
"Aku tidak mau tahu, bagaimana pun caranya kamu cari wanita ini. Siapa namanya dan dimana dia tinggal." Dannis memperlihatkan foto Aline di ponselnya yang ia ambil diam - diam di pestanya tuan Morgan waktu itu.
Ketika melihat foto Aline Sam tampak terkesiap, "Astaga bukannya ini Aline." gumam Sam.
"Aline adalah wanita baik - baik aku tidak rela jika boss mempermainkannya, lebih baik aku beritahu Aline saja." gumam Sam lagi, karena saat ini ia sudah berteman baik dengan Aline. Apa lagi setelah Sam mengetahui latar belakang Aline, ia semakin yakin Aline adalah wanita baik - baik.
"Baik boss segera saya cari tahu." ucap Sam ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Dannis masih terlihat minum beberapa teguk hingga ia sedikit mabuk. "Apa mau saya booking kan hotel boss ?"
"Aku tidak membutuhkan yang lain Sam, asetku membutuhkan rumahnya. Aku butuh gadis itu, kamu tahu dia cantik sekali. Meskipun dia galak tapi tatapan matanya itu sangat polos, aku sangat menyukainya ketika ia menatapku." Rancau Dannis sepertinya ia sudah mulai mabuk.
Tak lama kemudian Dannis tampak tak sadarkan diri dan Sam langsung memapahnya keluar dari bar tersebut.
Setelah sampai didalam mobil, Sam melajukan kendaraannya untuk mengantar bossnya ke Apartemennya, ketika Sam sedang fokus di balik kemudinya ia melihat mobil mewah dengan atapnya terbuka melintasi mobilnya.
"Bukannya itu Aline." gumam Sam kemudian ia mengikuti mobil tersebut, kebetulan arahnya sama dengan Apartemen bossnya.
"Jadi benar Aline juga tinggal disini." gumam Sam ketika ia melihat Aline juga memarkirkan mobilnya di Apartemen itu.
"Sam." teriak Aline ketika melihat asistennya bossnya itu keluar dari mobilnya.
Sam hanya menempelkan jari telunjuknya ke mulutnya, ia memberi isyarat agar wanita itu diam, kemudian ia memapah bossnya itu menuju lift Apartemen.
Aline tampak bingung tapi setelah tahu siapa yang bersama Sam itu kemudian ia memalingkan wajahnya. "Astaga ternyata si mesum itu tinggal disini juga." gumam Aline kemudian dia buru - buru pergi dari sana.
Keesokan harinya
"Apaaa." Aline berteriak nyaring sehingga beberapa karyawan di kantin itu menatap ke arahnya.
"Iya, boss menyuruhku mencari tahu tentangmu." ucap Sam setengah berbisik.
"Ya kamu pura - pura saja tidak tahu."
"Mana bisa begitu, selama ini jika boss memerintahkan sesuatu aku selalu dengan cepat membereskannya."
"Kamu tega aku dimangsa olehnya." Aline tampak memasang wajah mengiba.
"Tapi sepertinya bos jatuh cinta sama kamu." ucap Sam asal, karena ia juga belum yakin kalau bossnya itu bisa jatuh cinta, karena selama ini setiap kali berhubungan dengan wanita bossnya itu selalu dengan napsu bukan menggunakan perasaan.
"Apa, bossmu jatuh cinta. Bullshit." sahut Aline dengan sinis.
"Hey, dia boss kamu juga."
"Dia hanya menyukaiku ketika aku berpenampilan cantik, tapi kalau aku berpenampilan begini dia melirikku saja tidak." Aline merasa beberapa kali bossnya menghinanya karena penampilannya.
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana ?" sepertinya Sam sedang frustrasi.
"Awas saja kalau kamu memberi informasi sedetail mungkin ke boss." Aline sudah mencengkeram kera kemeja Sam.
"Astaga Aline. Kamu itu perempuan jangan seperti seorang kuli, kuat banget tenagamu." Setelah berhasil melepaskan tangan Aline Sam tampak menggerutu.
"Memang kamu tega teman kamu ini menjadi korban tuan mesum itu." Aline mendengus kesal.
"Ya tidak makanya aku harus bagaimana ?" tampak Sam mengusap wajahnya dengan kasar.
"Beritahu saja sedikit tentangku, tapi jangan sampai dia tahu tempat tinggalku."
"Kamu yakin ?"
"Tidak."
"Baiklah tenang saja, kamu pasti aman." Sam mencoba untuk menenangkan wanita di depannya itu.
Setelah menyelesaikan makan siangnya mereka kembali ke kantornya.
Beberapa saat kemudian Aline tampak sibuk memeriksa tumpukan berkas di depannya, tak berapa lama terdengar suara ketukan heels dengan nyaring. Aline melihat sosok wanita cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya sedang berjalan ke arahnya.
"Apa boss kamu ada nona ?" tanya wanita itu dengan senyum ramah ketika sudah berada di depan meja Aline.
"Sebentar nona saya hubungi beliau dulu." Aline segera mengangkat gagang teleponnya.
"Siapa." terdengar suara Dannis dari ujung telepon.
"Maaf dengan siapa nona ?" Aline menatap wanita tersebut.
"Stephanie." ucap wanita itu.
"Dengan nona Stephanie tuan."
"Suruh dia masuk." ucap Dannis kemudian ia menutup teleponnya.
"Silahkan nona." Aline beranjak dari duduknya dan membukakan pintu ruangan bossnya itu agar wanita tersebut masuk.
Tiga puluh menit kemudian wanita tersebut keluar dengan pakaian dan rambut sedikit berantakan dan lipsticknya sudah tidak semenor tadi. Wanita itu pergi tanpa ada senyuman di wajahnya seperti pertama kali dia datang.
"Tumben sebentar, apa boss bermain kasar hingga wajah wanita itu berubah jutek gitu, ngeri kali bossku ini." gumam Aline ia menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Kenapa Lin ?" tiba - tiba Sam sudah berada di meja kerjanya.
"Enggak apa - apa."
__ADS_1
"Aku ke tempat boss dulu ya." ucap Sam kemudian ia masuk kedalam ruangan bossnya.
Sampai didalam Sam melihat Dannis sedang menengguk minuman nya. "Ada masalah boss ?"
"Apa sudah kamu cari info tentang wanita itu ?"
"Belum boss, wanita itu terlalu misterius. Lagipula dia bukan asli negara sinikan, bisa jadi sekarang dia sudah kembali ke negaranya di Asia." ujar Sam berharap bossnya itu bisa berhenti untuk mencari keberadaan Aline.
"Aku tidak perduli sampai ke ujung duniapun akan ku cari gadis itu."
"Bukannya barusan ada nona Stephanie boss, biasanya dia bisa sangat memuaskan boss."
"Bahkan wanita itu pun tidak berguna sekarang." ujar Dannis ia tampak mengusap wajahnya dengan frustrasi.
"Masa aku harus bertanya langsung pada tuan Morgan, itu tidak mungkin banget." ucap Dannis.
"Benar boss kalau bertanya pada tuan Morgan, itu sama saja merendahkan harga diri boss."
"Nah itu kamu tahu, sekarang tunggu apa lagi cepat pergi dari sini dan cari dia."
"Baik boss, jangan emosi." Sam langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Gara - gara asetnya boss belum menemukan rumahnya, jadi aku yang repot begini." gumam Sam.
"Woi kenapa bengong begitu, kena marah sama boss ?" Aline menepuk bahu Sam ketika melihat laki - laki itu duduk termenung di sofa dekat meja kerjanya.
"Ini semua gara - gara kamu."
"Kok aku, memang apa salahku ?"
"Boss masih mencari keberadaan kamu, makanya aku yang kena semprot." ujar Sam setengah berbisik.
"Kamu bilang saja aku sudah kembali ke negaraku, gampangkan."
"Tidak segampang itu, dia tetap keukeh mau mencarimu."
"Baiklah kamu ulur - ulur saja, aku akan mencari cara lain. Mengerti !" Aline menatap tajam pria yang ada di depannya itu.
"Astaga kenapa aku seperti punya dua boss begini." gumam Sam.
"Baiklah, kalau boss sampai memecatku kamu yang bertanggung jawab."
"Tenang saja, kamu bisa kerja denganku. Bahkan aku bisa memberimu gaji lebih tinggi dari pria mesum itu."
Ehhmmm
__ADS_1
Terdengar deheman dari suara bariton Dannis. Aline dan Sam yang sedang melakukan konspirasi, seketika menoleh kearah bossnya yang sudah menatap tajam kearah mereka berdua.