
"Sayang lagi apa ?" tanya Dannis siang itu ketika sedang berada di dalam mobilnya untuk pergi meeting bersama Sam.
"Lagi tidur." sahut Aline dari ujung telepon.
"Jangan bercanda dong sayang."
"Habis pertanyaan mu aneh, orang di kantor ya pasti kerja lah." celetuk Aline.
"Kenapa sih istriku ini gemesin banget, pengen tak gigit rasanya"
"Ya gigit aja tuh ponsel."
"Nantang nih sayang, ya udah aku ke kantormu sekarang ya." goda Dannis.
"Jangan." teriak Aline panik,.
"Kenapa ?"
"Bercanda tadi bang bule, bercanda."
Dannis terkekeh ketika mendengar kepanikan istrinya, membayangkan wajah istrinya yang merah merona karena malu pasti sangat menggemaskan.
"Sayang."
"Hmmm."
"Maaf ya kita tidak bisa makan siang bersama hari ini karena ada meeting mendadak, tadi aku sudah memesankan makan siangmu, mungkin sebentar lagi datang." ucap Dannis dengan kecewa.
"Iya nggak apa-apa, nggak usah repot aku bisa makan siang sendiri di Cafe dekat kantor." sahut Aline.
"No, aku tidak mengijinkan mu berkeliaran di luar. Aku nggak rela jika kamu di pandangi oleh laki-laki di luar sana." sahut Dannis.
"Berkeliaran, memang aku kucing." gerutu Aline.
"Kamu memang kucing kesayanganku sayang." ucap Dannis yang lolos begitu saja dari bibirnya yang tanpa ia tahu istrinya itu begitu geram.
"Ya aku memang kucing oren." cibir Aline.
"Kamu benar-benar lucu seperti kucing sayang." ucap Dannis terkekeh.
"Belum tahu dia, bagaimana lucunya kucing oren." gerutu Aline lirih.
__ADS_1
"Kamu bicara apa sayang ?"
"Eh nggak, ya sudah aku lanjutin kerja dulu ya."
"Baiklah, nanti sore aku akan menjemputmu." ujar Dannis lalu mematikan panggilannya.
"Boss." panggil Sam dari balik kemudi ketika Dannis baru selesai menelepon istrinya.
"Hmm."
"Bagaimana proyek dengan Armand lanjut atau tidak ?"
"Sebenarnya malas kerja sama dengan dia, tapi proyek ini keuntungannya sangat besar sayang kalau di lewatkan."
"Jadi kita lanjutkan ?" tanya Sam memastikan.
"Aku mau lihat bagaimana dia memohon padaku." ujar Dannis dengan senyuman menyeringai.
"Baik boss." sahut Sam yang terus melajukan mobilnya menuju sebuah hotel tempat meeting diadakan.
Hingga sore harinya Dannis baru selesai meeting, dengan di antar Sam ia menuju kantor Aline.
"Boss tidak masuk ?" tanya Sam ketika sudah memarkirkan mobilnya di depan kantor Aline tapi bossnya itu masih enggan untuk keluar dari dalam mobil.
"Bukannya itu Aline boss." Sam menunjuk seorang wanita bersama seorang laki-laki berada di seberang jalan, sepertinya mereka akan menyeberang.
Dannis yang melihat istrinya sedang bercanda gurau dengan seorang laki-laki tersebut nampak sangat geram.
"Dia siapa Sam ?" tanya Dannis dengan mata nyalang.
"Mana saya tahu boss, kenapa Boss tidak turun dan nanya sendiri saja." ucap Sam.
"Kali ini kamu benar-benar tidak bisa di andalkan." Dannis turun dari mobilnya, dengan tangan bersendekap ia sandaran di badan mobil menunggu istrinya yang berjalan ke arahnya.
"Memangnya aku ini dukun boss." gerutu Sam yang masih duduk di balik kemudinya.
"Bang bule, dari tadi ?" Aline terkejut ketika melihat suaminya sudah menunggunya.
"Habis darimana ?" tanya Dannis penuh selidik.
"Habis ngopi di Cafe seberang." sahut Aline santai tapi ketika melihat raut wajah suaminya yang tidak bersahabat, dia buru-buru mengenalkan laki-laki yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Sayang kenalin dia Sanjaya, ponakannya Om Wira."
Sanjaya langsung mengulurkan tangannya tapi Dannis sama sekali tak menghiraukannya. "Ayo pulang !!" seru Dannis yang langsung berjalan meninggalkan istrinya.
"Maafkan suamiku Jay, mungkin dia lelah." ucap Aline nggak enak hati.
"Nggak apa-apa mbak Al, sekarang pulang lah kasihan suamimu sepertinya dari tadi menunggu mu." ujar Sanjaya yang memang dari kecil sudah mengenal Aline meski tidak terlalu dekat.
"Baiklah." sahut Aline lalu bergegas menyusul suaminya yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Aline membuka pintu mobilnya, lalu duduk bersebelahan dengan suaminya. Setelah itu Sam mulai mengemudikan kendaraannya kembali.
"Bang bule dari tadi ?" tanya Aline yang melihat suaminya itu sibuk dengan ponselnya.
Tapi sedikitpun Dannis tak menghiraukan wanita yang sedang duduk di sebelahnya itu, sepertinya ia benar-benar cemburu melihat kedekatan istrinya dengan laki-laki lain.
"Sayang, kamu kenapa ?" Aline menggoyang-goyang lengan Dannis berharap suaminya itu mau menjawabnya, tapi na'as justru itu membuat ponsel Dannis terlempar jatuh.
"Sayang maaf aku nggak sengaja." Aline merasa bersalah ia buru-buru memungut ponsel tersebut tapi Dannis sudah mengambilnya duluan dan kembali memainkan ponselnya kembali.
Merasa di abaikan oleh suaminya, Aline berinisiatif untuk bertanya pada Sam. "Sam bossmu kenapa ?"
"Mungkin cemburu kali, melihat kamu berduaan dengan laki-laki itu." celetuk Sam sembari melihat reaksi Dannis dari balik kaca spion, bossnya itu nampak menatapnya dengan garang.
"Tapi Jay itu karyawanku, dia juga ponakannya Om Wira aku sudah mengenalnya dari kecil. Aku baru tahu kalau dia kerja di kantorku, sambil menunggu mu aku mengajaknya ngopi." ucap Aline mencoba meyakinkan suaminya.
"Sayang jangan marah dong." Aline memasang wajah mengiba dan itu membuat Dannis menjadi semakin gemas.
Dannis menangkup kedua pipi istrinya, lalu mengecup bibir ranumnya yang selalu membuatnya candu.
"Makanya jangan membuat suamimu ini cemburu, aku nggak suka kamu dekat dengan laki-laki lain meski itu hanya berteman. Tidak ada kedekatan seorang laki-laki dan perempuan yang hanya murni berteman, pasti salah satunya menyimpan perasaan."
"Tapi sayang.....hummmmp." Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi Dannis sudah melum😘t bibirnya dengan rakus hingga suara decakan memenuhi mobil tersebut.
"Cih, kenapa jadi adegan mesum begini sih padahal seru kalau melihat boss dan Aline sekali-kali berantem berasa nonton drama korea. Ini mah blue film, duh sepertinya habis ini aku harus pulang ke rumah Sofia." gerutu Sam yang melirik bossnya dari balik kaca spion.
"Dannis, kamu sengaja mau membunuhku ya ?" Aline tersengal-sengal ketika suaminya baru melepaskan ciumannya.
Dannis tertawa sarkastis ketika melihat bibir istrinya sudah bengkak karena ulahnya.
"Ini hukuman karena kamu sudah ketahuan selingkuh." sahut Dannis dengan senyuman menyeringai.
__ADS_1
"Siapa yang selingkuh ?" jawab Aline nyolot dan itu membuat Dannis semakin gemas lalu menciumnya sekali lagi, bukan hanya ciuman tapi salah satu tangannya juga meremas gundukan yang masih terbalut kemeja kerja tersebut dan itu membuat Aline melenguh.
"Sialan si boss, apa sengaja menjadikan ku saksi atas penanaman sahamnya." gerutu Sam lalu mengerem mendadak hingga membuat kedua insan di belakang itu kaget dan melepaskan panggutannya lalu menatap tajam ke arah Sam.