
pak Syamsir melihat ketiga anaknya yang tak ingin membantu dalam acara pernikahan Sugik, dia pun hanya bisa menghela nafas.
terlebih dia tau bagaimana sikap dari putra sulungnya itu, "kalian bertiga sudah bisa mandiri dan siap tak menerima bantuan dari kakak kalian sekarang,"
"apa maksud ayah, kenapa kamu begitu, kami tentu masih butuh bantuannya," jawab putranya itu
"tapi kalian hanya di mintai tolong seperti tadi saja tak mau, apa itu namanya saudara, tapi itu pilihan kalian, kalian juga tau bagaimana sikap kakak kalian, ayah sudah tak mau ikut campur karena dia pasti akan melakukan apapun keinginannya," kata pak Syamsir.
"ayah tolong jangan mengatakan itu, tolong jelaskan pada mas Sugik jika kami tak bisa ikut karena tak mengerti adat di sini," mohon anak perempuannya yang nomor empat.
"maaf ayah juga tak bisa, sekarang semua terserah Sugik, lagi pula dia akan menetap di sini," jawab pak Syamsir.
ketiganya kini terdiam, kesombongan mereka karena tak mau membantu acara pernikahan Sugik di bayar kontan.
semua usaha yang di jalankan oleh mereka mengalami masalah keuangannya, pasalnya Sugik meminta orang kepercayaannya menarik semua investasinya yang dia sembunyikan selama ini.
*********
Aris dan Ayu sedang bahagia menjadi orang tua, begitupun dengan Eko dan Ambar yang kembali mendapatkan kabar bahagia jika Ambar sudah hamil anak pertama mereka.
Eko benar-benar bahagia dan tak membiarkan istrinya itu untuk bekerja.
bahkan mereka mencari seseorang untuk membantu Ambar menjalankan tugas sehari-harinya.
sementara Sugik sudah seminggu ini belum bisa belah duren karena istrinya yang mendapatkan mens saat malam pengantin mereka.
siang itu Sugik, Eko dan Aris masih berada di gudang untuk muat, tapi tiga pria itu memilih duduk sambil memperhatikan mereka muat.
"jadi pengantin baru bagaimana rasanya belah duren?" tanya Eko.
"apanya, orang istriku masih kotor, jadi di tunda," jawab Sugik jujur.
"kasihan amat, ya gak papa lah, biasanya kalau begitu langsung jadi, terus nasib ketiga adik mu?" tanya Aris yang penasaran karena dia tau siapa Sugik.
"aku bereskan, sekarang membiarkan mereka bekerja sesuai dengan usahanya sendiri, karena aku muak melihat tingkah mereka bertiga," jawab Sugik.
"ya ku jamin sekarang mereka nangis darah, habis dapat sokongan dana besar, sekarang kembali ke nol," kata Eko.
"biarkan saja, biarkan mereka tau rasanya," jawab Sugik.
tak butuh waktu lama, tiga truk itu berangkat dan kini Eko yang pergi untuk mengantar gabah-gabah itu.
sedang Aris memilih duduk santai, "terus orang tuamu gimana? mau di sini atau pulang?" tanya Aris.
__ADS_1
"sebenarnya aku ingin mereka menetap di sini, tapi kata ayah mereka harus menyelesaikan beberapa masalah dulu baru bisa menetap disini," jawab Sugik.
"baiklah aku mengerti, oh ya jika istrimu sudah bersih langsung buat ramuan yang pernah Eko bahas, di jamin bulan depan langsung isi," kata Aris semangat
"mengerti juragan," jawab Sugik pasrah.
sore saat Eko datang mereka langsung menutup gudang dan mulai pulang, ternyata saat Sugik sampai rumah.
Diani baru saja selesai sholat, dan masih mengenakan mukena saat menyapa suaminya itu.
"loh dek sudah sholat?" tanya Sugik yang melihat istrinya itu.
"susah mas, dari tadi subuh," jawab Diani.
"innalilahi..." lirih Sugik.
"ada yang meninggal mas?" saut Diani.
"tidak sayang ku, sudah ayo masuk dulu, mas gerah ini," jawab Sugik.
setelah menyalami kedua orang tuanya, Sugik langsung mandi dan memilih untuk mandi.
setelah mandi dan sholat dia pun merebahkan tubuhnya di ranjang, dia ingat pesan Aris tapi dia takut untuk mencobanya.
"iya sayang," jawab Sugik.
Diani sudah membeli beberapa susu kaleng beruang dan akan mengikuti saran ayu.
karena Diani ingin segera memiliki momongan seperti halnya ayu, karena dia tau jika suaminya itu sudah cukup matang.
malam hari Sugik di berikan minuman yang di buat oleh istrinya secara spesial, dia pun tau itu adalah susu, telur dan madu.
ternyata Diani sudah minum terlebih dahulu, tapi tanpa telur di ganti kunyit sedikit.
"sayang kamu tau minuman ini dari mana?" tanya Sugik saat sudah habis meminumnya.
"dari mbak ayu, dia bilang jika ini baik jadi apa salahnya di ikuti saja," jawab Diani.
sugik tak mengira jika kedua pasangan itu benar-benar sangat kompak dalam membuat mereka malam pertama.
Sugik masih melihat beberapa pesan dari temannya, sedang Diani sudah berganti baju dengan baju yang cukup pendek dan terbuka.
"mas aku tidur duluan ya," pamit Diani yang naik ke atas ranjang.
__ADS_1
"iya dek," jawab Sugik yang kemudian melihat istrinya itu sedang melepas jubah satin dari baju tidurnya.
tak terduga Sugik langsung memeluk Diani dan melemparkan ponselnya ke sofa di kamar.
"mas, katanya masih kerja," kata diani yang terkejut mendapatkan peluang dari tangan kekar suaminya.
"aku bagaimana bisa bekerja jika melihat kamu secantik ini sayang,"bisik Sugik.
"maaf aku akan berganti baju kalau begitu," jawab Diani.
tapi Sugik menariknya dan menidurkan istrinya itu di ranjang, tanpa berlama-lama Sugik langsung mencumbu istrinya itu.
Diani hanya bisa mendesah dan menjambak rambut suaminya itu.
terlebih perasaan melayang dan tersengat secara bersamaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya membuat tubuhnya lemas.
Sugik tak mengira jika reaksi istrinya itu begitu menggairahkan, tanpa menunda lagi Sugik langsung bermain di lembah yang begitu indah.
bahkan lembah itu terlihat gundul, dan Sugik langsung menikmati setiap sentuhan itu.
"mas... aku mau pipis..." lirih Diani yang langsung lemas setelah mengatakan itu.
Sugik tersenyum karena tubuh istrinya yang sangat sensitif, Sugik pun sudah siap untuk penyatuan.
ternyata penyatuan itu sangat sulit, berkali-kali Sugik meleset, tapi dengan sekali hentak akhirnya dia pun berhasil.
Diani menutup mulutnya dan mencengkram sprei, dia tak ingin mertuanya sampai mendengar apa yang mereka lakukan.
Sugik pun mulai menikmati setiap pergerakan mereka, tak hanya itu Diani pun di buat lemas dan tak berdaya di bawah tubuh kekar suaminya.
Sugik pun menjatuhkan dirinya di sisi Diani saat sudah selesai, dia pun kaget melihat ada darah di adik kecilnya.
bahkan saat dia membantu istrinya juga menemukan darah di sana, "terima kasih sayang,"
Diani mengangguk lemah dan langsung tertidur karena lelah, sugik menutupi tubuh istrinya itu.
dia keluar untuk mencari cemilan karena tenaganya sudah habis dan perlu di isi lagi.
tak butuh waktu lama, ditempat lain hal yang sama terjadi,tapi setelah mereka selesai, Aris langsung menimang putrinya yang terbangun.
ingin rasanya ayu tertawa karena suaminya itu buru-buru karena takut Niken makin keras menangis.
"ya ampun sayang, biarkan ayah dan bunda membuat adik untuk mu, kenapa kamu malah bangun sih, tidur lagi ya," kata Aris.
__ADS_1
sedang ayu tertawa mendengar ucapan dari suaminya itu.