
"Setelah Aline sadar nanti, lebih baik kamu berpisah dengan cucuku." ucap tuan Michael tegas hingga membuat semua orang yang ada di sana menatap tak percaya pada laki-laki tua itu.
"Kakek itu tidak mungkin, aku sangat mencintai Aline." protes Dannis tidak terima.
"Kalau kamu mencintainya, kamu tidak mungkin menyakitinya hingga cucuku dan bayinya hampir kehilangan nyawanya." ucap tuan Michael dingin.
"Dannis menyesal Kek, tolong jangan pisahkan saya dengan mereka. Pa, Mi tolong saya, saya minta maaf." Dannis mengiba, memohon pada kedua mertuanya.
"Semua keputusan ada di tangan Aline, minta maaf lah pada istri mu." ucap tuan Austin dengan menepuk bahunya beberapa kali.
Dannis terduduk di kursi, ia nampak memijat keningnya. Bagaimana kalau istrinya tidak mau memaafkannya dan meninggalkannya. Berpikir sampai sini, Dannis merasa frustrasi.
Satu minggu kemudian
Seminggu sudah berlalu, Aline belum juga bangun dari tidur panjangnya. Begitu juga dengan bayi laki-lakinya, masih berada dalam inkubator meskipun perkembangannya banyak kemajuan dan semakin sehat dan lincah.
Setiap hari Dannis sedikitpun tak pernah beranjak dari sisih istrinya, melihat wanita yang dia cintai terbaring lemah seperti itu membuatnya merasakan sakit yang sama.
"Nak, apa kamu tidak ke kantor. Sudah satu minggu kamu di sini, biar Mami dan Papa yang menjaga Aline." ucap Nisa ketika baru masuk ke ruangan di mana Aline sedang di rawat.
"Benar kata Mami mu, biar kami yang menjaga Aline. Perusahaan membutuhkan mu." ucap Austin mencoba meyakinkan.
"Tapi kalau istri saya bangun bagaimana Pa ?" Dannis enggan beranjak dari duduknya, tangannya masih menggenggam erat tangan istrinya.
Austin merasa ini seperti dejavu, 25 tahun yang lalu ia juga pernah mengalami hal ini. Disaat melahirkan Aline, istrinya juga koma selama tiga bulan dan selama itu pula ia tidak pernah beranjak dari sisihnya.
Jadi Austin sangat memahami bagaimana perasaan anak menantunya saat ini, jadi ia bertekad untuk memberinya dukungan penuh agar anak menantunya itu tidak terpuruk seperti dirinya dulu.
"Setiap saat kami pasti akan mengabarimu, lagipula dokter bilang Aline hanya shock berat, dia pasti akan cepat bangun." Austin menepuk beberapa kali pundak Dannis.
"Benar Nak, sepertinya kamu perlu mencukur rambutmu. Kamu tidak mau kan terlihat jelek ketika istri mu bangun dan melihat penampilan kamu seperti itu." ujar Nisa ketika melihat Dannis sangat berantakan, rambut mulai memanjang, jambangnya mulai lebat dan tumbuh sedikit kumis.
"Iya Mi, Aline tidak akan suka melihat kumis Dannis tumbuh." Dannis sedikit terkekeh ketika mengingat istrinya itu selalu protes jika ia sengaja membiarkan kumisnya tumbuh.
"Kalau begitu cepat bersihkan dirimu dan pergi lah ke kantor." perintah tuan Austin.
"Baik Pa, saya titip Aline." Dannis mengecupi wajah istrinya lalu ia bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Jangan khawatir soal kakekmu, Papa sudah bicara padanya."
"Terima kasih Pa." ucap Dannis, setelah berpamitan dengan kedua mertuanya dia berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Sesampainya di Mansion Ayahnya, Dannis langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia mengedarkan matanya ke seluruh penjuru kamarnya, biasanya setiap masuk kamar selalu ada Aline yang menyambutnya. Kini kamar tersebut nampak sepi dan itu membuat Dannis semakin menyesali segala perbuatannya.
Dannis segera membersihkan badannya setelah itu segera keluar dari kamarnya dan siap pergi ke kantornya.
"Kak Dannis ?" panggil Leon ketika Dannis sudah berada di ambang pintu.
Mendengar seseorang memanggilnya, Dannis segera memutar badannya. " Leon, kamu sudah pulang ?" Dannis berjalan ke arah adiknya kemudian segera memeluknya.
"Terima kasih kak, sudah merawat Leon selama di rumah sakit."
"Sudah seharusnya, aku lakukan dari dulu." sahut Dannis.
"Maaf gara-gara Leon, Aline jadi salah paham."
"Tidak apa-apa, aku yang salah harusnya bisa jujur dari awal."
"Terima kasih, tapi kamu lebih baik istirahat di rumah. Biar kesehatan mu pulih kembali."
"Leon sudah sehat kak, Leon sudah tidak ketergantungan obat itu lagi dan Hannah juga sudah merawatku dengan baik."
"Baiklah terserah kamu. Aku senang kamu sehat, kita akan mulai dari awal lagi menjadi keluarga yang bahagia."
"Terima kasih kak." Leon segera memeluk Dannis, bersyukur setelah semua masalah yang telah terlewati, akhirnya ia bisa berhubungan baik dengan kakaknya itu.
"Baiklah aku harus ke kantor dulu, kalau kamu sudah siap, pergilah ke kantor dan gantikan posisiku. Setelah istriku sembuh nanti aku mau liburan." ucap Dannis kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Leon yang belum sempat menjawabnya.
Tuan Nicholas yang melihat interaksi kedua anak laki-lakinya itu terlihat sangat senang, mungkin ini satu-satunya hal paling membahagiakan dalam hidupnya setelah istrinya meninggal dulu.
"Ayo, katanya mau jenguk kakak iparmu." tuan Nicholas menepuk bahu Leon dari belakang.
"Baik Pa." ucap Leon kemudian melangkahkan kakinya mengikuti tuan Nicholas yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Dengan di antar seorang sopir mereka pergi ke rumah sakit menjenguk Aline, sebelumnya Leon meminta Ayahnya untuk menjemput dokter Hannah di rumahnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera masuk ke dalam ruangan Aline. Sebenarnya tuan Austin dan tuan Michael tidak menyetujui jika Leon ingin menjenguk Aline, tapi dokter Hannah memastikan Leon sudah sembuh dan dokter Hannah yang akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan Aline.
Setelah mendapat persetujuan dari tuan Austin, Leon dan Hannah segera masuk ke kamar Aline. Nampak Aline sedang tertidur lemah di bangsal.
Leon berjalan mendekatinya nampak kesedihan di matanya. "Aline apa kabar, apa kamu marah sama kak Dannis dan tidak mau bangun-bangun." ucap Leon dengan memegang tangan Aline.
"Percayalah kak Dannis sangat setia dengan mu, ini semua salahku karena menginginkan kak Dannis untuk menjengukku setiap hari tanpa mau tahu bagaimana dengan keadaanmu." ucapnya lagi.
"Benar Aline, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Dannis, laki-laki yang ku cintai adalah Leon bukan Dannis. waktu itu kami di dalam mobil sedang membungkus kado buat Leon karena aku tidak sempat membungkusnya dan Dannis membantuku. Tolong percaya lah Dannis sangat mencintaimu, dunianya hancur kalau kamu meninggalkannya jadi bangunlah ku mohon." ucap dokter Hannah.
Mendengar penjelasan Leon dan Hannah, sepertinya Aline merespon dengan baik. Dia mulai menggerakkan jarinya. Dokter Hannah yang notabene nya seorang dokter segera memeriksa keadaan Aline.
Tak lama kemudian dokter yang di panggil oleh Leon segera datang dengan di ikuti oleh tuan Austin dan istrinya di belakang. Melihat Aline yang mulai membuka matanya, dokter Hannah segera mengajak Leon untuk keluar dari ruangan tersebut. Takut Aline akan shock kembali ketika melihat mereka berdua.
Ketika membuka matanya Aline melihat kedua orang tuanya dan ia langsung memanggilnya. "Mami, Papa." ucapnya kemudian ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut seperti sedang mencari seseorang.
"Suamimu, sebentar lagi datang sayang. Tadi Papa menyuruhnya pergi ke perusahaannya, karena sudah satu minggu dia selalu menjaga mu disini."
"Satu minggu ?" tanya Aline tak mengerti.
"Iya sayang, sudah satu minggu kamu koma." ucap Nisa dengan lembut.
"Anak Aline mana Mi ?" Aline memegang perutnya yang sudah rata.
"Anak kamu sehat sayang, tapi masih di inkubator, kata dokter besok sudah boleh pulang."
Aline terlihat senang tapi ketika mengingat sudah memergoki Dannis dan Hannah di dalam mobil waktu itu, Aline menangis histeris. "Dannis selingkuh Mi." jerit Aline.
"Kamu sudah salah paham sayang." ucap Nisa kemudian ia menceritakan semuanya hingga Aline merasa tenang kembali.
"Jadi Dannis nggak selingkuh Mi ?"
"Nggak sayang."
"Sayang kamu sudah bangun." teriak Dannis ketika baru masuk ke dalam ruangan tersebut, kemudian ia memeluk istrinya dengan erat dan menciumnya bertubi-tubi tak perduli ada mertuanya yang sudah menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya.
Aline langsung mendorong suaminya. "Pergilah Dannis, aku tidak mau melihatmu !!" jerit Aline.
__ADS_1