
Aris langsung pulang dari peternakan, dia merasa tubuhnya sekarang mudah sekali lemas.
Ayu baru saja pulang ke rumah bersama pak Mun, "Mbah, mau bikin pisang bakar gak?" tanya Ayu yang tiba-tiba ingin makan masakan itu.
"boleh nduk, kebetulan Mbah juga ingin, oh ya suamimu biasanya pulang kapan?" tanya pak Mun.
"paling sebentar lagi, dan paling langsung mencari air es, biasa terus bilang, sayang aku lemes," kata ayu menirukan suaminya.
pak Mun hanya tertawa, pasalnya Aris benar-benar seperti orang lain saat bersama ayu.
tak lama terdengar suara motor trail dari Aris, pria itu langsung masuk dan menuju ke dapur.
"sayang aku lemes, bikinin cemilan juga ya, mau kan..." kata Aris yang tak sadar ada pak Mun.
"Ita, sekarang je depan temenin Mbah ya, beliau dari tadi disini loh," kata Ayu.
"eh ... ada Mbah to," jawab Aris yang langsung keluar membawa air dingin.
"ya Allah maaf Mbah gak tau ada di sini, minuman dingin Mbah?" tawar Aris
"sejak kapan minum air dingin juragan?" tanya pak Mun.
"sejak cucu Mbah jadi istriku, terlebih dia yang pintar buat berbagai jenis makanan," Jawab Aris.
"Alhamdulillah kalau begitu, sekarang saya tenang, seandainya saya di panggil Allah pun saya sudah ikhlas karena ayu sudah ada yang menjaga," kata pak Mun.
"Mbah ngomong apa sih, ayu gak suka, ayu pingin Mbah ada dan bisa melihat anak-anak ayu besar," jawab ayu yang datang membawa cemilan.
"saya juga masih ingin pak Mun menemani saya, ya bagaimana pun pak Mun adalah orang yang membesarkan saya setelah orang tua saya meninggal jadi tolong tetaplah bersama kami," kata Aris memohon.
"iya iya, aduh Mbah jadi tidak enak nih, maaf ya membuat kalian jadi sedih begini," kata pak Mun.
keduanya pun memeluk pak Mun, pria itu tak mengira jika dua orang ini bisa menjadi satu.
setidaknya dia tak akan khawatir saat meninggal dunia karena Ayu sudah dapat pendamping yang sangat mencintai dirinya.
siang itu mereka berkumpul, Aris mengantar kakeknya itu pulang, terlebih dia kasihan kalau harus membiarkan pak Mun pulang jalan kaki.
Aris sampai di rumah kakek istrinya itu, "mampir dulu nak?" kata pak Mun.
"tidak usah Mbah, saya ingin tidur siang, maklum saya merasa begitu lelah," jawab Aris tersenyum malu.
"baiklah, aku mengerti," jawab pak Mun
__ADS_1
Aris pun pamit pulang, dia melihat pak Didik yang sedang ada di depan rumah bersama istrinya.
Aris menyapa keduanya, tapi dia tak berhenti karena dia sudah tak bisa menahannya lagi.
Aris sampai di rumah saat Ayu sedang menonton tv sambil duduk di atas karpet.
Aris langsung tertidur berbantal paha istrinya, ya dia tak bisa menahan kantuknya belakangan ini.
ayu pun mengusap kepala suaminya itu dengan lembut hingga akhirnya Aris tidur dengan sangat nyenyak.
ayu tersenyum melihat hal itu, pasalnya Aris selalu manja beberapa hari ini.
Aris terbangun dari tidurnya, dan tak mendapati istrinya, ternyata sudah jam setengah empat sore.
"sayang, kamu dimana?" tanya Aris yang baru bangun.
"aku di sini mas, aku baru selesai mandi, dan sekarang mas mandi ya, karena sebentar lagi semua orang akan datang untuk mengambil bonus, apa mas lupa," kata Ayu.
"baiklah sayang, tapi tolong buatkan kopi dan sesuatu untuk suamimu ini ya," mohon Aris yang memeluk tubuh Ayu dengan erat.
"baiklah mas suami, aku akan buatkan," jawab Ayu tersenyum gemas.
Aris mandi dan melihat ada tanah di rambutnya yang sedikit kotor, dia pun memilih untuk mandi besar.
Aris pun selesai dan kini turun dan menemui istrinya, "Monggo mas suami, di dahar," kata ayu.
"terima kasih sayang," jawab Aris.
tak lama sebuah mobil datang bertamu, ternyata itu adalah Raka dan Wulan yang datang berkunjung.
"assalamualaikum..." salam Wulan.
"waalaikum salam, mbak Wulan ya Allah, apa kabar, gak sangka mbak akan main kesini," kata ayu yang langsung cipika-cipiki.
"iya nih lagi pingin main, oh ya mas Raka bawa bambu kuning untuk kalian, entah katanya itu bisa membantu," jawab Wulan.
"aduh terima kasih ya mas Raka, Monggo masuk dulu, kebetulan aku juga baru selesai mandi," kata Aris.
"maaf ya aku datang malah bawa bambu kuning dan tanaman Bidara, karena aku merasa ada yang tak beres," jawab Raka.
"ya gak papa mas, tapi sebentar lagi ada beberapa pegawai yang datang untuk mendapatkan bonus, jadi mungkin mas gak akan nyaman," jawab Aris.
"gak papa, kami juga bisa menunggu kok," jawab Wulan.
__ADS_1
benar saja, Sugik dan Eko datang bersama rombongan anak buah di bawah naungan mereka.
Ayu memberikan amplop pada Eko dan Sugik,mereka pun langsung membagikan, Wulan tanpa sadar melihat ada seseorang yang memiliki aura hitam.
"tolong berhenti," kata Wulan yang langsung berdiri.
orang itu berlari ke arah ayu, tapi Wulan mendorongnya hingga terpental.
Raka langsung melindungi istrinya itu, semua pun mundur, "apa ini juragan?" kaget semua orang.
"Aris lindungi istrimu, karena dia ingin mengirimkan ilmu hitam pada janin kalian," kata Raka yang berdiri di posisi paling depan.
"ha-ha-ha, tak ku kira ada yang bisa mengetahui niatku," kata wanita itu berdiri dan membersihkan tubuhnya.
saat melepas topi yang di gunakan, Aris dan Wulan kaget. pasalnya itu
adalah Menik.
"apa, kenapa kamu ingin melukai anak kami," kata Aris tak percaya.
"karena aku tak suka dia jadi istrimu, atas dasar apa dia bahagia, padahal aku mencintaimu dari dulu, tapi kamu tak pernah melihatku," kata Menik dengan marah.
"hei jamu ternyata pria busuk ya, kenapa tak melihat wanita secantik ini," kata Raka menggoda Aris.
"hei mas seriuslah, atau aku akan menjewer mu," kata Wulan pada suaminya yang tak pernah bisa serius.
"karena aku paling tak suka wanita menganggu ku, dan hanya satu wanita yang bisa menyentuhku dan aku cintai, yaitu ayu, jadi perasaan mu itu tak berguna, dan aku tak suka jika ada orang yang memaksakan diri padaku," marah Aris.
"kalau aku tak bisa memiliki mu, aku akan membunuhnya dan begitupun selamanya, tak ada satu orang pun yang bisa memiliki mu, kecuali ak," kata Menik yang mencoba menyerang kembali.
tapi Raka memukulnya dengan bambu kuning, Menik pun jatuh kesakitan.
"kalau begitu biar aku yang hancurkan ajian milikmu, karena kamu sudah terlalu sering melukai banyak orang," kata Raka yang berjalan mendekat dan langsung membakar daun lontar yang ternyata berisi semua ajian milik wanita itu.
"tolong... panas!!!" teriak wanita itu.
daun lontar itu terbakar dengan cepat, Raka terus membaca dzikir, dan perlahan Menik pun pingsan.
bahkan wajah wanita itu perlahan berubah menjadi jelek seperti dulu sebelum membuka warung dan orang tuanya sebelum mati.
"tolong bagi yang sudah menerima uang bonus, bawa wanita itu pergi dari sini," kata Eko.
"baik mas Eko," jawab mereka.
__ADS_1