
"Sayang, kamu sakit ?" tanya Dannis siang itu ketika menjemput istrinya untuk makan siang.
"Nggak." sahut Aline beralasan, ia tidak mau membuat suaminya yang posesif itu menjadi semakin posesif.
"Wajah kamu pucat sayang." Dannis yang sedang duduk di balik kemudinya mengusap lembut wajah istrinya.
"Nggak apa-apa." Aline bersikeras padahal saat ini ia sedang merasakan pening di kepalanya.
"Kita ke dokter, ok." ucap Dannis tanpa mau di bantah, lalu ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Dannis langsung membopong istrinya ke ruangan dokter pribadinya. "Dannis, aku malu tolong lepaskan. Aku bisa jalan sendiri !!" Aline berusaha meronta tapi suaminya semakin erat membopongnya.
Tanpa antri dan permisi dia langsung membuka pintu ruangan dokter tersebut tak perduli di dalam ada pasien atau tidak.
Dokter yang bertugas di dalam hanya bisa berdecak kesal dalam hati, siapa yang berani memprotes pemilik saham terbesar di rumah sakit tersebut.
"Han, tolong periksa istriku. Kamu lihat kan wajahnya sangat pucat sekali !!" perintah Dannis dengan perasaan sangat khawatir, ia merebahkan istrinya di atas ranjang dengan pelan.
Dokter Hannah segera memeriksa Aline, setelah itu ia duduk lagi di kursinya. "Dia hanya kelelahan dan kurang istirahat." ucapnya dengan wajah sedikit jutek.
"Apa tidak ada kemungkinan dia sedang hamil ?" ucap Dannis yang begitu saja lolos dari bibirnya yang membuat Aline langsung memutar bola matanya menatap suaminya tidak percaya.
"Hamil ?" tanya dokter Hannah tanpa ekspresi.
"Tentu saja Han, kami sudah hampir satu bulan menikah bisa saja kan istriku sakit karena gejala kehamilan."
"Aku nggak hamil Dannis, aku hanya sakit kepala saja dari tadi." ucap Aline.
"Sepertinya istrimu hanya kurang istirahat dan asam lambungnya juga naik itu yang menyebabkan dia pusing, tapi kalau kamu masih belum percaya kamu bisa memeriksanya ke dokter ginekologi." ujar dokter Hannah.
"Tidak perlu dok, saya belum merasa kalau sedang hamil." tolak Aline, ia tidak mau kalau hasilnya tidak sesuai harapan dan itu pasti akan mengecewakan suaminya yang memang sangat menginginkan seorang anak.
"Tapi sayang..."
"Dannis, kamu dengar kan kata-kata dokter barusan, aku hanya kurang istirahat lagipula itu juga salah siapa." sindir Aline yang membuat Dannis nampak bersalah.
"Iya maaf." Dannis merengkuh istrinya ke dalam pelukannya dan itu membuat dokter Hannah yang menyaksikan kemesraan sepasang suami istri itu terlihat jengah.
"Ini ada beberapa vitamin yang harus di minum dan usahakan jangan tidur terlalu larut malam." sindir dokter Hannah sembari menyerahkan selembar kertas resep.
"Terima kasih dok." ucap Aline tapi dokter tersebut hanya menanggapinya dengan jutek.
__ADS_1
"Han, apa istriku tidak perlu di rawat ?" tanya Dannis memastikan.
"Istrimu hanya butuh istirahat Dannis, jangan terlalu berlebihan." sahut dokter Hannah kesal.
Aline yang menyaksikan interaksi suaminya dan dokter tersebut sedikit mengerutkan dahinya, Dannis terlihat sangat akrab tapi lain halnya dengan dokter wanita tersebut yang terlihat sangat jutek. Mungkin kah mereka punya hubungan di masa lalu, entahlah pikir Aline.
"Dannis, aku mau pulang."
"Baiklah, ayo !!"
"Kamu mau ngapain ?"
"Tentu saja menggendongmu seperti tadi sayang."
"Tapi aku bisa jalan sendiri." tolak Aline.
"Tanpa alas kaki ?"
Melihat kakinya yang telanjang, Aline terkekeh. Kemudian kedua tangannya melingkar di leher suaminya dan tanpa sengaja ia melihat kekesalan di raut wajah dokter Hannah ketika menatapnya.
"Manja banget sih istriku ini."
Aline sengaja mengeratkan pelukannya untuk menunjukkan suaminya itu hanya miliknya, meski ia belum yakin mereka ada hubungan sebelumnya. Karena masa lalu Dannis yang tidak bisa lepas dari wanita, yang sewaktu-waktu bisa muncul kapanpun.
Setelah keluar dari ruangan tersebut, Dannis membopong Aline menuju mobilnya. Ia begitu cuek meski banyak pasang mata yang menatapnya, baginya keselamatan istrinya lebih penting.
Setelah sampai mobilnya dengan pelan-pelan Dannis mendudukkan istrinya lalu memasang sefty belt dan menutup pintu mobilnya. Kemudian Ia berjalan memutari mobilnya dan segera masuk.
"Kita tidak menebus obatnya dulu ?" tanya Aline ketika suaminya sudah duduk di belakang kemudi.
"Biar Sam yang menebusnya."
"Apa masih pusing ?" tanya Dannis sembari mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala istrinya, tapi Aline buru-buru menepisnya.
"Kenapa sayang ?"
"Jangan dekat-dekat, kamu bikin aku tambah pusing." Aline merasa mual jika mencium bau maskulin suaminya.
Dannis yang melihat kemarahan istrinya secara tiba-tiba, sedikit berpikir. "Aku tidak ada hubungan apapun dengan Hannah." ucap Dannis, ia mengira istrinya marah karena itu sebab tadi dokter Hannah bersikap jutek padanya.
"Baguslah kalau kamu tahu." sahut Aline, padahal ia tidak terlalu memikirkan hal itu baginya suaminya sudah mengutamakannya itu sudah cukup.
__ADS_1
"Dulu Papa berniat menjodohkan ku dengannya, tapi aku menolaknya." ucap Dannis menjelaskan.
"Dokter Hannah sepertinya menyukai mu, apa kamu juga pernah tidur dengannya ?"
"Astaga sayang, aku cuma menganggapnya seperti adik sendiri."
"Nggak yakin." cebik Aline tapi itu justru membuat Dannis merengkuhnya dan membawanya ke pelukannya.
"Dannis, kamu bau banget aku jadi mual nih." Aline meronta.
"Aku sudah mandi sayang dan harum kok." Dannis mengendus kemejanya.
"Tapi kamu bau."
"Apa kamu masih marah karena Hannah, sudah ku jelaskan kami tidak mempunyai hubungan apa-apa." Dannis berusaha meyakinkan Aline, ia paling tidak bisa menerima penolakan dari istrinya karena baginya tubuh dan aromanya sudah membuatnya candu.
"Aku sangat lapar Dannis, bisakah kita mencari makanan dulu baru membahasnya lagi." pinta Aline.
"Baiklah, kamu mau makan apa ?"
"Nasi padang."
"Apa itu sayang, di sini mana ada makanan seperti itu."
"Itu enak sekali Dannis, apa lagi sambal ijo nya." membayangkan itu, Aline berkali-kali menelan ludahnya.
"Tapi mau beli di mana sayang ?" Dannis terlihat frustrasi dengan permintaan istrinya yang tak biasa.
"Tapi aku menginginkannya." Aline mulai terisak.
"Apa kamu mau pulang ke Indonesia, karena merindukan Papa dan Mami ?" tanya Dannis dengan kesimpulannya sendiri.
"Aku nggak mau pulang, aku hanya ingin makan nasi padang."
"Lalu mau beli di mana sayang." Dannis bertambah frustrasi, baru kali ini ia tidak bisa mengabulkan keinginan istrinya.
"Ya sudah aku mau pulang ke Apartemen, tapi buatkan ku telur fuyunghai seperti waktu itu."
"Apa kita tidak bisa makan di restoran saja sayang, aku banyak kerjaan di kantor. Nanti malam janji, aku akan membuatnya untukmu. ok ?"
"Baiklah." sahut Aline pasrah.
__ADS_1
"Senyum dong."
Aline memaksakan senyumannya, ia harus mencoba mengerti dengan kesibukan suaminya dan ia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba menginginkan sesuatu yang jelas tidak ada di negara itu. Entahlah.