
Ayu memutuskan pulang setelah memastikan suaminya itu makan dengan benar.
sedang Aris menyalakan rokok milik Eko, "tumben bos, lagi depresi?" tanya Eko sedikit meledek, pasalnya pria itu memang jarang merokok.
"lagi pingin saja, bukan apa, di rumah tak mungkin terlebih istri sedang hamil juga," kata Aris.
"iya juragan, seandainya butuh teman untuk Bu bos, kebetulan adikku sedang ada di sini, setidaknya dia tak di rumah saja," kata Sugik.
"boleh saja, nanti sore ajak kerumah saja, biar ketemu ayu langsung, tapi ini bukan aduk mu yang bernama siapa itu," kata Aris mengingat nama saudara-saudara dari Sugik.
"Nina," kata Eko menyahut
"bukan juragan, ini Feli adik terkecil ku, karena dia tak suka di paksa dalam apapun, jadilah gadis ini lari hingga kesini," jawab Sugik.
"ya dia adik siapa? jadi tak kaget juga, ha-ha-ha," kata Aris dan Eko yang tertawa mendengar ucapan dari Sugik.
akhirnya mereka pun kembali bekerja, sedang Aris mengendarai sepeda motornya dan ingin menemui seseorang.
tapi orang itu sangat sulit di temui, dan Aris tak suka jika harus mencarinya di rumahnya.
terlebih dia tak menyukai tatapan mata dari cucu perempuan pria itu, jadi Aris memutuskan untuk duduk di dam di sekitar makam desa.
dia bahkan tadi membawa rokok Eko karena malas jika harus membeli di warung lagi.
dia menikmati rokoknya sendiri, dia sekarang memikirkan bagaimana dia bisa menjadi lurah.
padahal dia sendiri bukan orang yang baik atau bahkan orang yang pantas menjabat sebagai kepala desa itu.
tak terduga Mbah Sun malah datang menemui Aris, "ada apa juragan ada disini sendirian?" tanya pria itu.
"sedang menunggu Mbah Sun, karena jika aku ke rumah pasti tak akan ketemu, jadi saya lebih milih di dini toh Mbah Sun sering ke makam desa," kata Aris.
"iya dong, habis rindu istri saya, kenapa mau tanya kenapa saya mengusulkan untuk juragan yang di dukung semua warga desa untuk jadi kepala desa?" tanya pria itu.
"iya Mbah, kadang aku bingung kenapa harus aku, padahal banyak lagi orang yang lebih pantas di banding aku, terlebih sekarang saya juga mulai sibuk," jawab Aris.
__ADS_1
"Mbah yakin kamu bisa, jadi kamu itu pilihan terbaik." jawab Mbah Sun.
"baiklah jika Mbah bilang begitu, kalau begitu lusa saya akan ikut ujian dulu, batu setelah lulus saya akan melakukan kampanye," kata Aris.
"tak usah takut, aku yakin jika kamu akan jadi kepala desa yang baik, sudah pulang sana, ayu pasti menunggu mu," kata Mbah Sun.
"iya Mbah, iya, aku pulang dulu atau mau diantar sekalian juga," tanya Aris menawarkan diri.
"boleh dong, ya lumayan Mbah tak harus jalan kaki," kata Mbah Sun tertawa dan langsung naik ke motor milik Aris.
Aris pun mengendarai motor itu dengan sangat hati-hati, dan menuju ke rumah dari Mbah Sun.
tapi Aris tak membelokkan motornya ke rumah Mbah sun, pria sepuh itu turun di gapura depan rumahnya.
"ya terima kasih atas tukang ojek mahal ini, semoga keinginan satu desa di penuhi ya, juragan bisa mengemban tugas nantinya," kata Mbah sun.
"amiin ya Mbah, kalau begitu saja pamit," kata Aris.
"hati-hati di jalan," pesan Mbah sun pada Aris yang langsung pergi.
"aku baru dari rumah mbak Ambar, dan Alhamdulillah kondisinya sudah baik," jawab Ayu.
"ya sudah sekarang kamu mandi ya sayang, karena nanti akan ada tamu, yang akan jadi teman mu selama mas sibuk, ya kamu tau sendiri kampanye akan sangat menyibukkan mas," kata Aris.
"baiklah, aku mengerti mas, gak usah khawatir, yang penting mas harus fokus aku akan baik-baik saja," jawab ayu.
Aris juga akan meminta Raka untuk menjadi tim suksesnya, meski berbeda desa, setidaknya dia harus menyiapkan semuanya secara umum, bahkan dengan hal ghaib yang tak inginkan.
Raka dan Rafa setuju untuk membantu Aris, terlebih mereka juga akan mendapatkan Bayaran yang cukup banyak.
tapi dalan bentuk sembako yang akan di bagikan pada seluruh warga desa di tempat Raka dan Rafa.
ayu menemani Aris yabg sedang belajar, telebih banyak yang akan mencalonkan diri untuk jadi ktiama desa.
tapi Aris yakin semua pasti ada jatah dan takdir masing-masing, itulah kenapa dia tetap ingin mencobanya.
__ADS_1
"mas, pintar berbahasa Inggris, mas pintar dalam semua hal, jadi kenapa gugup," tanya ayu.
"aku memang pintar dalam segala hal, tapi aku jarang busa berpidato di depan semua orang," kata Aris menjelaskan.
"aku yakin mas bisa," kata Ayu meyakinkan suaminya untuk percaya diri
"ya aku bisa kalau harus membunuh orang, tapi tidak untuk berpidato, ya itu lebih mudah membuat kepala mereka pecah lebih mudah di banding dengan berbicara seperti orang bodoh," batin Aris.
Ayu tertawa mendengar itu, dia tak mengira kini juragan Aris bisa pusing hanya karena pilihan kepala desa.
terdengar suara ketukan pintu dari luar, Aris langsung bangkit dan membuka pintu.
"sore bos, nih aku bawakan adikku yang nakal minta ampun," kata Sugik bersama seorang gadis cantik.
"masuk, sayang keluar dong, ini ada tamu penting, teman untuk mu," kata Aris memanggil istrinya itu.
"iya mas," jawab Ayu yang datang membawa minuman teh kotak dan kue untuk tamu yang datang.
"wah siapa ini, kok begitu cantik?" tanya Ayu.
"ini adik saya Bu bos, kalau boleh, biarkan dia menemani anda selama juragan sibuk, ya lumayan lah dia bisa karate dan bisa jadi supir, dan biar tidak tidur Mulu di rumah, kasihan pak Mun," kata Sugik
"bang Sugik mah gitu, habis di Mbah gak ngebolehin aku melakukan apapun, jadi bukan salahku bukan," kata Feli.
"baiklah, mulai besok Feli datang dan temani aku di rumah, paling-paling ku keluar dari rumah juga jarang-jarang, jadi tenang saja," kata ayu.
"siap mbak ayu, dan jika mbak tak suka dengan orang mbak bilang y, biar aku beri pelajaran pada orang seperti itu,"kata Feli.
"bagus kalau begitu, sekarang Feli minta gaji berapa untuk jadi teman mbak ayu?" tanya ayu lembut.
"sehari Lima puluh ribu cukup mbak," kata Feli.
"baiklah kalau begitu, itu gaji mu ya, tapi mau di ambil setiap hari atau satu bulan sekali?" tanya Aris.
"sebulan saja juragan bos, kalau untuk sehari-hari aku bisa meminta uang dari kakak ku, toh dia tetap orang yang punya kewajiban untuk menjaga ku," kata Feli.
__ADS_1