADS_1


__ADS_2