Aline Sang Pewaris

Aline Sang Pewaris
Aukhhhh, sakit


__ADS_3

"Nona cantik boleh aku duduk di sini ?" ujar pria itu yang seketika membuat Aline tercengang.


"Kak Leon ?" Sofia tampak histeris ketika melihat Leon duduk di hadapannya.


"Kamu mengenalnya ?" celetuk Aline, ia terlihat heran dengan sikap sahabatnya itu.


"Tentu saja, kak Leon ini cowok populer di kampus kita dulu." Sofia memandang Leon dengan penuh kekaguman.


"Oh." ucap Aline datar, karena sewaktu kuliah dulu dia tidak pernah mempedulikan yang lain kecuali belajar dan belajar. Hingga ia tidak mengetahui kalau Leon adalah cowok populer di kampusnya.


"Aline bagaimana kabar mu. Maaf ya kemarin tidak sempat menemanimu, kak Dannis memberiku banyak pekerjaan." ucap Leon.


"Hah kalian ?" Sofia tampak bingung dengan interaksi kedua orang di depannya itu.


"Dia adalah...." Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi Leon sudah menyelanya.


"Dia calon kakak iparku." sela Leon.


"Jadi kamu adalah adik tuan Dannis ?" tanya Sofia.


"Ya begitulah."


"Kenapa kalian kakak beradik tampan semua sih." ucap Sofia dengan gemas sendiri.


"Astaga sopi'ah kenapa mulut kamu tidak ada remnya, memuji pria di hadapannya langsung. Merendahkan harga diri perempuan saja." gumam Aline, rasanya ia ingin sekali melakban mulut sahabatnya itu.


"Tentu sa..." seketika Leon menghentikan ucapannya ketika matanya melihat Dannis dan seorang wanita baru saja duduk agak jauh dari mereka.


"Eh, bagaimana kalau kita cari Cafe lain aku akan mentraktir kalian ?" Leon melihat Aline dan Sofia bergantian, ia tidak ingin Aline kecewa ketika melihat kakaknya bersama perempuan lain.


"Boleh, dimana ?" Sofia tampak antusias.


Tapi tanpa Leon tahu, Aline juga menyadari keberadaan Dannis di Cafe tersebut. Ketika kedua mata mereka bertemu, Aline langsung membuang muka. Ada sedikit tidak nyaman di hatinya ketika melihat Dannis bersama wanita lain.


"Apa kamu akan melindungi kakak brengsekmu itu ?" gumam Aline, ia menatap Leon yang tampak gugup.


"Tidak perlu Leon, sepertinya aku juga mau pulang." Aline melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Baiklah." ucap Leon dengan kecewa.


"Dasar cowok brengsek, kemarin mengakui ku sebagai calon istrinya. Sekarang berkencan dengan wanita lain." gumam Aline, ia menatap sekilas Dannis yang sedang asyik berbincang dengan wanita tersebut.


"Aku pergi dulu ya, kalian lanjutin saja ngobrolnya." Aline beranjak dari duduknya kemudian pergi meninggalkan mereka.


Namun baru beberapa langkah ia berjalan, seorang pelayan tidak sengaja menabraknya hingga ia oleng dan terjatuh.


"Aukhhhh, sakit." teriak Aline seketika ia terduduk di lantai.

__ADS_1


"Maaf Nona saya tidak sengaja." pelayan itu tampak menyesal.


"Bagaimana keadaanmu, dimana yang sakit ?" Leon tampak khawatir, ia berjongkok untuk memeriksa kaki Aline.


Dannis yang sedari tadi diam - diam memperhatikannya, seketika ia beranjak dari duduknya dan segera menghampirinya.


"Apa kamu tidak apa - apa, sepertinya kamu terkilir. Ayo aku bawa ke rumah sakit ?" tanpa basa - basi Dannis langsung membopong Aline.


"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri !" Aline mencoba meronta agar Dannis menurunkannya.


"Diam dan menurutlah !" perintah Dannis tanpa mau di bantah.


Karena merasa malu dengan perhatian orang sekitar, mau tidak mau Aline menurut. Ia sembunyikan wajahnya di dada bidang pria tersebut. Hingga ia merasakan detak jantung Dannis yang tak beraturan bahkan aroma maskulinnya menusuk di hidungnya.


Merasa gadis yang ada di dekapannya itu menurut seperti anak kucing, Dannis tersenyum puas.


"Aku bisa bawa mobil sendiri, pergilah wanitamu sedang menunggumu di dalam !" ujar Aline ketika sudah berada di mobil Dannis.


Tanpa menghiraukan perkataan Aline, Dannis segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit terdekat.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai dan Dannis segera membawanya menuju UGD.


"Dok, kaki kekasih saya sepertinya terkilir tolong segera di obati !" ucap Dannis ketika mendudukkan Aline di atas ranjang.


Aline hanya bisa melotot menatap Dannis, "Sejak kapan aku menjadi kekasihnya ?" Batin Aline.


Melihat Aline yang pucat karena menahan sakit, Dannis merasa tidak tega. "Apa sakit banget ?" tanya Dannis dengan lembut.


"Hmm." Aline mengangguk.


"Tidak apa - apa semua akan baik - baik saja." ucap Dannis seraya mengusap lembut puncak kepala Aline.


Dokter yang melihat dua sejoli di depannya itu tampak tersenyum. "Kamu beruntung Nona, kekasihmu ini selain tampan ia juga sangat mencintaimu." ucap dokter tersebut.


"Dia..." Aline belum menyelesaikan perkataannya tapi Dannis sudah menyelanya.


"Saya yang beruntung Dok, kekasih saya ini wanita yang luar biasa." Dannis tersenyum manis pada Aline.


Beberapa saat kemudian setelah selesai diperiksa, Dannis segera mengantarkan Aline pulang ke Apartemennya.


"Terima kasih, sekarang pulanglah aku bisa sendiri !" ucap Aline ketika sudah berada di Apartemennya, ia berjalan tertatih untuk membuka pintu.


"Aku akan membantumu." ucap Dannis, ia menahan lengan Aline.


"Aku baik - baik saja, pergilah kekasihmu pasti sedang menunggumu !" perintah Aline.


"Aku tidak mempunyai kekasih." ucap Dannis dengan tegas.

__ADS_1


"Kamu berkencan dengan banyak wanita, apa mereka bukan kekasihmu ?" Aline masih menatap Dannis dengan sinis.


"Apa kamu cemburu ?" Dannis merapatkan tubuhnya hingga menghimpit Aline di depan pintu Apartemen yang masih tertutup.


"Tidak." ucap Aline, ia membuang muka ke sembarangan arah agar tidak menatap laki - laki tersebut.


"Bagaimana kalau sekarang kamu menjadi kekasihku ?" ujar Dannis dengan memajukan wajahnya hingga aroma mint napasnya terasa menusuk di hidung Aline.


"Aku, menolakmu."


"Kalau begitu jadilah calon istriku ?"


"Berhentilah mengatakan itu, aku tidak mau jadi kekasihmu bahkan calon istrimu." Aline mendorong tubuh laki - laki itu, tapi sedikitpun tubuhnya tak bergeming. Bahkan sekarang Dannis sudah mencengkeram erat kedua tangan Aline.


"Tapi kenapa, beri aku alasannya ?" Dannis menatap tajam gadis yang beberapa senti di depannya itu.


"Bagaimana aku bisa menerimamu, wanitamu begitu banyak." batin Aline dalam hati.


"Tidak ada Alasan." sentak Aline, tapi seketika Dannis langsung membungkam bibirnya dengan ciuman. Bukan ciuman lembut yang Aline rasakan, tapi ciuman kasar dan menuntut.


Dannis menyesap dan ******* bibir mungil itu dengan brutal hingga nampak bengkak.


Plakkkkk


Aline menampar Dannis, setelah laki - laki itu melepaskan panggutannya.


"Apa kamu menyukai adikku atau asistenku, Sam ?" ucap Dannis dengan penuh emosi.


"Memang kenapa kalau aku menyukai Leon bahkan Sam, mereka orang baik."


Tanpa berkata kata Dannis berlalu pergi meninggalkan Aline yang masih berdiri mematung.


Dengan langkah gontai Dannis masuk ke dalam Apartemennya, seumur hidupnya baru kali ini ia menembak perempuan dan di tolak pula.


Sebenarnya apa istimewanya perempuan berkacamata tebal itu, pikirnya. Hingga membuat perhatiannya berpusat padanya bahkan ia rela mengabaikan wanita - wanita yang mengejarnya selama ini.


Keesokan harinya


Pagi ini Aline tidak masuk ke kantornya, ia merasakan kakinya sangat sakit. Setelah mengobatinya ia kembali tidur.


Beberapa saat kemudian terdengar suara bel pintu beberapa kali hingga membangunkannya dan dengan sedikit kesadaran ia segera beranjak dari tidurnya.


Dengan rambut masih acak acakan, celana pendek dan baju rumahan ia keluar dari kamarnya.


Dibukanya pintu Apartemennya. "Kamu ?" Dannis tampak shock ketika melihat penampilan Aline yang tanpa mengenakan kacamata tebalnya.


__ADS_1


__ADS_2